Dalam penelitian kuantitatif, terutama di bidang pendidikan dan ilmu sosial, penggunaan skala Likert menjadi salah satu teknik pengukuran yang paling umum. Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi responden terhadap suatu fenomena. Bagi mahasiswa di lingkungan FKIP, termasuk program studi Bimbingan dan Konseling serta Pendidikan Bahasa Inggris, pemahaman tentang penyusunan skala Likert menjadi keterampilan penting dalam menyusun skripsi maupun penelitian ilmiah lainnya.
Di lingkungan akademik seperti di Ma’soem University, pengembangan kemampuan metodologis menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terstruktur. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat dalam penelitian lapangan.
Pengertian Skala Likert
Skala Likert merupakan metode pengukuran yang dikembangkan oleh Rensis Likert. Skala ini biasanya terdiri dari beberapa pernyataan yang diikuti oleh pilihan jawaban berjenjang, seperti:
- Sangat Setuju (SS)
- Setuju (S)
- Netral (N)
- Tidak Setuju (TS)
- Sangat Tidak Setuju (STS)
Setiap pilihan jawaban diberikan skor numerik, misalnya 5 hingga 1, tergantung pada arah pernyataan (positif atau negatif). Skala ini memudahkan peneliti dalam mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif yang dapat dianalisis secara statistik.
Langkah-Langkah Menyusun Skala Likert
1. Menentukan Variabel Penelitian
Langkah awal adalah menentukan variabel yang ingin diukur. Variabel ini harus jelas dan relevan dengan tujuan penelitian. Misalnya, dalam penelitian tentang motivasi belajar, variabel yang diukur adalah tingkat motivasi siswa.
Di program studi seperti Bimbingan dan Konseling, variabel yang sering digunakan berkaitan dengan aspek psikologis, seperti kepercayaan diri, kecemasan, atau minat belajar.
2. Menentukan Indikator Variabel
Setelah variabel ditentukan, langkah berikutnya adalah menguraikan variabel tersebut menjadi beberapa indikator. Indikator berfungsi sebagai turunan dari variabel utama yang lebih spesifik.
Contohnya, variabel “motivasi belajar” dapat memiliki indikator seperti:
- Keinginan untuk belajar
- Ketekunan dalam belajar
- Perhatian terhadap pelajaran
Indikator ini akan menjadi dasar dalam penyusunan butir pernyataan.
3. Menyusun Butir Pernyataan
Butir pernyataan merupakan inti dari skala Likert. Pernyataan harus disusun secara jelas, tidak ambigu, dan sesuai dengan indikator yang telah ditentukan.
Terdapat dua jenis pernyataan:
- Pernyataan positif (mendukung variabel)
- Pernyataan negatif (berlawanan dengan variabel)
Contoh:
- Positif: “Saya merasa semangat belajar setiap hari.”
- Negatif: “Saya sering merasa malas untuk belajar.”
Penggunaan pernyataan negatif penting untuk menghindari jawaban yang terlalu monoton dari responden.
4. Menentukan Skor Jawaban
Setiap pilihan jawaban dalam skala Likert harus diberi skor. Contoh umum:
| Jawaban | Skor |
|---|---|
| Sangat Setuju | 5 |
| Setuju | 4 |
| Netral | 3 |
| Tidak Setuju | 2 |
| Sangat Tidak Setuju | 1 |
Untuk pernyataan negatif, skor biasanya dibalik. Hal ini penting agar hasil analisis tetap konsisten.
5. Menyusun Kuesioner
Kuesioner disusun dengan menggabungkan semua butir pernyataan. Urutan pernyataan sebaiknya dibuat secara acak agar responden tidak mudah menebak pola jawaban.
Selain itu, kuesioner perlu dilengkapi dengan petunjuk pengisian yang jelas. Hal ini membantu responden memahami cara menjawab setiap pernyataan.
6. Uji Validitas dan Reliabilitas
Sebelum digunakan dalam penelitian utama, skala Likert perlu diuji terlebih dahulu.
- Validitas: untuk mengetahui apakah instrumen benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur
- Reliabilitas: untuk mengetahui konsistensi hasil pengukuran
Uji ini biasanya dilakukan melalui uji coba (try out) pada sejumlah responden.
Tips Menyusun Skala Likert yang Baik
Agar skala Likert yang disusun memiliki kualitas yang baik, beberapa hal berikut perlu diperhatikan:
- Gunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami
- Hindari pernyataan yang terlalu panjang
- Pastikan setiap pernyataan hanya mengandung satu ide
- Hindari istilah yang bersifat ambigu
- Sesuaikan pernyataan dengan konteks responden
Mahasiswa FKIP, khususnya di lingkungan akademik seperti Ma’soem University, biasanya mendapatkan bimbingan dari dosen dalam menyusun instrumen penelitian. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Beberapa kesalahan umum dalam penyusunan skala Likert antara lain:
- Pernyataan terlalu umum sehingga sulit diukur
- Tidak adanya indikator yang jelas
- Penggunaan bahasa yang membingungkan
- Tidak melakukan uji validitas dan reliabilitas
- Skala jawaban tidak konsisten
Kesalahan-kesalahan tersebut dapat mempengaruhi kualitas data yang diperoleh dan berdampak pada hasil penelitian secara keseluruhan.





