E3f5f60abe08c758

Mengenal Kertas Papyrus Asli Indonesia di Bandung

Kertas sering disebut sebagai bukti suatu peradaban manusia. Lewat kertas, peristiwa sejarah dicatat dan dibaca dari generasi ke generasi. Di Mesir, ada kertas papyrus yang mengabadikan kejayan negeri piramida itu di masa lalu.

Papyrus sendiri merupakan jenis kertas kuno yang hingga kini masih bisa didapatkan sebagai oleh-oleh. Tapi bukan hanya Mesir yang punya kertas khas papyrus. Di nusantara ada kertas daluang. Sama seperti papyrus, kertas daluang dibikin secara tradisional.

Namun kertas daluang yang merupakan peninggalan peradaban nusantara, sekarang kurang dikenal generasi kekinian. Padahal pembuat kertas daluang masih ada meski jumlahnya sedikit dan tersebar di nusantara, salah satunya di Bandung.

Mufid Sururi, pengrajin kertas daluang di Bandung, mengakui bahwa kertas khas nusantara ini kurang dikenal. Mufid sehari-hari menekuni pembuatan kertas daluang sebagai bahan dasar berbagai kerajinan, mulai kanvas lukisan, kertas tulis, hingga kertas yang menjadi bahan perkusi.

Kertas daluang berasal dari pohon daluang atau saeh (paper mulberry/Broussonetia papyrifera). Kertas ini dinilai memiliki keantikan yang sama dengan papyrus di Mesir, washi di Jepang, hanji di Korea yang semuanya merupakan kertas tradisional. Mufid berharap, kertas daluang bisa lestari dan populer seperti kertas-kertas tradisional dari negara lain.

Menurut Mufid, Mesir masih memproduksi papyrus. Bahkan papyrus bisa didapatkan di kawasan Tegalega, Bandung. “Jadi papyrus tidak dilupakan, tapi jadi komoditas ekspor oleh Mesir,” katanya.

Hal serupa terjadi pada kertas tradisional Jepang, washi, yang masih dipakai untuk merestorasi naskah-naskah kuno hingga dijadikan dinding rumah atau soji. Begitu juga Korea Selatan yang menjadikan hanji sebagai buah tangan pariwisata.

Namun Mufid menyayangkan dengan nasib kertas daluang yang keberadaannya nyaris punah, hanya digeluti beberapa pengrajin yang sudah sepuh dan terancam kehilangan penerus. Mufid yakin, daluang punya potensi besar jika dipromosikan. Kertas ini bisa menjadi produk ekslusif mandiri maupun sebagai komponen dari suatu produk.

Sebagai contoh, daluang bisa menjadi bahan untuk mencetak merek gitar, menjadi piagam penghargaan, kanvas lukisan, tas, topi, penutup lampu, kain, dan lainnya. “Saya juga bikin komponen alat musik dari daluang, dan bagus,” kata pria yang menggeluti daluang sejak 2006.

Mufid membuat daluang sebagai komponen utama perkusi dari tanah liat yang bagian mulutnya ditutup kertas daluang, bukan dari kulit sebagaimana perkusi umumnya. Tapi bentuk dan suaranya seperti rebana atau tam-tam. Perkusi tersebut dibuat dari berlapis-lapis kertas daluang sehingga kuat saat dipukul.Tak hanya daluang, Mufid memanpaatkan batang-batang pohon daluang menjadi seruling.

Mufid menegaskan, kertas daluang merupakan warisan leluhur yang layak dipertahankan dan dilestarikan. Potensi untuk menggali nilai ekonomis dari kertas ini pun ada, tinggal niat dan kemauan dari pemangku kebijakan. Meski demikian, pada 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kertas hasil tempaan kulit kayu pohon saeh tersebut ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Mufid berharap ada kelanjutan untuk mengangkat derajat daluang dari sisi pendidikan maupun ekonomi.

Di sekolah maupun di fakultas seni, ia belum menemukan pelajaran tentang seni membuat daluang. Padahal dalam sejarahnya, kertas daluang erat kaitannya dengan desain grafis, gambar, lukis, sablon, percetakan dan lainnya. Lalu di bidang ekonomi, ia belum melihat upaya menjadikan kertas daluang sebagai oleh-oleh pariwisata.