Seperti yang sudah dijelaskan dalam artikel sebelumnya bahwa analisis makanan menjadi suatu hal yang cukup penting mengingat tidak sedikit produk yang beredar di pasaran memiliki kandungan yang berbeda dengan apa yang diiklankan. Seperti yang dikkutip dari buku Analisis Komponen Makanan karya Dr. Abdul Rohman, M.Si., Apt., untuk mengetahui hal tersebut sebenarnya hanya memerlukan sejumlah sampel saja.
Sebelum dilakukan analisis dengan teknik analisis yang sesuai sampel harus dipersiapkan terlebih dahulu konsep dasar metode penyiapan sampel adalah untuk mengubah matriks sampel sebenarnya menjadi suatu bentuk sampel yang sesuai untuk dianalisis lebih lanjut tujuan penyiapan sampel adalah sebagai berikut:
- menghilangkan pengganggu yang potensial Yang dapat mengganggu selama analisis sampel baik pada tahap pemisahan sampel atau pada tahap deteksi dengan demikian penyiapan sampel dapat meningkatkan selektivitas metode
- untuk meningkatkan konsentrasi analit dan karenanya akan meningkatkan sensitifitas pengujian
- jika diperlukan penyiapan sampel dapat mengubah analit menjadi bentuk yang sesuai untuk dilakukan pemisahan maupun deteksi
- untuk memberikan suatu metode yang tahan dan yang tidak tergantung pada variasi matriks sampel
Hampir semua bahan makanan merupakan suatu campuran yang kompleks yang tersusun atas berbagai macam senyawa kimia yang membuatnya sulit untuk diisolasi dan diidentifikasi. Oleh karena itu analisis bahan makanan seringkali didahului dengan prosedur prosedur ekstraksi pemisahan atau pemekatan sebelum dianalisis lebih lanjut dengan instrumen yang akan digunakan untuk analisis. Berikut adalah teknik teknik penyiapan sampel yang dapat digunakan untuk melakukan isolasi analit yang dituju:
1. Filtrasi
Filtrasi sampel merupakan suatu bagian yang penting dalam penyiapan sampel, terutama jika analis dilakukan dengan kromatografi cair kinerja tinggi, yang mana adanya partikel-partikel yang tidak larut dan dapat menutup kolom. Efisiensi filtrasi ditentukan oleh porositas penyaring. Berbagai macam penyaring dapat digunakan seperti kertas fiber kaca ataupun penyaring membran
2. Digesti
Digesti basah dalam suatu sistem tertutup, dengan penambahan reagen untuk melarutkan dan atau mengoksidasi sampel sampel organik telah dikenal sejak kurang lebih tahun 1834. digesti dapat dilakukan dengan pemanas gelombang mikro atau microwave dengan penambahan asam seperti asam nitrat atau asam sulfat untuk melarutkan dan mengoksidasi senyawa-senyawa organik sehingga dihasilkan suatu ion bebas. Digesti dengan microwave ini lebih cepat dibanding dengan digesti basah digesti juga dapat dilakukan dengan fotolisis sinar UV dan dengan menggunakan hidrogen peroksida untuk merusak senyawa organik dengan radikal hidroksil sehingga diperoleh ion-ion bebas Teknik ini membutuhkan reagen dalam jumlah sedikit akan tetapi membutuhkan waktu yang lama.
teknik digesti tergantung pada bahan makanan yang akan dianalisis karbohidrat dapat dengan mudah di mineralisasi dengan asam nitrat pada suhu 180 derajat Celcius sedangkan lemak protein dan asam amino mengalami digesti tidak sempurna dengan asam nitrat disebabkan oleh potensial oksidasi asam nitrat pada suhu 200 derajat Celsius lebih rendah sehingga dibutuhkan penambahan asam perklorat untuk memperoleh hasil digesti yang sempurna akan tetapi penggunaan asam perklorat dibatasi oleh masalah-masalah terkait dengan penggunaan suhu dan tekanan yang tinggi.
3. Ekstraksi
Teknik ini cukup populer di masyarakat. Pembahasan yang lebih detail akan dibahas pada artikel beikutnya





