Investasi saat ini menjadi keharusan, termasuk bagi generasi milenial maupun mahasiswa. Bahkan bagi generasi milenial yang sudah berkeluarga, investasi menjadi solusi untuk menjawab kebutuhan di masa depan yang semakin mahal.
Menurut Stefanus Adi Utomo, Chief Marketing Officer PT Moduit Digital Indonesia, di kalangan milenial kini dikenal istilah generasi sandwich, yaitu generasi milenial yang sudah menikah dan punya anak.
Selain sudah berkeluarga, generasi sandwich juga masih harus membantu kehidupan orang tua mereka. Kebetulan, orang tua generasi sandwich biasanya kurang mempersiapkan secara finansial dalam mengisi masa tuanya. Kondisi ini menjadi beban generasi sandwich. Sehingga posisi mereka berada di tengah-tengah, terjepit seperti sandwich.
“Kaum milenial yang mulai berkeluarga, mereka harus menafkahi keluarga, di sisi lain dia punya tanggung jawab pada orang tua mereka. Jadi mereka kaya sandwich, terjepit di tengah-tengah,” terang Stefanus Adi Utomo, di sela Peluncuran Aplikasi Moduit Advisor di Kantor Moduit Bandung, Kamis (20/2/2020).
Dalam kondisi terjepit itu, generasi sandwich mulai sadar bahwa mereka perlu mengantisipasi masalah finansial di masa depan. Stefanus melihat saat ini generasi sandwich mulai sadar akan pentingnya berinvestasi. “Jadi investasi di kalangan milenial khususnya generasi sandwich sudah mulai aware,” katanya.
Maka generasi sandwich ini mulai banyak mengakses literasi keuangan yang disampaikan influencer, komunitas dan media sosial. Mereka berkenalan dengan produk-produk investasi yang beragam, mulai reksa dana, saham, emas, deposito, atau yang paling sederhana tabungan.
“Mereka mulai berinvestasi. Investasinya macam-macam karena mereka tertarik dengan program penambahan uang untuk menunjang kebutuhan mereka,” terangnya.
Sayangnya masih ada generiasi sandwich yang kurang hati-hati dalam berinvestasi. Tidak sedikit dari mereka yang terjebak pada manajemen investasi yang bermasalah, ada juga yang kena tipu investasi bodong atau fiktif.
Untuk itu, generasi sandwich membutuhkan lebih banyak lagi literasi keuangan. Stefanus yang bekerja di bidang jasa investasi digital, mengaku sering melakukan roadshow literasi keuangan ke kampus-kampus bersama influencer dan komunitas. Tujuannya agar literasi keuangan semakin menyebar. Dengan begitu, iklim investasi terus tumbuh sekaligus meminimalkan korban investasi bodong.
Ia yakin, ke depan investasi semakin pesat. Hal ini ditopang dengan animo investasi yang dilakukan generasi milenial. Moduit, sebuah platform investasi reksa dana daring, pun berusaha menjaring milenial sebanyak-banyaknya untuk mengikuti program investasi.
Sebagai gambaran, investasi di Indonesia pada Desember 2018 diikuti sebanyak 1,6 juta orang. Jumlah ini naik pada 2019 sekitar 2,45 juta orang. Meski demikian, jumlah tersebut jauh lebih kecil dibandingkan total penduduk Indonesia. Tetapi data tersebut menunjukan terjadi pertumbuhan investasi yang signifikan.
“Peluang investasi di Indonesia sekarang masih besar terutama di kalangan milenial ada pertumbuhan. Jadi animonya sangat tinggi,” katanya.





