Pernah nggak kamu perhatikan, saat pandemi atau krisis ekonomi melanda, mall tutup, bioskop sepi, dan harga saham perusahaan teknologi terjun bebas? Tapi coba lihat ke pasar atau supermarket. Orang tetap antre beli beras, minyak goreng, sayur, dan telur.
Inilah alasan kenapa Agribisnis disebut sebagai sektor “Anti-Kiamat”. Di Universitas Masoem, kita nggak cuma belajar nanem, tapi kita belajar cara menguasai sektor yang tetap tegak berdiri saat dunia lagi kacau-kacaunya.
1. Belajar dari Strategi Keluarga Hartono (Orang Terkaya di Indonesia)
Kenapa keluarga Hartono, pemilik BCA dan Djarum, terus memperluas imperium mereka ke sektor Agribisnis? Jawabannya: Diversifikasi Keamanan. Mereka tahu, sekaya apa pun sebuah negara, kalau rakyatnya nggak makan, ekonomi hancur.
Dengan memiliki unit bisnis di bidang kelapa sawit dan pengolahan hasil bumi, mereka punya “pelampung” yang sangat kuat. Saat sektor perbankan tertekan, sektor pangan justru panen besar karena harga komoditas biasanya naik saat krisis (inflasi). Di Masoem, kita ajarkan kamu cara membangun model bisnis yang punya ketahanan serupa.
2. Inelastisitas: Hukum yang Bikin Kamu Tetap Cuan
Dalam ekonomi, ada istilah Inelastisitas Permintaan. Artinya, seberapa pun mahal harga barangnya atau seberapa pun sulit uang didapat, orang tetap harus beli. Kamu mungkin bisa menunda beli baju baru atau ganti HP, tapi kamu nggak bisa menunda lapar.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) saat pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa ketika hampir semua sektor minus, sektor Pertanian dan Agribisnis justru tumbuh positif di angka 2,19%. Ini adalah bukti nyata kalau kamu kuliah di jurusan yang punya jaminan keamanan masa depan paling tinggi.
3. Agribisnis Masoem: Mengubah Krisis Jadi Peluang
Di kampus Masoem, kita nggak cuma kasih kamu teori tentang bertahan hidup. Kita kasih kamu strategi untuk “menyerang”. Kamu bakal diajarkan cara memetakan rantai pasok yang paling efisien.
Saat krisis, biaya logistik biasanya naik. Nah, lulusan Agribisnis yang cerdas tahu cara memotong rantai distribusi yang panjang. Kamu bisa langsung menghubungkan petani ke konsumen akhir (D2C – Direct to Consumer). Di situlah margin keuntunganmu meledak. Kamu untung besar, konsumen dapet harga lebih murah, dan kamu jadi pahlawan ekonomi di daerahmu.
4. Menjadi “Pemain Riil” di Dunia Digital
Banyak anak muda sekarang takut kalau pekerjaannya nanti diganti robot atau AI. Tapi ingat, secanggih apa pun AI, mereka nggak bisa memproduksi beras atau daging asli. Mereka butuh energi, dan energi manusia berasal dari Agribisnis.
Lulusan Agribisnis Masoem disiapkan untuk jadi pemilik aset riil. Kamu punya barangnya, kamu punya sistemnya, kamu punya pasarnya. Seperti kata Bob Sadino: “Jangan jadi karyawan yang gampang diganti, jadilah bos yang dicari karena punya barang yang orang butuhkan.”
Langkah Penentu: Amankan Masa Depanmu Sekarang
Dunia sedang tidak baik-baik saja, perang dan krisis iklim bikin pasokan pangan makin langka. Di satu sisi, ini adalah masalah dunia, tapi di sisi lain (bagi kamu yang paham Agribisnis), ini adalah peluang karir dan bisnis yang luar biasa besar.
Jangan buang waktumu belajar ilmu yang bakal usang dimakan zaman. Masuklah ke Agribisnis Universitas Masoem dan bangun benteng pertahanan ekonomimu sendiri. Pilihannya: mau jadi orang yang bingung saat krisis datang, atau jadi orang yang justru makin kaya karena sudah punya kuncinya?





