Bagi mahasiswa Agribisnis Universitas Ma’soem, masa magang sering kali jadi momen “kejutan budaya”. Kamu yang biasanya berurusan dengan teori di kelas, tiba-tiba harus menghadapi realitas industri yang dinamis mulai dari input data stok yang ribet, analisis pasar yang naik-turun, sampai urusan teknis di lapangan yang menguras fisik.
Beban kerja yang mendadak tinggi sering bikin mahasiswa kaget dan merasa kewalahan. Biar kamu nggak cuma “numpang lewat” tapi bisa tetap bersinar tanpa harus mengorbankan kesehatan mental, berikut adalah strategi cerdas menghadapi beban kerja selama magang.
1. Pahami Ritme Kerja Agribisnis yang “Unik”
Dunia agribisnis itu nggak selalu punya jadwal tetap nine-to-five. Ada kalanya load kerjaan meledak pas musim panen, waktu pengiriman barang besar, atau saat perusahaan sedang mengejar target sertifikasi tertentu.
- Strateginya: Jangan kaget kalau ada hari-hari yang lebih sibuk dari biasanya. Di minggu pertama, perhatikan kapan jam-jam tersibuk di tempat magangmu. Dengan tahu polanya, kamu bisa menyiapkan energi lebih di hari-hari tersebut dan nggak merasa tertekan saat pekerjaan datang bertubi-tubi.
2. Kelola Prioritas dengan Skala Realistis
Pas magang, semua tugas sering kali terlihat mendesak. Tapi kalau semuanya dianggap darurat, kamu sendiri yang bakal pusing dan kerjaan malah nggak ada yang beres.
- Strateginya: Pakai daftar tugas simpel setiap pagi. Pisahkan mana yang harus beres hari ini juga (misal: laporan operasional harian) dan mana yang bisa dikerjakan nanti (misal: merapikan dokumen arsip). Fokus selesaikan satu per satu. Ingat, satu tugas selesai sempurna jauh lebih baik daripada mengerjakan lima tugas tapi berantakan semua.
3. Bertanya Adalah Jurus Paling Ampuh
Banyak mahasiswa magang merasa tertekan karena dapat tugas banyak tapi nggak mengerti instruksinya. Akhirnya diam saja karena takut dianggap tidak kompeten, padahal beban pikiran makin menumpuk.
- Strateginya: Kalau instruksi mentor kurang jelas, langsung tanya. “Pak/Bu, mohon izin memastikan, untuk analisis biaya ini variabel apa saja yang perlu saya prioritaskan?” Bertanya bukan berarti kamu nggak tahu apa-apa, tapi justru menunjukkan kalau kamu serius ingin memberikan hasil kerja yang benar.
4. Gunakan “Alat Bantu” Biar Kerja Lebih Cepat
Di jurusan Agribisnis, kamu diajarkan tentang efisiensi. Terapkan itu untuk mengurangi beban kerjamu sendiri melalui teknologi.
- Strateginya: Jangan input data secara manual kalau bisa pakai rumus Excel. Jangan mencatat manual di kertas kalau bisa langsung ketik di ponsel agar tidak perlu kerja dua kali. Semakin kamu jago memanfaatkan alat bantu digital, beban kerja yang kelihatan segunung bakal terasa lebih ringan dan cepat selesai.
5. Komunikasi Jujur dengan Mentor
Kalau beban kerja memang sudah di luar batas kemampuan sampai mengganggu kesehatan atau tugas wajib dari kampus (seperti bimbingan skripsi), jangan dipendam sendiri.
- Strateginya: Ngobrol santai dengan mentor di waktu yang tepat. Sampaikan bahwa kamu sedang butuh sedikit penyesuaian waktu atau bantuan arahan tambahan. Mentor biasanya jauh lebih menghargai kejujuranmu daripada kamu tiba-tiba menghilang atau memberikan hasil kerja asal-asalan karena kecapekan.
Merasakan beban kerja yang berat saat magang itu sebenarnya “jam terbang” yang sangat mahal. Itu tandanya kamu benar-benar dilibatkan dalam urusan asli perusahaan, bukan cuma jadi penonton. Mahasiswa Universitas Ma’soem harus punya mentalitas tangguh tapi tetap cerdik mengatur tenaga.
Kalau kamu sukses melewati tekanan ini, transisi kamu ke dunia kerja nyata setelah lulus nanti bakal terasa jauh lebih gampang dan kamu sudah punya modal “mental baja”.





