Saat Anda berdiri di depan lemari pendingin supermarket, Anda mungkin melihat berbagai macam minuman kemasan, mulai dari susu, sari buah, hingga teh siap minum. Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa beberapa produk harus disimpan di lemari es dan hanya bertahan beberapa hari, sementara produk lainnya bisa diletakkan di rak biasa dan bertahan hingga berbulan-bulan?
Rahasia di balik perbedaan tersebut terletak pada teknologi pengolahan suhu yang digunakan. Dalam dunia industri, dua metode yang paling populer adalah Pasteurisasi dan UHT (Ultra High Temperature). Di Universitas Ma’soem, pemahaman mendalam mengenai kedua proses ini menjadi makanan sehari-hari bagi mahasiswa program studi Teknologi Pangan. Mari kita bedah lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi di balik segarnya minuman kemasan favorit Anda.
Pasteurisasi: Menjaga Kesegaran Alami dengan Suhu Moderat
Pasteurisasi adalah proses pemanasan makanan atau minuman pada suhu yang relatif rendah (biasanya di bawah 100°C) dalam jangka waktu tertentu. Nama metode ini diambil dari penemunya, Louis Pasteur.
- Cara Kerja: Produk dipanaskan pada suhu sekitar 63°C – 72°C. Tujuannya bukan untuk membunuh seluruh mikroba, melainkan hanya membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit) dan mengurangi jumlah mikroba pembusuk.
- Kelebihan: Karena suhunya tidak terlalu ekstrem, kerusakan nutrisi dan perubahan rasa sangat minimal. Susu pasteurisasi biasanya memiliki rasa yang paling mendekati susu segar.
- Kekurangan: Produk pasteurisasi masih mengandung beberapa mikroba non-patogen, sehingga masa simpannya pendek (hanya sekitar 7-14 hari) dan wajib disimpan dalam suhu dingin (refrigerator).
UHT (Ultra High Temperature): Teknologi untuk Masa Simpan Panjang
Jika Anda melihat susu kotak yang bisa bertahan 6 hingga 12 bulan tanpa lemari es, itu adalah hasil dari teknologi UHT. Ini adalah salah satu inovasi terbesar dalam dunia Food Technology.
- Cara Kerja: Minuman dipanaskan pada suhu yang sangat tinggi, yaitu sekitar 135°C – 150°C, namun dalam waktu yang sangat singkat, hanya 2 hingga 5 detik. Setelah itu, produk langsung didinginkan dan dikemas secara aseptik (steril).
- Kelebihan: Suhu ekstrem ini membunuh seluruh mikroba, termasuk sporanya, sehingga produk menjadi steril secara komersial. Hasilnya, minuman bisa disimpan di suhu ruang selama berbulan-bulan tanpa bahan pengawet kimia.
- Kekurangan: Suhu tinggi dapat menyebabkan sedikit perubahan pada profil rasa (seringkali muncul rasa sedikit “karamel”) dan penurunan beberapa jenis vitamin yang sensitif terhadap panas.
Mengapa Ahli Pangan Sangat Dibutuhkan dalam Proses Ini?
Menentukan suhu dan waktu yang tepat dalam pasteurisasi atau UHT bukan sekadar memutar tombol mesin. Dibutuhkan perhitungan matematis dan pemahaman mikrobiologi yang presisi. Jika suhu terlalu rendah, bakteri masih ada; jika terlalu tinggi, gizi dan rasa rusak.
Di sinilah peran penting lulusan Teknologi Pangan. Mereka bertugas memastikan keamanan pangan (food safety) tetap terjaga tanpa mengorbankan kualitas nutrisi produk.
Mendalami Teknologi Minuman di Universitas Ma’soem
Memahami kompleksitas teknologi pemrosesan suhu membutuhkan kombinasi antara teori yang kuat dan praktik laboratorium yang nyata. Universitas Ma’soem (Masoem University) hadir sebagai institusi pendidikan yang sangat fokus pada pengembangan sumber daya manusia di bidang pangan.
Berlokasi di kawasan pendidikan Jatinangor-Sumedang yang strategis, Universitas Ma’soem menjadi tempat yang ideal bagi para calon inovator pangan. Apa yang membuat Universitas Ma’soem menonjol dalam mencetak ahli pangan?
1. Laboratorium yang Relevan dengan Industri
Mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem dibekali dengan fasilitas laboratorium mikrobiologi dan kimia pangan. Di sini, mereka belajar melakukan pengujian kualitas produk sebelum dan sesudah proses pemanasan, mengukur efektivitas sterilisasi, hingga melakukan uji sensorik untuk menilai perubahan rasa pada produk pasteurisasi dan UHT.
2. Kurikulum Adaptif dan Berbasis Teknologi
Universitas Ma’soem menyusun kurikulum yang selalu mengikuti perkembangan industri manufaktur pangan terbaru. Mahasiswa tidak hanya belajar sejarah pasteurisasi, tetapi juga mempelajari sistem pengemasan aseptik modern dan pengolahan pangan non-termal yang menjadi tren masa depan.
3. Pembentukan Etika Profesional
Dalam industri minuman, kejujuran dalam proses produksi adalah harga mati. Kesalahan dalam proses pasteurisasi bisa membahayakan ribuan konsumen. Universitas Ma’soem sangat menekankan budaya disiplin dan integritas. Mahasiswa dididik untuk memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap keamanan pangan nasional.
4. Pendekatan Kewirausahaan (Foodpreneurship)
Bagi mahasiswa yang tertarik membangun bisnis minuman sendiri, Universitas Ma’soem memberikan bimbingan tentang cara memproduksi minuman dalam skala UMKM namun dengan standar keamanan pangan yang baik. Mahasiswa diajarkan cara mengurus izin edar seperti P-IRT atau MD, serta strategi pemasaran digital untuk produk minuman inovatif.
Teknologi pasteurisasi dan UHT adalah bukti bagaimana sains dapat memperpanjang usia makanan dan menjaga ketersediaan gizi bagi masyarakat luas. Tanpa kedua proses ini, mustahil kita bisa mendapatkan akses susu atau jus buah yang aman di mana saja dan kapan saja.
Bagi Anda yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap sains di balik apa yang kita konsumsi, jurusan Teknologi Pangan adalah jawabannya. Universitas Ma’soem siap menjadi wadah bagi Anda untuk mengeksplorasi ilmu tersebut, didukung dengan lingkungan kampus yang positif, fasilitas modern, dan bimbingan dosen yang kompeten.





