Mahasiswa menjadi kalangan yang rentan mengalami gangguan kejiwaan, baik stres, depresi, bahkan sampai percobaan bunuh diri. Di sisi lain masalah gangguan kejiwaan pada mahasiswa dinilai belum mendapatkan perhatian serius.
Padahal mahasiswa adalah generasi penerus yang merupakan calon pemimpin bangsa. “Jadi kalau mereka ada masalah kesehatan jiwanya itu akan sangat merugikan kita semua,” kata psikiater Melinda Hospital, Bandung, Teddy Hidayat dr, Sp.KJ (K).
Teddy menyebut layanan kesehatan mental di fasilitas-fasilitas kesehatan juga belum dicover BPJS. Sehingga banyak orang yang memiliki gangguan jiwa tetapi enggan memeriksakan diri karena harus berbayar. Mereka juga menghadapi stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Secara global, kasus depresi dan bunuh diri mengalami peningkatan. Ia menyebut di dunia terjadi 800 ribu orang meninggal dunia karena bunuh diri per tahunnya. Di Indonesia diperkirakan jumlah bunuh diri mencapai 10 ribu orang per tahun.
“Jadi setiap satu jam ada orang yang meninggal karena bunuh diri. Kami mendapatkan angka bunuh diri di masyarakat Indonesia tinggi sekali,” kata Teddy.
Ia menjelaskan, 80 persen bunuh diri disebabkan gangguan jiwa terutama depresi. Penyebab depresi sendiri ada dalam aspek kehidupan, mulai dari ekonomi, pekerjaan, keluarga, dan lain-lain.
“Tapi menurut saya yang paling penting adalah keluarga. Faktor di keluarga seringkali menjadi pencetus untuk kejadian bunuh diri,” terang Teddy.
Melinda Hospital sendiri membuka layanan konsultasi kejiwaan khusus bagi mahasiswa secara cuma-cuma. Program ini terutama menyasar mahasiswa yang memiliki masalah ekonomi. “Permasalahannya kasus bunuh diri tidak diganti atau dicover BPJS. Maka kami di sini selain melayani juga memberi fasilitas untuk para mahasiswa mulai dari yang tidak mampu, sama sekali ga punya baya silakan datang,” katanya.
Mengapa mahasiswa atau generasi muda di Indonesia rentan depresi dan bunuh diri? Banyak faktor yang menjadi pemicunya, mulai keluarga, pekerjaan atau tugas, hubungan pertemanan (termasuk pacaran), dan masalah terkait lingkungan sosial lainnya.
Tim psikiater Melinda Hospital telah melakukan penelitian terhadap 441 mahasiswa. Dari jumlah ini, sebanyak 24 orang pernah mencoba atau masih berpikir untuk melakukan bunuh diri. Penelitian dilakukan tahun 2019 dengan sampel mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Bandung.
Data kunjungan ke klinik psikiatri Melinda Hospital juga menunjukkan angka signifikan, yakni 741 mahasiswa perbulannya atau rata-rata 30 orang perharinya. Mereka datang dalam kondisi kejiwaan yang beragam, mulai sebatas konseling biasa, stres, depresi, hingga punya ide melakukan bunuh diri.
Elvine Gunawan, dr SpKJ,salah satu peneliti, bilang dari jumlah tersebut yang murni karena memiliki ide bunuh diri sebanyak 14-24 orang. “Kunjungan depresinya hampir 80 orang mahasiswa. Itu angkanya di Melinda Hospital doang,” kata Elvine.





