8e62f3bd7b7166ef

Membangun Mental Entrepreneur

ERA Revolusi Industri 4.0 (RI 4.0) kehadirannya ditandai dengan munculnya Internet of Things (IoT) yang mampu menghubungkan konektivitas antara manusia, mesin dan data. Revolusi industry 4.0 pun bisa dikatakan sebagai era yang segala aktifitasnya berbasis jaringan yang mencakup siber fisik, internet, maupun komputasi kognitif.

Setiawan (2017) menyebutkan, telah banyak perubahan yang terjadi semenjak era industry ke empat ini hadir, mulai dari gaya hidup yang tidak bisa lepas dari perangkat elektronik, masyarakat kini telah dimudahkan aksesnya terhadap informasi melalui banyak cara, serta dapat menikmati fasilitas teknologi digital dengan bebas.

Perubahan revolusioner juga terjadi pada bidang perekonomian, utamanya dalam hal sistem jual beli yang dikenal dengan sebutan sektor perdagangan elektronik (e-commerce) kini tidak perlu lagi membuka lapak secara konvensional, melalui inovasi yang dihadirkan pada era revolusi dunia ke empat ini, system perdagangan elektronik ini justru menjadi jejaring yang memudahkan proses transaksi jual beli.

Negara Indonesia memiliki posisi kelima di dunia sebagai pengguna internet, yaitu 143,26 Juta per Maret 2019 setetlag China, Amerika Serikat, India dan Brazil. Pada tahun 2020 ini meningkat menjadi 175,4 juta, yaitu 64% dari 272,1 juta populasi penduduk Indonesia dan trends ini diprediksikan cenderung terus meningkat.

Saat ini terjadi perubahan Market Behaviour Shifting, ketika sebelumnya konvensional menjadi Digital. Terbukti transaksi online Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat menjanjikan. Secara keseluruhan, telah terjadi pergeseran perilaku pasar dari konvensional menuju online atau digital semakin nyata terlihat. Pasar e-commerce dunia mencapai USD 1,29 Triliun dan wilayah Asia Pasifik khusunya Indonesia menjadi market share yang padat.

Penetrasi pasar Digital Indonesia berdasarkan data dari Kementrian Koperasi dan UKM, baru mencapai 7%, sementara 93% lainya adalah pemain Asing atau luar negeri. Artinya menjadi sebuah pertanyaan menarik khususnya bagi para milenial atau anak muda Indonesia menyongsong generasi emas dengan bonus demografi yang semuanya pasti menggunakan internet, apa yang bisa dihasilkannya?

Pandemi Covid19 terbukti telah mempercepat akselerasi Transformasi Ekonomi digital, fenomena tersebut diatas harus dijawab dengan adanya peluang Entrepreneur. Syarat untuk menjadi negara maju ialah jumlah pelaku entrepreneur harus lebih dari 4% dari rasio penduduknya. Sementara di Indonesia, pelaku entrepreneur baru 3,1% sehingga perlu diadakan percepatan dan kemudahan agar pelaku ekonomi Indonesia bisa meningkat jauh.

Kunci utamanya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang produktif dan berkualitas dalam kewirausahaan, sebagai wirausaha yang perlu diprakasai adalah sikap mental sebagai seorang pengusaha. mental entrepreneur merujuk pada suatu pola pikir yang memberikan pengaruh dalam proses tingkah laku seseorang dalam menciptakan sesuatu yang positif, yang sangat bernilai dan berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.

Membangun mental entrepreneur adalah proses membentuk kebiasaan atau pola pikir yang dapat membawa perubahan, ide-ide dan inovasi-inovasi baru, yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar. Karakter inilah yang menjadi fondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning) seorang wirausaha.

Napoleon Hill dalam buku yang berjudul Think and grow Rich “Berpikir dan Menjadi Kaya” merupakan hasil dari 20 tahun penelitian dan wawancara lebih dari 500 orang-orang tersukses di bidang entrepreneur hingga di berbagai macam disiplin ilmu, diantaranya adalah Alexander Graham Bell, Woodrow Wilson, dan Thomas Alfa Edison.

Dari hasil kajiannya Napoleon Hill (2016) memformulasikan beberapa point penting dalam membentuk mentalitas entrepreneur diantaranya adalah, seorang entrepreneur memiliki hasrat atau keinginan dalam dirinya, kepercayaan atau keyakinan pada diri sendiri, usaha yang pantang menyerah, membuat perencanaan, bertindak, memiliki spesialisasi, imajinatif, rencana, melakukan langkah besar, memberdayakan pikiran bawah sadar dan indera keenam (IGA Adi;2019).

Selanjutnya konsep membangun mental entrepreneur agar siap menghadapi tantangan dan peluang revolusi industry 4.0 adalah memiliki intergritas 4 pilar manajemen bisnis ala Rasulullah yaitu Shidq (jujur), Amanah (bertanggung jawab), Tabligh (komunikasi yang efektif), dan Fathanah (profesional, kreatif dan inovatif). Alhasil, Jika seorang muslim ingin menjadi entrepreneur yang sukses maka harus meniru sifat-sifat nabi tersebut.