Food Fraud: Bagaimana Ahli Pangan Mendeteksi Pemalsuan Bahan Makanan?

Pernahkah Anda mendengar berita tentang beras plastik, madu yang ternyata hanya sirup gula, atau bubuk kopi yang dicampur dengan jagung sangrai? Fenomena ini dikenal dalam industri global sebagai Food Fraud atau pemalsuan pangan. Pemalsuan ini bukan sekadar masalah ekonomi yang merugikan dompet konsumen, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Di sinilah peran penting seorang ahli teknologi pangan. Mereka bertindak sebagai “detektif” yang memastikan bahwa apa yang tertera di label kemasan benar-benar sesuai dengan isinya. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Teknologi Pangan dilatih untuk memiliki ketajaman analisis dan integritas tinggi untuk mendeteksi serta mencegah praktik ilegal ini.


Mengenal Berbagai Modus Food Fraud

Pemalsuan pangan dilakukan dengan berbagai cara yang sering kali sulit dibedakan oleh mata telanjang:

  1. Substitusi: Mengganti bahan mahal dengan bahan yang lebih murah, misalnya mengganti daging sapi dengan daging lain yang teksturnya mirip.
  2. Dilusi (Pengenceran): Menambahkan zat cair ke dalam produk bernilai tinggi, seperti mencampur minyak zaitun murni (extra virgin) dengan minyak kelapa sawit.
  3. Penambahan Ilegal: Mencampurkan zat berbahaya untuk memperbaiki tampilan, seperti penggunaan formalin untuk pengawet atau pewarna tekstil (Rhodamin B) agar warna makanan terlihat mencolok.
  4. Pelabelan Palsu: Memberikan informasi yang salah mengenai asal-usul geografis, metode produksi (misalnya klaim “organik” padahal tidak), atau tanggal kedaluwarsa.

Cara Ahli Pangan Mendeteksi Pemalsuan

Untuk mengungkap praktik curang ini, mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem mempelajari berbagai teknik pengujian canggih di laboratorium:

1. Uji Mikroskopis dan Morfologi

Teknik paling dasar adalah melihat struktur bahan di bawah mikroskop. Contohnya, butiran pati jagung memiliki bentuk yang berbeda dengan pati singkong. Ahli pangan bisa mengetahui apakah sebuah produk tepung telah dicampur hanya dengan melihat bentuk granula patinya.

2. Analisis Kimia dan Kromatografi

Setiap bahan pangan memiliki “sidik jari” kimia yang unik. Dengan alat kromatografi, ahli pangan bisa memisahkan komponen-komponen di dalam makanan. Jika ditemukan profil asam lemak yang tidak sesuai pada produk minyak zaitun, maka dapat dipastikan produk tersebut telah dicampur dengan minyak lain.

3. Uji DNA (PCR)

Untuk kasus pemalsuan daging, teknologi DNA adalah yang paling akurat. Metode PCR (Polymerase Chain Reaction) digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan dalam produk olahan seperti bakso atau sosis. Teknik ini memastikan bahwa produk yang diklaim halal benar-benar bebas dari kontaminasi DNA hewan non-halal.

4. Analisis Isotop dan Spektroskopi

Teknologi ini bahkan bisa menentukan apakah suatu produk benar-benar berasal dari daerah tertentu. Spektroskopi memungkinkan ahli pangan mendeteksi pemalsuan madu atau kopi tanpa harus merusak sampel produk tersebut.


Menjadi Benteng Keamanan Pangan di Universitas Ma’soem

Menghadapi tantangan Food Fraud yang semakin canggih membutuhkan tenaga ahli yang kompeten secara teknis dan kokoh secara etika. Universitas Ma’soem (Masoem University) hadir untuk mencetak para profesional tersebut.

Terletak strategis di kawasan pendidikan Jatinangor, Universitas Ma’soem menawarkan keunggulan dalam mendidik calon ahli pangan:

  • Laboratorium yang Mumpuni: Mahasiswa di Universitas Ma’soem tidak hanya belajar teori. Mereka diterjunkan langsung ke laboratorium kimia dan mikrobiologi untuk mempraktikkan pengujian keaslian bahan pangan. Fasilitas ini sangat krusial untuk melatih insting analisis mahasiswa sebelum mereka bekerja di industri atau lembaga pengawas pangan.
  • Kurikulum Berstandar Industri: Materi pembelajaran di Universitas Ma’soem disusun agar selaras dengan standar keamanan pangan nasional (BPOM) dan internasional. Mahasiswa diajarkan sistem manajemen keamanan pangan yang mampu mendeteksi titik kritis di mana pemalsuan sering terjadi dalam rantai pasok.
  • Lingkungan yang Disiplin dan Profesional: Praktik Food Fraud seringkali terjadi karena kurangnya integritas. Universitas Ma’soem dikenal dengan budaya kampusnya yang sangat disiplin dan menekankan kejujuran. Hal ini membentuk lulusan yang tidak hanya pintar secara sains, tetapi juga amanah dalam menjaga kepercayaan konsumen.
  • Persiapan Menuju Karier Strategis: Lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem dipersiapkan untuk mengisi posisi krusial seperti Quality Assurance, Auditor Pangan, hingga staf di lembaga sertifikasi halal yang bertugas memastikan autentisitas produk pangan di pasar.

Food Fraud mungkin merupakan tantangan global yang rumit, namun dengan kemajuan teknologi pangan, praktik ini bisa dideteksi dan diminimalisir. Seorang ahli pangan bukan sekadar bekerja di pabrik, mereka adalah penjaga gerbang kesehatan masyarakat yang memastikan kejujuran di setiap meja makan.

Jika Anda memiliki ketertarikan pada dunia laboratorium, investigasi ilmiah, dan ingin berkontribusi nyata dalam melindungi konsumen, Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai. Dengan fasilitas lengkap dan bimbingan dosen berpengalaman, Anda akan disiapkan menjadi ahli teknologi pangan yang kompeten dan berintegritas tinggi.