Mempublikasikan artikel di jurnal nasional menjadi salah satu langkah penting dalam dunia akademik. Bagi mahasiswa, khususnya di jenjang akhir, publikasi bukan hanya sekadar tuntutan administratif, tetapi juga bentuk kontribusi nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Sayangnya, banyak penulis pemula merasa kesulitan menembus jurnal nasional karena kurang memahami strategi yang tepat.
1. Pahami Jenis dan Kriteria Jurnal Nasional
Langkah awal yang sering diabaikan adalah memahami karakteristik jurnal yang dituju. Jurnal nasional memiliki berbagai kategori, mulai dari jurnal terakreditasi hingga jurnal nasional biasa. Setiap jurnal memiliki fokus, gaya selingkung (template), serta standar penilaian yang berbeda.
Perhatikan beberapa hal berikut:
- Fokus dan scope jurnal
- Template penulisan
- Gaya sitasi (APA, MLA, dll.)
- Tingkat akreditasi (SINTA)
Kesalahan dalam menyesuaikan artikel dengan kriteria jurnal sering menjadi penyebab utama penolakan awal.
2. Tentukan Topik yang Relevan dan Aktual
Topik menjadi kunci utama dalam menarik perhatian reviewer. Pilihlah isu yang:
- Relevan dengan bidang keilmuan
- Memiliki urgensi atau nilai kebaruan
- Didukung oleh data atau fenomena nyata
Misalnya, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris dapat mengangkat fenomena code mixing di media sosial, sedangkan mahasiswa Bimbingan dan Konseling bisa meneliti kesehatan mental remaja di era digital.
Topik yang terlalu umum cenderung kurang menarik, sementara topik yang terlalu sempit sulit dikembangkan.
3. Susun Struktur Artikel Secara Sistematis
Artikel ilmiah memiliki struktur yang jelas dan tidak bisa ditulis secara sembarangan. Umumnya terdiri dari:
- Judul
- Abstrak
- Pendahuluan
- Metode penelitian
- Hasil dan pembahasan
- Kesimpulan
- Daftar pustaka
Pendahuluan harus mampu menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, dan tujuan penelitian secara ringkas tetapi kuat. Bagian pembahasan menjadi inti yang menunjukkan kemampuan analisis penulis.
Hindari penulisan yang bertele-tele. Gunakan bahasa yang lugas dan akademik, tetapi tetap mudah dipahami.
4. Gunakan Referensi yang Kredibel dan Terbaru
Kualitas referensi sangat memengaruhi penilaian artikel. Gunakan sumber yang:
- Berasal dari jurnal ilmiah
- Terbit dalam 5–10 tahun terakhir
- Relevan dengan topik
Sumber open access bisa menjadi pilihan yang baik karena mudah diakses dan tetap berkualitas. Hindari terlalu banyak menggunakan blog atau sumber tidak ilmiah.
Semakin kuat landasan teori yang digunakan, semakin meyakinkan artikel tersebut di mata reviewer.
5. Perhatikan Teknik Penulisan dan Parafrase
Plagiarisme menjadi salah satu penyebab utama artikel ditolak. Oleh karena itu:
- Gunakan teknik parafrase yang baik
- Cantumkan sitasi pada setiap kutipan
- Gunakan tools pengecek plagiasi sebelum submit
Parafrase bukan sekadar mengganti kata, tetapi menyampaikan ulang ide dengan struktur kalimat baru tanpa mengubah makna.
6. Ikuti Template Jurnal Secara Konsisten
Setiap jurnal memiliki format tersendiri yang harus diikuti secara detail. Hal-hal kecil seperti ukuran font, spasi, hingga penulisan tabel sering menjadi perhatian reviewer.
Banyak penulis pemula mengabaikan hal ini, padahal kesalahan teknis dapat menyebabkan artikel ditolak sebelum masuk tahap review substansi.
Luangkan waktu untuk membaca panduan penulis (author guidelines) secara menyeluruh.
7. Lakukan Proofreading dan Review Mandiri
Sebelum mengirim artikel, lakukan pengecekan ulang:
- Tata bahasa
- Konsistensi istilah
- Kesesuaian isi antar bagian
Jika memungkinkan, mintalah teman atau dosen untuk memberikan masukan. Sudut pandang orang lain sering membantu menemukan kekurangan yang tidak disadari.
8. Pilih Jurnal yang Realistis
Jangan langsung menargetkan jurnal dengan tingkat persaingan tinggi jika masih pemula. Mulailah dari jurnal yang:
- Sesuai dengan kualitas artikel
- Memiliki proses review yang jelas
- Tidak terlalu ketat tetapi tetap kredibel
Strategi ini membantu membangun pengalaman publikasi secara bertahap.
9. Siap Menghadapi Revisi
Proses review hampir selalu menghasilkan revisi. Hal ini bukan berarti artikel buruk, tetapi bagian dari penyempurnaan.
Sikapi revisi dengan:
- Membaca komentar reviewer secara teliti
- Menjawab setiap poin dengan jelas
- Melakukan perbaikan secara sistematis
Kemampuan merespons revisi menjadi salah satu indikator profesionalitas penulis.
10. Bangun Lingkungan Akademik yang Mendukung
Proses publikasi akan lebih mudah jika didukung oleh lingkungan akademik yang aktif. Diskusi dengan dosen, mengikuti seminar, atau bergabung dalam komunitas ilmiah dapat meningkatkan kualitas tulisan.
Di lingkungan kampus seperti FKIP Ma’soem University, mahasiswa dari program studi Bimbingan dan Konseling maupun Pendidikan Bahasa Inggris memiliki peluang untuk mengembangkan kemampuan menulis ilmiah melalui tugas, penelitian kecil, hingga bimbingan dosen. Dukungan seperti ini, meskipun sederhana, dapat menjadi fondasi awal untuk menembus publikasi jurnal nasional.





