Di era teknologi yang berlari kencang, banyak orang khawatir bahwa kemajuan intelektual akan menjauhkan seseorang dari nilai-nilai spiritual. Namun, di Fakultas Teknik Universitas Ma’soem, kekhawatiran itu dijawab dengan sebuah konsep pendidikan yang unik. Menjadi seorang insinyur atau ahli IT bukan berarti hanya mahir menghitung algoritma atau merancang mesin, tetapi juga memiliki fondasi iman yang kokoh. Inilah tempat di mana rumus fisika dan ayat-ayat Tuhan berjalan beriringan.
Filosofi “Bageur, Pinter, Pilih Tanding”
Universitas Ma’soem tidak hanya mengejar akreditasi akademik, tetapi juga “akreditasi” moral bagi mahasiswanya. Melalui semboyan Bageur (Berperilaku baik/Sholeh), Pinter (Cerdas secara intelektual), dan Pilih Tanding (Kompeten/Unggul), kurikulum teknik dirancang untuk menyentuh sisi spiritual.
Bagi mahasiswa Teknik Informatika atau Teknik Industri di Universitas Ma’soem, setiap penemuan teknologi dipandang sebagai cara untuk mengagumi kebesaran Sang Pencipta. Saat mempelajari kerumitan jaringan saraf tiruan (Artificial Neural Network) atau presisi sistem manufaktur, mahasiswa diajak merenung: jika ciptaan manusia saja begitu rumit, betapa luar biasanya desain alam semesta yang diciptakan oleh Tuhan. Kesadaran inilah yang melahirkan sosok insinyur yang rendah hati, bukan yang sombong dengan ilmunya.
Etika Profesi Berbasis Nilai Islam
Dunia industri seringkali penuh dengan godaan etika, mulai dari manipulasi data hingga pengabaian aspek lingkungan demi keuntungan. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa teknik dibekali dengan mata kuliah dan kajian yang menekankan pada Etika Profesi Islam.
Seorang lulusan Teknik Ma’soem dididik bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah. Membangun sistem keamanan siber yang kuat bukan sekadar tugas kantor, tapi amanah untuk melindungi privasi orang lain. Merancang tata letak pabrik yang efisien bukan hanya soal profit, tapi soal menghargai waktu dan tenaga para pekerja (manusia). Dengan sudut pandang ini, ilmu dunia yang mereka miliki menjadi kendaraan menuju kebahagiaan akhirat.
Ekosistem Kampus yang Mendukung Kesalehan
Keseimbangan ini tidak hanya muncul di dalam buku teks, tapi dalam budaya sehari-hari. Di Universitas Ma’soem, kegiatan akademik berhenti sejenak saat adzan berkumandang. Suasana kekeluargaan yang religius di lingkungan kampus memastikan bahwa mahasiswa tidak merasa asing saat ingin memperdalam ilmu agama di tengah kesibukan praktikum di laboratorium.
“Teknologi tanpa agama itu buta, agama tanpa teknologi itu lumpuh.”
Kutipan terkenal ini hidup di koridor-koridor Fakultas Teknik. Mahasiswa didorong untuk aktif di organisasi keagamaan kampus tanpa harus mengorbankan prestasi di bidang robotika atau pemrograman. Hasilnya adalah lulusan yang tidak hanya “pilih tanding” di meja kerja, tetapi juga bisa menjadi imam yang baik di tengah masyarakat.
Menjadi sarjana teknik di Universitas Ma’soem adalah tentang menjadi manusia seutuhnya. Kamu akan ditempa menjadi ahli teknologi yang memiliki “otak Jerman” namun tetap memiliki “hati Mekkah”. Sebuah kombinasi langka yang sangat dibutuhkan oleh dunia saat ini.
Ingin menjadi bagian dari generasi insinyur masa depan yang berakhlak mulia? Yuk, mulai langkah hijrah akademikmu di Fakultas Teknik Universitas Ma’soem sekarang juga!





