Indonesia kaya akan tanaman herbal yang berpotensi melawan berbagai macam penyakit termasuk diabetes mellitus alias penyakit kencing manis. Salah satu tanaman herbal yang diyakini bisa mengendalikan kadar gula dalam darah ialah daun stevia (Stevia rebaudiana).
Menurut Prof Dr Keri Lestari Dandan M Si. Apt, daun stevia merupakan salah satu tanaman yang mempunyai khasiat antidiabetes. Ia menuturkan, pasien diabetes sulit mengendalikan kadar gula darah walaupun mereka patuh mengkonsumsi obat. Penyebabnya, rendahnya kepatuhan pasien dalam mengendalikan pola hidup khususnya membatasi konsumsi gula/pemanis.
Tanam stevia sendiri memiliki senyawa steviosida yang mempunyai potensi, fungsi, dan karakteristik pemanis yang lebih besar dari jenis-jenis pemanis lainnya, yaitu sekitar 200 hingga 300 kali sukrosa. Selain itu steviosida juga mempunyai efek antidiabetes yang signifikan. Sehingga stevia dapat digunakan sebagai alternatif pencegahan dan terapi penyakit diabetes.
Keri menuturkan, beberapa penelitian menyebutkan bahwa steviosida mengandung kaori yang rendah sampai dengan nol kalori, sehingga aman bagi penderita diabetes atau konsumen yang ingin mengendalikan berat badan.
Khasiat stevia diperkuat dengan uji preklinik terhadap ramuan teh stevia yang diterapkan pada tikus putih jantan berpenyakit diabetes mellitus tipe 2. Kondisi tikus mengalami hiperglikemia yang dipicu pemberian pakan tinggi lemak dan tinggi karbohidrat. Pakan ini menyebabkan kadar lemak dalam darah tikus meningkat.
Tikus yang telah mengalami hiperglikemia dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu, kelompok kontrol negatif, control positif, dan kelompok uji 1 dan uji 2. Kelompok kontrol negatif diberikan ramuan teh tanpa stevia. Kontrol positif diberikan obat antidiabetes yaitu metformin dosis 45 mg/kg BB, kelompok uji 1 diberi teh stevia formula A, dan kelompok uji 2 diberi teh stevia formula B.
Uji coba dilakukan selama 7 hari. Hasilnya, kelompok kontrol negatif mengalami kenaikan dula darah (GDP), sedangkan pada kelompok kontrol positif dan kelompok uji ramuan herbal teh stevia menunjukkan fenomena yang sama yaitu mengalami penurunan kadar GDP.
Pada kelompok kontrol negatif yang diberi ramuan teh ranpa stevia mengalami kenaikan kadar glukosa darah, hal ini menunjukkan bahwa teh yang diberikan tidak mampu mengendalikan kadar glukosa darah, berbeda dengan kelompok kontrol positif dan kelompok uji.
Sementara kelompok kontrol positif yang diberikan obat antidiabetes metformin mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 48.61 %. Pada kelompok uji 1 kadar glukosa darah turun sebesar 31.8 % dan untuk kelompok uji 2 turun sebesar 38.9 %.
Penelitian juga dilakukan terhadap tikus yang puasa. Tikus tersebut dilakukan pengukuran kadar glukosa darah. Hasilnya menunjukkan fenomena peningkatan kadar gula darah pada kelompok kontrol negatif yang diberikan teh tanpa stevia. Untuk kelompok kontrol positif dan kelompok yang diberi ramuan teh dan stevia menunjukkan performa yang sama-sama mampu menurunkan kadar gula darah.
Menurut Keri, penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang sudah dicatat literatur ilmiah yang menyatakan bahwa daun stevia mampu menurunkan kadar glukosa darah sebesar 35%. “Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui uji aktivitas antidiabetes teh stevia dapat mengendalikan kadar gula dalam darah,” terang Keri, dikutip dalam naskah orasi ilmiahnya yang membahas diabetes.
Keri menambahkan, latar belakang tersebut menginspirasinya untuk mengembangkan makanan fungsional (nutraceutical) yang bermanfaat membantu pasien diabetes dalam pengendalian gula darah.
Tanaman stevia menjadi bahan pokok nutraceutical tersebut, berupa teh herbal. Sebab pemanis stevia dapat memenuhi hasrat para diabetisi (orang dengan diabetes) untuk tetap menikmati rasa manis dari makanan/minuman, namun aman karena tidak memicu peningkatan gula darah dan bahkan dapat membantu mengendalikan kadar gula darah. Teh herbal stevia kemudian dipatenkan dengan merek Teh Dia. Teh ini kemudian dihilirisasi bersama PT DPE dan telah mendapatkan izin edar dari BPOM RI.
Sementara itu, Indri Mulyani Bunyamin S.Farm.Apt, mengatakan diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang angka insidensi dan prevalensinya terus meningkat, sehingga berkembang menjadi salah satu ancaman kesehatan global. “WHO memprediksi kenaikan juimlah penyandang diabetes mellitus di Indonesia naik dari 8,4 juta tahun 2000 menjadi 21,3 juta pada tahun 2030,” sebut Indri Mulyani Bunyamin, dalam buku Konseling Apoteker untuk pasien Diabetes Melitus yang ditulis Keri Lestari, Melisa I Barliana, Dr. Med. Sc. Apt., Didi Permana, M.Farm., Apt., (Februari 2019, Unpad Press).
Pada buku yang sama disebutkan, diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, resistensi insulin atau keduanya. Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik berupa peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi batas normal. Hiperglikemia merupakan salah satu tanda khas penyakit diabetes mellitus. Penyakit ini bisa menimbulkan komplikasi pada mata, saraf, pembuluh darah, dan ginjal.
Di Fakultas Pertanian Universitas Ma'soem, khususnya Prodi Teknologi Pangan, mahasiswa akan dibekali mengani dasar-dasar ilmu tanaman beserta khasiat yang terkandung di dalamnya.





