Fortifikasi Pangan: Cara Teknologi Pangan Membantu Mengatasi Masalah Stunting

Masalah stunting atau tengkes masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dampaknya tidak hanya pada fisik yang pendek, tetapi juga pada perkembangan otak dan kecerdasan anak.

Di sinilah peran penting Teknologi Pangan muncul sebagai pahlawan melalui sebuah proses ilmiah yang disebut Fortifikasi Pangan. Di Universitas Ma’soem, topik fortifikasi ini menjadi bahasan serius dalam kurikulum teknologi pangan, karena merupakan solusi nyata untuk meningkatkan kualitas gizi bangsa tanpa harus mengubah pola makan masyarakat secara drastis.


Apa Itu Fortifikasi Pangan?

Secara sederhana, fortifikasi pangan adalah proses penambahan satu atau lebih zat gizi mikro (vitamin dan mineral) ke dalam bahan pangan yang umum dikonsumsi masyarakat. Tujuannya adalah untuk mencegah kekurangan zat gizi tertentu di populasi luas.

Fortifikasi berbeda dengan suplemen berupa tablet atau sirup. Karena zat gizinya langsung dimasukkan ke dalam makanan pokok, masyarakat tidak merasa sedang “berobat”, melainkan hanya makan seperti biasa namun dengan nilai gizi yang jauh lebih tinggi.


Bagaimana Teknologi Pangan Melawan Stunting?

Mahasiswa Teknologi Pangan mempelajari teknik-teknik khusus agar zat gizi yang ditambahkan tetap stabil dan tidak mengubah rasa makanan. Berikut adalah beberapa contoh nyata fortifikasi dalam melawan stunting:

1. Fortifikasi Tepung Terigu dan Beras

Bahan pokok seperti tepung terigu dan beras sering kali menjadi media fortifikasi. Penambahan zat besi (Fe), zink (Zn), asam folat, serta vitamin B1 dan B2 sangat krusial untuk mencegah anemia pada ibu hamil dan mendukung pertumbuhan sel pada anak.

2. Garam Beryodium

Ini adalah contoh fortifikasi tertua dan paling sukses. Penambahan yodium pada garam dapur terbukti efektif mencegah gangguan akibat kekurangan yodium yang bisa menghambat pertumbuhan fisik dan mental anak.

3. Minyak Goreng Bervitamin A

Teknologi pangan memungkinkan vitamin A ditambahkan ke dalam minyak goreng goreng sawit. Vitamin A sangat penting untuk daya tahan tubuh anak agar tidak mudah terserang infeksi yang bisa memperparah kondisi stunting.

4. Biofortifikasi

Selain penambahan saat pengolahan, ada juga teknik biofortifikasi yang dipelajari dalam kaitan agribisnis dan teknologi pangan. Ini adalah cara meningkatkan kandungan gizi tanaman melalui pemuliaan tanaman sejak di lahan pertanian, misalnya menanam varietas padi yang secara alami lebih tinggi kandungan zink-nya.


Peran Strategis Universitas Ma’soem dalam Penanganan Gizi

Menghadapi isu nasional seperti stunting membutuhkan tenaga ahli yang tidak hanya pintar secara teori, tetapi juga peka terhadap kebutuhan sosial. Universitas Ma’soem (Masoem University) hadir untuk mencetak lulusan Teknologi Pangan yang memiliki kompetensi tersebut.

Berlokasi di kawasan strategis Jatinangor-Sumedang, Universitas Ma’soem menawarkan lingkungan belajar yang sangat mendukung untuk mendalami sains pangan:

A. Laboratorium untuk Riset Formulasi Pangan

Mahasiswa Universitas Ma’soem diberikan akses ke laboratorium untuk melakukan praktik formulasi. Mereka belajar bagaimana mencampurkan zat gizi mikro ke dalam produk pangan lokal tanpa merusak warna, aroma, dan tekstur asli makanan tersebut. Ini adalah keterampilan kunci yang sangat dibutuhkan di industri manufaktur pangan saat ini.

B. Kurikulum Berbasis Masalah Nyata

Pendidikan di Universitas Ma’soem tidak bersifat menara gading. Mahasiswa diajak melihat masalah gizi di masyarakat sekitar Jawa Barat dan mencari solusi melalui inovasi produk pangan fungsional. Lulusannya disiapkan untuk menjadi konsultan atau ahli gizi di industri yang mampu merancang produk untuk segmen ibu dan anak.

C. Pembekalan Etika dan Tanggung Jawab Sosial

Dalam industri pangan, etika adalah segalanya. Universitas Ma’soem dikenal sangat disiplin dalam membentuk karakter mahasiswanya. Ahli pangan harus memastikan bahwa setiap zat gizi yang diklaim dalam label benar-benar ada di dalam produk. Kejujuran profesional ini sangat ditekankan agar lulusan Ma’soem menjadi tenaga kerja yang amanah dalam menjaga kesehatan publik.

D. Sinergi Agribisnis dan Teknologi Pangan

Universitas Ma’soem memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan pemahaman dari hulu (agribisnis) ke hilir (teknologi pangan). Mahasiswa belajar bagaimana memastikan bahan baku dari petani berkualitas baik agar proses fortifikasi di pabrik bisa berjalan maksimal.


Fortifikasi pangan adalah bukti nyata bahwa teknologi bisa menjadi solusi kemanusiaan. Dengan menambahkan sedikit zat gizi ke dalam makanan harian, kita bisa menyelamatkan generasi masa depan dari ancaman stunting.

Jika Anda memiliki ketertarikan untuk berkontribusi bagi kesehatan bangsa dan ingin mendalami bagaimana sains bisa memperbaiki kualitas hidup masyarakat, Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai. Dengan fasilitas modern, bimbingan dosen yang kompeten, dan budaya kampus yang positif, Anda akan dipersiapkan menjadi ahli teknologi pangan yang berdampak nyata bagi Indonesia.