Perbedaan Make to Order dan Make to Stock, Strategi Produksi yang Wajib Dipahami

Pernahkah kamu memesan sepatu custom yang baru dibuatkan setelah kamu bayar, atau kamu tipe yang langsung ambil baju yang sudah terpajang di toko? Dalam dunia Teknik Industri, kedua cara ini bukan sekadar soal gaya jualan, tapi merupakan strategi besar dalam analisis sistem produksi.

Di tahun 2026, industri di kawasan Bandung Timur hingga Cikarang makin selektif dalam memilih strategi ini agar tidak rugi karena stok menumpuk. Bagi mahasiswa Masoem University, memahami perbedaan Make to Order (MTO) dan Make to Stock (MTS) adalah langkah awal menjadi profesional yang tangguh dalam mengelola pabrik. Yuk, kita bedah perbedaannya!


1. Make to Order (MTO): “Dibuat Sesuai Pesanan”

Strategi ini baru menjalankan proses produksi setelah ada pesanan pasti dari konsumen. Tidak ada stok barang jadi yang siap dikirim seketika.

  • Cara Kerja: Konsumen pesan\rightarrow Pabrik beli bahan baku\rightarrow Produksi\rightarrow Kirim.
  • Contoh: Katering pernikahan, pembuatan mesin pabrik khusus, atau jasa sablon kaos komunitas.
  • Karakter: Sangat inovatif dan fleksibel. Namun, butuh kesabaran konsumen karena ada waktu tunggu (lead time) yang lebih lama.
  • Kelebihan: Risiko barang tidak laku hampir nol karena semua yang dibuat sudah ada pemiliknya.

2. Make to Stock (MTS): “Buat Dulu, Jual Kemudian”

Strategi ini memproduksi barang dalam jumlah banyak berdasarkan ramalan (forecasting) kebutuhan pasar, lalu menyimpannya di gudang sebagai stok.

  • Cara Kerja: Ramalan pasar\rightarrow Produksi massal\rightarrow Simpan di gudang $\rightarrow$ Konsumen beli.
  • Contoh: Mi instan, minuman kemasan, atau pakaian di department store.
  • Karakter: Sangat disiplin pada jadwal produksi dan efisiensi mesin. Konsumen bisa langsung mendapatkan barang saat itu juga.
  • Kelebihan: Proses pengiriman sangat cepat karena barang sudah siap di “rak”.

Perbedaan Utama: Tabel Cepat

FiturMake to Order (MTO)Make to Stock (MTS)
Pemicu ProduksiPesanan Riil PelangganRamalan Permintaan (Forecasting)
Waktu TungguRelatif LamaSangat Cepat (Seketika)
Risiko InventoriRendah (Hampir Tidak Ada)Tinggi (Barang Bisa Kadaluwarsa/Gak Laku)
KustomisasiSangat Tinggi (Bisa Request)Rendah (Standar Pabrik)
Contoh IndustriKonstruksi, Kerajinan TanganMakanan & Minuman, Farmasi

Kenapa Mahasiswa Teknik Industri Harus Paham Ini?

Di koridor industri Rancaekek, perusahaan mencari lulusan yang profesional dalam menentukan strategi mana yang paling hemat biaya.

  • Jika kamu pakai MTS untuk barang yang trennya cepat berubah, perusahaan bisa bangkrut karena gudang penuh barang lama.
  • Jika kamu pakai MTO untuk barang kebutuhan pokok, konsumen bakal lari ke kompetitor karena malas menunggu.

Memilih strategi yang tepat membutuhkan integritas dan kejujuran dalam melihat data pasar. Di Masoem University, kamu dididik untuk melakukan analisis sistem yang amanah, memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan perusahaan untuk produksi memberikan hasil yang maksimal.

Gimana? Sudah mulai kebayang pabrik impianmu nanti bakal pakai strategi yang mana?

Mau saya bantu buatin contoh perhitungan ramalan produksi (Forecasting) sederhana agar stok barangmu nggak kelebihan atau tips “Cara Mengurangi Lead Time pada Sistem MTO”? Cek juga info kurikulum industri masa depan kami di: