Bagi sebagian mahasiswa Teknik, dunia mungkin terasa seperti rangkaian logika yang bisa diselesaikan dengan rumus atau baris kode. Namun, ada satu momen dalam perjalanan akademik di Universitas Ma’soem yang akan membalikkan perspektif tersebut: Kuliah Kerja Nyata (KKN). Di sinilah mahasiswa Teknik Informatika dan Teknik Industri keluar dari zona nyaman laboratorium mereka untuk menghadapi variabel yang paling kompleks di dunia, yaitu manusia.
Menanggalkan Ego Insinyur di Gerbang Desa
Saat tiba di lokasi KKN, mahasiswa Teknik Universitas Ma’soem tidak lagi hanya dipandang sebagai ahli komputer atau ahli mesin, melainkan sebagai bagian dari masyarakat. Tantangan terbesarnya bukan pada instalasi jaringan atau perbaikan alat, melainkan pada kemampuan mendengar.
[Image showing a group of engineering students from Ma’soem University in their red almamaters sitting on a traditional wooden porch (teras) with village elders, listening intently and taking notes, with a backdrop of a rural Indonesian landscape]
Mendengar keluhan petani tentang sulitnya pemasaran hasil panen atau curhatan warga desa mengenai administrasi yang berbelit adalah latihan empati yang sesungguhnya. Di Universitas Ma’soem, KKN dirancang agar mahasiswa teknik menyadari bahwa teknologi sehebat apa pun tidak akan berguna jika tidak menjawab kebutuhan nyata manusia. Belajar memahami bahasa warga desa yang jauh dari istilah teknis—adalah kunci untuk menjadi problem solver yang humanis.
Teknologi yang Memiliki “Hati”
Ide-ide brilian sering kali muncul dari obrolan di pos ronda atau teras rumah warga. Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Ma’soem mungkin awalnya datang untuk sekadar sosialisasi internet, namun setelah mendengar masalah warga, mereka bisa saja melahirkan ide sistem informasi desa yang membantu pendataan bantuan sosial agar lebih tepat sasaran.
Begitu pula mahasiswa Teknik Industri, yang melihat proses produksi UMKM keripik di desa lalu tergerak untuk memberikan saran tata letak dapur yang lebih higienis dan efisien. Inilah yang disebut dengan teknologi yang memiliki “hati”. Di Universitas Ma’soem, kamu dididik bahwa ilmu teknik adalah alat untuk memuliakan manusia, bukan untuk membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain.
Bekal Karir: Insinyur yang Paham Psikologi Lapangan
Mengapa pengalaman empati di KKN ini sangat penting untuk masa depan? Di dunia kerja nanti, kamu tidak akan bekerja dengan robot, tapi dengan rekan kerja, atasan, dan klien yang memiliki perasaan. Perusahaan besar saat ini sangat mencari lulusan Universitas Ma’soem yang memiliki Emotional Intelligence (EQ) tinggi.
“Seorang insinyur cerdas bisa membangun jembatan, tapi insinyur yang berempati tahu mengapa jembatan itu harus dibangun dan bagaimana ia mengubah hidup warga sekitarnya.”
Melalui KKN, mahasiswa Teknik Universitas Ma’soem belajar manajemen konflik, cara berkomunikasi yang santun, dan kepemimpinan yang melayani. Pengalaman ini adalah investasi yang tidak ternilai harganya saat kamu harus memimpin tim besar di sebuah pabrik atau perusahaan rintisan nantinya.
KKN di Universitas Ma’soem bukan sekadar liburan berbalut tugas kampus. Ini adalah perjalanan untuk menemukan jati dirimu sebagai teknokrat yang peduli. Saat kamu kembali ke kampus, kamu bukan lagi mahasiswa yang sama; kamu adalah calon insinyur yang sudah memiliki “jiwa” dalam setiap karyanya.
Siap memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui inovasi teknikmu? Yuk, persiapkan dirimu untuk petualangan bermakna di KKN Fakultas Teknik Universitas Ma’soem!





