Selama puluhan tahun, talas dan singkong sering kali dipandang sebagai komoditas “kelas dua” yang identik dengan kesederhanaan di pedesaan. Namun, di tangan seorang ahli teknologi pangan, bahan pangan lokal ini dapat bertransformasi menjadi produk gaya hidup yang berjejer di rak supermarket modern dengan label premium.
Transformasi ini bukan sekadar soal kemasan yang menarik, melainkan hasil dari sentuhan sains pengolahan dan strategi bisnis yang matang. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Teknologi Pangan didorong untuk melihat potensi besar di balik kekayaan bumi Indonesia ini. Melalui kreativitas dan riset, mereka belajar bagaimana menaikkan nilai jual komoditas mentah menjadi produk bernilai tinggi.
Mengapa Talas dan Singkong Punya Potensi Premium?
Talas dan singkong bukan hanya sumber karbohidrat, tetapi juga memiliki keunggulan yang sangat dicari oleh pasar global saat ini: bebas gluten (gluten-free). Seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pola makan sehat, permintaan akan camilan alternatif yang lebih alami dibandingkan berbahan dasar terigu semakin melonjak.
Namun, untuk mengubah bahan sederhana ini menjadi produk premium, ada beberapa aspek teknis yang harus dikuasai melalui ilmu teknologi pangan:
1. Konsistensi Tekstur dan Kerenyahan
Produk premium menuntut standar yang sangat tinggi. Mahasiswa mempelajari teknik pemotongan yang presisi dan pemilihan varietas yang tepat agar keripik yang dihasilkan tidak mudah hancur dan memiliki tekstur renyah yang konsisten dari awal hingga akhir produksi.
2. Inovasi Rasa dengan Bahan Alami
Premium berarti kualitas rasa yang autentik dan tidak “pasaran”. Alih-alih menggunakan penyedap rasa buatan yang berlebihan, inovasi dilakukan dengan menggunakan ekstraksi bahan alami, seperti rempah asli, bubuk keju murni, atau bahkan kombinasi rasa unik yang menonjolkan profil asli dari umbi tersebut.
3. Teknologi Pengemasan untuk Masa Simpan Panjang
Salah satu ciri produk premium adalah kemampuannya menjaga kualitas asli dalam waktu lama. Penggunaan teknologi pengemasan dengan injeksi gas nitrogen atau pemilihan material kemasan yang mampu menahan uap air dan oksigen sangat krusial. Hal ini memastikan camilan tetap segar, tidak tengik, dan tetap renyah meskipun sudah dikirim ke luar daerah atau luar negeri.
Mewujudkan Inovasi di Universitas Ma’soem
Proses mengubah bahan baku mentah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi merupakan inti dari pembelajaran di Universitas Ma’soem. Terletak di kawasan strategis Jatinangor-Sumedang, universitas ini memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk bereksperimen dengan potensi agrikultur lokal.
Mengapa Universitas Ma’soem menjadi tempat yang tepat bagi calon inovator pangan?
Fasilitas Laboratorium yang Representatif
Mahasiswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga langsung mempraktikkannya di laboratorium. Di sini, mereka bereksperimen dengan berbagai teknik pengolahan, mulai dari metode penggorengan vakum (vacuum frying) hingga pengeringan suhu rendah yang mampu menjaga nutrisi talas dan singkong agar tetap utuh tanpa merusak warna aslinya.
Pendekatan Kewirausahaan (Foodpreneurship)
Di Universitas Ma’soem, teknologi pangan tidak berdiri sendiri sebagai sains murni. Mahasiswa juga dibekali dengan ilmu bisnis dan manajemen. Mereka diajarkan cara mengurus perizinan produk (P-IRT, MD, hingga Sertifikasi Halal) serta bagaimana memposisikan produk di pasar agar mampu bersaing dengan merek-merek manufaktur besar.
Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan Lokal
Lokasi Universitas Ma’soem yang dikelilingi oleh area pertanian produktif memberikan kemudahan akses bagi mahasiswa untuk berkolaborasi langsung dengan penyedia bahan baku. Hal ini memungkinkan mahasiswa untuk melakukan riset mendalam mengenai rantai pasok dan cara meningkatkan nilai ekonomi hasil tani langsung dari sumbernya.
Masa Depan Camilan Lokal di Pasar Global
Inovasi terhadap talas dan singkong hanyalah pintu masuk. Dengan sentuhan teknologi pangan yang tepat, potensi pangan lokal Indonesia memiliki peluang besar di pasar ekspor. Camilan sehat dari singkong kini mulai menghiasi pasar mancanegara sebagai pilihan kudapan eksotis yang sehat dan ramah lingkungan.
Bagi generasi muda, ini adalah peluang karier sekaligus kesempatan untuk berkontribusi pada kemandirian pangan nasional. Anda tidak hanya menjadi pengusaha, tetapi juga ilmuwan yang memberikan solusi bagi penguatan ekonomi berbasis agrikultur.
Mengubah talas dan singkong menjadi camilan premium adalah bukti nyata bahwa dengan ilmu pengetahuan, keterbatasan bahan baku dapat diatasi. Teknologi pangan adalah jembatan yang menghubungkan hasil bumi sederhana dengan standar pasar modern yang kompetitif.
Jika Anda ingin menguasai ilmu pengolahan pangan dan bercita-cita membangun bisnis inovatif sendiri, Universitas Ma’soem menyediakan lingkungan yang disiplin, fasilitas yang memadai, dan bimbingan dosen yang ahli di bidangnya. Masa depan industri pangan kreatif dimulai dari langkah Anda hari ini.





