Menulis skripsi bukan hanya soal menuangkan ide, tetapi juga tentang bagaimana memperkuat argumen melalui referensi ilmiah yang relevan. Banyak mahasiswa merasa kesulitan saat mencari jurnal yang sesuai dengan topik penelitian mereka. Akibatnya, waktu terbuang hanya untuk scrolling tanpa hasil yang jelas. Padahal, ada strategi sederhana yang bisa membantu proses pencarian referensi menjadi lebih terarah dan efisien.
1. Pahami Topik dan Kata Kunci Penelitian
Langkah awal yang sering dianggap sepele justru sangat menentukan hasil pencarian. Topik penelitian harus dipahami secara spesifik, bukan hanya secara umum.
Misalnya, jika topiknya tentang code mixing, jangan hanya menggunakan kata kunci “code mixing”. Kembangkan menjadi:
- “code mixing in EFL classroom”
- “students’ perception of code mixing”
- “code switching and learning outcomes”
Menggunakan variasi kata kunci dalam bahasa Inggris sangat penting karena sebagian besar jurnal internasional ditulis dalam bahasa tersebut.
2. Gunakan Database Jurnal Terpercaya
Tidak semua sumber di internet bisa dijadikan referensi skripsi. Fokuslah pada database jurnal yang kredibel dan sering digunakan dalam dunia akademik, seperti:
- Google Scholar
- DOAJ (Directory of Open Access Journals)
- ERIC (khusus bidang pendidikan)
- ResearchGate
Google Scholar biasanya menjadi pilihan utama karena mudah diakses dan memiliki cakupan luas. Namun, penting untuk tetap selektif dalam memilih artikel.
3. Perhatikan Tahun Publikasi
Skripsi membutuhkan referensi yang up-to-date. Idealnya, gunakan jurnal dengan rentang 5–10 tahun terakhir, kecuali teori klasik yang memang masih relevan.
Referensi yang terlalu lama bisa membuat penelitian terlihat kurang mengikuti perkembangan terbaru. Oleh karena itu, biasakan memeriksa tahun publikasi sebelum mengunduh atau membaca jurnal secara keseluruhan.
4. Baca Abstrak Sebelum Mengunduh
Kesalahan umum mahasiswa adalah langsung mengunduh banyak jurnal tanpa membaca isi ringkasannya terlebih dahulu. Hal ini justru membuang waktu.
Abstrak memberikan gambaran singkat tentang:
- tujuan penelitian
- metode yang digunakan
- hasil utama
Jika abstraknya tidak sesuai dengan kebutuhan, sebaiknya cari artikel lain. Cara ini akan menghemat waktu dan energi.
5. Gunakan Fitur “Cited by” dan Referensi Terkait
Salah satu fitur yang sangat membantu di Google Scholar adalah “Cited by”. Fitur ini menunjukkan artikel lain yang mengutip jurnal tersebut.
Keuntungannya:
- menemukan referensi yang lebih baru
- melihat perkembangan penelitian dari topik yang sama
- memperluas sumber literatur secara sistematis
Selain itu, bagian daftar pustaka dari sebuah jurnal juga bisa menjadi “harta karun” untuk menemukan referensi tambahan.
6. Manfaatkan Akses Jurnal Open Access
Tidak semua jurnal bisa diakses secara gratis. Namun, banyak jurnal open access yang tetap berkualitas tinggi.
Beberapa cara untuk mendapatkan jurnal gratis:
- mencari versi PDF di Google Scholar
- menggunakan situs open access seperti DOAJ
- mencari penulisnya di ResearchGate
Menghindari situs ilegal sangat penting untuk menjaga etika akademik.
7. Catat dan Kelompokkan Referensi Sejak Awal
Setelah menemukan jurnal yang relevan, jangan hanya menyimpannya begitu saja. Buat sistem pencatatan yang rapi, misalnya:
- berdasarkan topik
- berdasarkan variabel penelitian
- berdasarkan metode penelitian
Penggunaan aplikasi seperti Mendeley atau Zotero juga sangat membantu dalam mengelola referensi dan mempermudah penulisan daftar pustaka.
8. Sesuaikan dengan Metode Penelitian
Referensi yang dipilih harus sesuai dengan pendekatan penelitian yang digunakan. Misalnya:
- penelitian kuantitatif membutuhkan jurnal dengan data statistik
- penelitian kualitatif membutuhkan studi deskriptif atau interpretatif
Jika research question berkaitan dengan persepsi atau pengalaman, maka jurnal kualitatif akan lebih relevan dibandingkan jurnal eksperimen.
9. Diskusikan dengan Dosen atau Teman Sejawat
Kadang-kadang, referensi yang sudah ditemukan masih terasa kurang tepat. Dalam situasi seperti ini, berdiskusi bisa menjadi solusi.
Dosen pembimbing biasanya memiliki pengalaman dalam memilih jurnal yang berkualitas. Selain itu, teman satu angkatan juga bisa saling berbagi sumber referensi yang relevan.
Lingkungan akademik yang suportif akan sangat membantu dalam proses ini. Di beberapa kampus, termasuk di lingkungan FKIP Ma’soem University, mahasiswa didorong untuk aktif berdiskusi dan mengembangkan kemampuan literasi akademik secara bertahap.
10. Konsisten dan Tidak Menunda
Mencari referensi bukan pekerjaan sekali jadi. Proses ini membutuhkan konsistensi.
Luangkan waktu secara rutin, misalnya:
- 30–60 menit per hari untuk mencari jurnal
- membaca 1–2 artikel setiap hari
- mencatat poin penting dari setiap referensi
Kebiasaan kecil seperti ini akan sangat membantu ketika memasuki tahap penulisan bab II (kajian pustaka).





