Dalam dunia pengembangan perangkat lunak yang bergerak secepat kilat, metode tradisional yang kaku sering kali berujung pada kegagalan proyek, pembengkakan biaya, atau produk yang sudah ketinggalan zaman bahkan saat baru saja diluncurkan. Inilah mengapa Agile dan Scrum menjadi standar emas yang wajib dikuasai oleh mahasiswa Teknik Informatika dan Teknik Industri di Universitas Ma’soem.
Memahami Agile dan Scrum bukan sekadar belajar teori manajemen proyek, melainkan tentang mengadopsi pola pikir yang fleksibel, kolaboratif, dan berorientasi pada nilai nyata bagi pengguna. Bagi mahasiswa Fakultas Teknik, keahlian ini akan menjadi pembeda utama yang membuat mereka sangat dicari oleh perusahaan rintisan (startup) hingga perusahaan multinasional setelah lulus nanti.
Apa Itu Agile? Sebuah Pola Pikir untuk Adaptasi yang Cepat
Agile bukanlah sebuah prosedur kaku atau perangkat lunak tertentu, melainkan sebuah filosofi atau pola pikir dalam pengembangan produk yang mengutamakan kemampuan adaptasi. Jika metode tradisional (seperti metode Waterfall) mengharuskan semua perencanaan, desain, dan fitur selesai didefinisikan secara kaku di awal, Agile justru sebaliknya. Agile memecah proyek besar menjadi bagian-bagian kecil yang dikerjakan dalam siklus pendek yang berulang.
Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan empat nilai utama dalam Agile Manifesto yang menjadi landasan kerja profesional:
Individu dan interaksi lebih diutamakan daripada proses dan alat kerja. Perangkat lunak yang berfungsi lebih penting daripada dokumentasi yang sangat tebal namun sulit dipahami. Kolaborasi dengan pelanggan lebih penting daripada sekadar negosiasi kontrak yang kaku. Merespons perubahan jauh lebih berharga daripada hanya sekadar mengikuti rencana awal yang sudah tidak relevan.
Dengan pola pikir Agile, tim pengembang tidak perlu menunggu berbulan-bulan untuk melihat hasil kerja mereka. Mereka bisa merilis versi awal aplikasi (MVP – Minimum Viable Product), mendapatkan masukan langsung dari pengguna, dan segera memperbaikinya di siklus berikutnya.
Scrum: Kerangka Kerja Populer untuk Kolaborasi Tim yang Tangguh
Jika Agile adalah filosofinya, maka Scrum adalah salah satu kerangka kerja (framework) yang paling populer dan banyak digunakan untuk mengimplementasikan filosofi Agile tersebut. Dalam Scrum, pekerjaan dibagi ke dalam iterasi waktu yang tetap yang disebut Sprint, yang biasanya berlangsung selama 1 hingga 4 minggu.
Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Ma’soem perlu mengenal tiga peran kunci (Scrum Roles) yang membuat metode ini sangat efektif:
Product Owner: Sosok yang bertanggung jawab menjembatani kebutuhan bisnis dan teknis. Ia memastikan tim mengerjakan fitur yang paling memiliki nilai ekonomi dan kegunaan bagi pengguna.
Scrum Master: Bukanlah seorang bos, melainkan seorang “pelayan pemimpin” (servant leader) yang bertugas memastikan proses Scrum berjalan lancar, memfasilitasi diskusi, dan menghilangkan segala hambatan teknis maupun non-teknis yang dihadapi tim.
Development Team: Kumpulan tenaga ahli lintas fungsi (seperti programmer, desainer UI/UX, dan tester) yang bekerja sama secara mandiri untuk menghasilkan produk yang berfungsi nyata di akhir setiap Sprint.
Mengapa Mahasiswa Teknik Industri Juga Wajib Belajar Scrum?
Meskipun awalnya lahir di dunia pengembangan perangkat lunak, Scrum kini sangat diminati di dunia Teknik Industri dan manajemen operasional. Dalam pengembangan produk fisik atau perbaikan sistem manufaktur, prinsip-prinsip Scrum digunakan untuk mempercepat waktu peluncuran produk ke pasar (time-to-market). Di Universitas Ma’soem, sinergi antara Informatika dan Teknik Industri dalam memahami Scrum sangatlah krusial.
Mahasiswa Teknik Industri dapat menerapkan metode ini untuk mengelola proyek perbaikan proses di lantai pabrik atau pengembangan prototipe produk baru secara efisien. Dengan menggunakan alat visual seperti papan Kanban dan melakukan pertemuan singkat harian (Daily Stand-up Meeting), tim dapat mendeteksi masalah lebih dini, meningkatkan transparansi kerja, dan mendongkrak produktivitas secara signifikan.
Keuntungan Utama Mengadopsi Agile dan Scrum
Mengadopsi metode ini memberikan banyak keuntungan nyata bagi organisasi modern, antara lain:
- Kualitas Produk yang Lebih Terjamin: Karena pengujian dilakukan secara terus-menerus di setiap Sprint, kesalahan atau bug dapat ditemukan dan diperbaiki jauh lebih cepat sebelum menjadi masalah besar.
- Kepuasan Pelanggan yang Tinggi: Pelanggan merasa sangat dihargai karena mereka bisa melihat perkembangan produk secara rutin dan memberikan masukan yang langsung didengar oleh pengembang.
- Transparansi Kerja: Semua anggota tim tahu apa yang sedang dikerjakan rekan mereka dan apa hambatan yang sedang terjadi, sehingga rasa saling memiliki terhadap proyek menjadi sangat kuat.
Menyiapkan Diri Menjadi Praktisi Agile di Universitas Ma’soem
Menjadi ahli dalam Agile dan Scrum tidak bisa dilakukan hanya dengan menghafal buku. Mahasiswa Universitas Ma’soem didorong untuk mempraktikkan metode ini secara nyata dalam tugas kelompok, proyek praktikum, atau bahkan saat menjalankan organisasi kemahasiswaan. Belajarlah untuk menerima perubahan dengan tangan terbuka, berkomunikasi secara jujur, dan selalu fokus pada pemberian nilai terbaik di setiap langkah pengerjaan proyek.
Dunia kerja masa depan tidak lagi mencari individu yang hanya pintar mengikuti instruksi, tetapi mereka yang tangkas, adaptif, dan mampu bekerja sama dalam tim yang dinamis. Dengan menguasai Agile dan Scrum sejak bangku kuliah, Anda telah membekali diri dengan senjata paling ampuh untuk memimpin inovasi di industri digital dan manufaktur global. Mari mulai terapkan pola pikir tangkas ini untuk kesuksesan karier Anda!





