Saat membaca label kemasan makanan, kita sering menemukan istilah-istilah asing seperti natrium benzoat, lecitin kedelai, kurkumin, hingga aspartam. Bagi sebagian orang, deretan nama kimia ini sering dianggap sebagai sinyal bahaya. Muncul anggapan umum bahwa semua bahan kimia yang ditambahkan ke dalam makanan bersifat racun atau memicu penyakit kronis.
Namun, benarkah demikian? Sebagai konsumen yang cerdas, kita perlu membedakan antara mitos dan fakta ilmiah. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa program studi Teknologi Pangan mempelajari topik ini secara mendalam untuk memahami bahwa Bahan Tambahan Pangan (BTP) sebenarnya adalah instrumen penting dalam industri makanan modern, asalkan digunakan sesuai aturan.
Membongkar Mitos seputar Bahan Tambahan Pangan (BTP)
Mari kita lihat beberapa poin penting untuk menjawab keraguan masyarakat mengenai keamanan bahan tambahan pada makanan:
1. Tidak Semua BTP Adalah Sintetis (Buatan)
Mitos: Banyak yang mengira BTP selalu dibuat di laboratorium dan berbahaya. Fakta: Banyak bahan tambahan yang berasal dari sumber alami. Misalnya, pewarna merah dari buah bit, pewarna kuning dari kunyit (kurkumin), atau pengental dari rumput laut (karagenan). Bahkan, garam dan gula adalah bentuk tertua dari bahan tambahan pangan yang berfungsi sebagai pengawet alami.
2. BTP Berfungsi Menjaga Keamanan Pangan
Mitos: Pengawet hanya digunakan agar produsen untung karena produk tidak cepat busuk. Fakta: Pengawet justru melindungi konsumen. Tanpa pengawet tertentu, makanan yang didistribusikan dalam jarak jauh berisiko tinggi terkontaminasi bakteri mematikan seperti Clostridium botulinum. BTP berfungsi menghambat pertumbuhan mikroba dan menjaga agar nutrisi dalam makanan tidak cepat teroksidasi atau rusak.
3. Masalahnya Bukan pada Bahannya, Tapi pada Dosisnya
Mitos: Sedikit saja ada bahan kimia, maka makanan tersebut beracun. Fakta: Segala sesuatu, bahkan air sekalipun, bisa menjadi racun jika dikonsumsi berlebihan. Ilmu pangan mengenal istilah ADI (Acceptable Daily Intake), yaitu batas jumlah konsumsi bahan tambahan per hari yang dianggap aman seumur hidup. Selama produsen mengikuti regulasi BPOM, BTP tersebut aman bagi tubuh manusia.
Peran Ahli Teknologi Pangan dalam Mengawal Keamanan Produk
Di sinilah peran penting seorang lulusan Teknologi Pangan. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan bahwa industri tidak menggunakan BTP secara sembarangan. Ahli pangan bertugas menghitung dosis yang tepat, memilih jenis bahan yang paling aman, dan memastikan tidak ada penggunaan bahan berbahaya yang dilarang (seperti formalin atau boraks).
Menjadi Ahli Pangan yang Berintegritas di Universitas Ma’soem
Memahami kompleksitas bahan tambahan pangan membutuhkan latar belakang pendidikan yang kuat dan berbasis riset. Universitas Ma’soem (Masoem University) hadir untuk mencetak tenaga ahli yang mampu menyeimbangkan kemajuan industri dengan kesehatan masyarakat.
Mengapa Universitas Ma’soem menjadi tempat yang tepat untuk mempelajari Ilmu Pangan?
Fasilitas Laboratorium yang Lengkap
Di Universitas Ma’soem, mahasiswa tidak hanya membaca teori tentang zat aditif. Mereka terjun langsung ke laboratorium kimia dan mikrobiologi pangan untuk menguji kandungan dalam makanan. Mahasiswa belajar cara mendeteksi keberadaan zat berbahaya dan cara menghitung konsentrasi bahan tambahan secara presisi agar sesuai dengan standar keamanan pangan nasional maupun internasional.
Kurikulum yang Adaptif dan Modern
Kurikulum di Universitas Ma’soem dirancang agar mahasiswa peka terhadap tren global. Saat ini, tren dunia mengarah pada “Clean Label”, yaitu penggunaan bahan tambahan yang lebih alami dan minimalis. Mahasiswa diajarkan bagaimana berinovasi mencari pengganti bahan sintetis dengan bahan alami yang tersedia melimpah di lingkungan sekitar kita.
Pendekatan Profesionalisme dan Disiplin
Universitas Ma’soem dikenal dengan lingkungan kampusnya yang disiplin. Hal ini sangat relevan dengan dunia kerja di industri pangan, di mana ketelitian terhadap standar operasional prosedur (SOP) adalah harga mati. Mahasiswa dididik untuk memiliki etika kerja yang tinggi, sehingga saat bekerja di perusahaan atau membangun bisnis sendiri, mereka tetap mengutamakan keselamatan konsumen di atas keuntungan semata.
Dukungan Kewirausahaan (Foodpreneurship)
Bagi mahasiswa yang ingin berbisnis, Universitas Ma’soem memberikan bimbingan mengenai regulasi pangan. Banyak UMKM gagal karena tidak paham cara mencantumkan komposisi yang benar pada label. Di sini, mahasiswa dibekali ilmu cara mendaftarkan produk ke BPOM dan mendapatkan sertifikasi Halal, sehingga produk yang mereka ciptakan memiliki legalitas dan kepercayaan di mata publik.
Jadi, apakah semua bahan tambahan pangan itu berbahaya? Jawabannya adalah Fakta jika digunakan secara ilegal dan berlebihan, namun menjadi Mitos jika dikelola oleh tangan-tangan ahli yang berkompeten dan mengikuti regulasi. BTP adalah bagian dari kemajuan teknologi yang memungkinkan kita menikmati makanan yang beragam, praktis, dan tetap aman.
Jika Anda memiliki ketertarikan untuk menjaga kesehatan masyarakat melalui inovasi pangan dan ingin mendalami rahasia di balik komposisi makanan, Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai perjalanan profesional Anda. Dengan bimbingan dari pengajar yang ahli dan fasilitas yang mumpuni, Anda akan disiapkan menjadi ahli pangan masa depan yang mampu menjawab keraguan masyarakat melalui bukti ilmiah.





