Masih membahas strategi pemasaran “mulut ke mulut”, di era revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan semakin berkembangnya teknologi informasi dan sosial mmedia ini, para pelaku usaha harus mampu mengoptimalkan / memaksimalkannya untuk memperluas pasar.
Ada banyak media yang bisa di gunakan dalam hal ini, sebut saja Facebook,Twitter, Instagram, YouTube, dan whatsapp yang sekarang orang bisa dengan leluasa membangun komunikasi dan komunitas social untuk saling berbagi (share) bukan hanya tulisan, cerita, cuitan, tapi bisa gambar juga video atau file lainnya. Era digital saat ini juga masih banyak lagi media sosial yang bisa digunakan secara gratis untuk media promosi.
Begitupun di sekolah atau Lembaga Pendidikan lainnya, keberadaan sekolah di tengah persaingan yang ada akan menjadikan sekolah sebagai salah satu bentuk jasa pendidikan harus mampu untuk membaca segala peluang dan ancaman yang ada serta dituntut untuk mampu melaksanakan strategi pemasaran dan meningkatkan pelayanan yang ada agar sekolah dapat bertambah dan berkembang lebih maju.
Untuk mencapai hal itu, para pengelola sekolah harus menerapkan konsep pemasaran modern yang berorientasi pasar atau pelanggan karena mereka merupakan ujung tombak keberhasilan pemasaran (Kuswanto, 2005; Riswono, 2010). Kualitas layanan merupakan salah satu faktor kunci bagi keberhasilan sebuah sekolah sebagai industri yang menawarkan produk jasa pendidikan.
Selanjutnya tidak ada yang lebih penting selain menempatkan masalah Positive Word of Mouth (positive WOM) terhadap pelanggan melalui pelayanan sebagai salah satu komitmen bisnisnya. Jika pelayanan yang diberikan kepada pelanggan itu baik dan memuaskan maka akan berpengaruh pada positive word of mouth (Enis et al., 1988; Luo, 2007).
Maka pendekatan atau cara terbaik untuk menjalankan strategi word of mouth ini terutama di era digital adalah dengan memberikan kualitas produk yang terbaik, dengan sendirinya para konsumen akan dengan sukarela membagikan informasi kepada rekan-rekannya bila ia puas atau mungkin kecewa terhadap produk. Strategi ini tentunya berbeda dengan strategi pemasaran lain yang membutuhkan biaya, strategi pemasaran yang satu ini tidak membutuhkan biaya sama sekali. Kuncinya, kualitas produk dan pelayanan yang baik. Itu adalah harga mati agar informasi positif mengenai produk yang di tawarkan, dapat tersebar ke berbagai orang melaui mulut ke mulut atau pun secara berbagi kabar digital.
Selanjutnya dikutip dari entrepreneur.com sebuah bisnis harus fokus menciptakan layanan yang dapat mengubah pelanggan menjadi penggemar yang tidak berhenti membicarakan produk Anda. Bila sudah sampai pada tahap tersebut, itu sudah mengindikasikan bahwa produk kita sudah melampaui ekspektasi pelanggan dengan kualitas produk maupun layanan yang diberikan. Dan untuk sampai tahap ini, maka pelanggan harus mampu merasa bahwa ia tidak sekadar membeli sebuah produk, tetapi terbantu atau merasa lebih baik ketika membeli produk kita.
Mencari dan mendapatkan pelanggan merupakan salah satu hal sulit saat dalam bisnis kita, dan mempertahankan pelanggan akan menjadi lebih sulit lagi. Artinya kita harus memberikan perhatian lebih untuk menciptakan kepuasan dan keloyalan pelanggan. Hal ini akan menjadi salah satu aset penting dalam menjalankan dan mengembangkan sebuah bisnis.
Alhasil, menjaga hubungan baik dengan pelanggan adalah salah satu strategi pemasaran yang efektif untuk mempertahankan pelanggan di tengah persaingan bisnis. Hubungan yang baik dengan pelanggan secara otomatis akan membuat pelanggan loyal, sedangkan pelanggan yang kecewa akan meninggalkan kita dan berpaling ke penjual lainnya. Maka cara terbaik dalam pelayanan kita adalah jangan membuat atau menimbulkan rasa kecewa pelanggan.





