Studi Kasus Jaringan Distrubusi Canadian Pharmaceutical (Pembahasan Manajemen Operasional)

Dunia jasa kesehatan saat ini menjadi sebuah kebutuhan penting untuk masyarakat, baik yang berada di pedesaan, terlebih untuk yang berada di perkotaan. Namun fakta unik yang dapat kita amati adalah semakin majunya teknologi di dalam dunia kesehatan, justru semakin banyak masyarakat perkotaan yang mengidap penyakit yang tidak biasa sehingga membutuhkan dana besar untuk kesembuhannya. Bisa dikatakan bahwa manusia yang merasa Bahagia dan sejahtera adalah yang sehat jasmani dan rohani, maka dari itu tidaklah berlebihan ketika berpendapat bahwa kesehatan merupakan kebutuhan dasar manusia.

            Ketika seseorang mengalami masalah dengan kesehatannya, maka yang biasanya dilakukan adalah menemui Dokter. Tingkatan layanannya pun berbeda – beda di setiap tempatnya, dari mulai level puskesmas hingga level rumah sakit bertaraf internasional. Manajamen Rumah Sakit menjadi salah satu topik yang sangat menarik untuk dibahas secara komprehensif dan menyeluruh. Prosedur yang sederhana dengan biaya murah merupakan keinginan semua pasien yang ada. Namun untuk mencapai itu semua dibutuhkan proses manajerial yang professional agar operasional rumah sakit bisa berjalan sebagaimana mestinya. Jika berbicara mengenai rumah sakit, maka hal tersebut tidak bisa dilepaskan dari dunia Farmasi. Setiap klinik atau rumah sakit yang memiliki tenaga medis biasanya sudah bekerjasama dengan perusahaan Farmasi atau minimal sudah ada Tenaga Apoteker di dalamnya. Seperti halnya rumah sakit, industry Farmasi pun harus bisa dikelola dengan baik supaya racikan obat sesuai standar keamanan serta operasional dari Pabrik ke rumah sakit atau ke pasien langsung bisa berjalan lancer.  

            Kali ini penulis akan membahas mengenai studi kasus jaringan distribusi dari Canadian Pharmaceutical. Perusahaan ini merupakan Perusahaan yang memberian jasa layanan antar untuk alat-alat kesehatan dan produk obat-obatan. Produk -produk tersebut didapat dari produsen / perusahaan lain yang khusus memproduksi obat-obatan (manufaktur obat). Selain itu, mereka juga menjadi perusahaan logistik yang bekerjasama dengan beberapa rumah sakit. Adapun alur distribusi yang biasanya dilakukan adalah produk yang didapatkan kemudian disimpan di tempat khusus, semacam Warehouse sebagai persediaan yang nantinya didistribusikan ke customer (dalam hal ini rumah sakit tertentu). Sebelumnya Rumah sakit tersebut memesan kepada kantor Canadian Pharmaceutical dimana mereka mengintegrasikan katalog produknya dan jika sudah ada pemesanan maka akan dikirimkan invoice. Canadian Pharmaceutical sendiri sudah memiliki kerjasama dengan sebuah Pabrik Obat yang nantinya akan dilakukan sharing profit jika berhasil menjual dalam jumlah tertentu. Maka dari itulah, ketepatan waktu sangat diperlukan baik saat mendapatkan produk dari produsen maupun saat diantar ke customer untuk meminimalkan complain. Selain itu, Quality control dan final check sangat dibutuhkan sebelum akhirnya sampai di tanga konsumen (untuk menghindari produk yang cacat).

3 Perfomance indicatiors monthly (Reported by CPDN's Warehouse Manager) :

  1. Inventory Accuracy (based on percentage of the dollar value of inventory on hand as verified by a physical count versus inventory on record )
  2. On-time Shipments (measured by the number of some-day shipments as a percentage of the total )
  3. Receiving turnaround time (based on the number of shipments received and stocked in 24 hours as a percentage of the total shipments received from the pharmaceutical manufacturers ).

Core Problem: Peter, sebagai manajer operasi merasa bahwa semuaya berjalan dengan baik. Namun kenyataannya Supply Chain yang berlangsung tidak berjalan dengan semestinya, seperti :

  1. Keterlambatan yg sering terjadi
  2. Beberapa produk yang cacat
  3. Transportasi yang kurang efektif & Efisien

Jika dilihat dari beberapa dasar masalahnya, maka Solusi yang bisa manajerial pertimbangkan adalah:

  1. Pembenahan di sektor transportasi, karena merupakan salah satu faktor kunci dari supply chain management
  2. Peningkatan sistem pengawasan dari pihak manajemen (Quality of Management)
  3. Peningkatan kedisiplinan dari segi waktu baik saat pengambilan dari produsen maupun saat pengantaran kepada konsumen