080c2310f7d1e7e0

Ramadhan Era 4.0 dan Mudik Virtual

Pemerintah kembali memutuskan Larangan mudik ramadhan tahun ini, Kebijakan ini merupakan bentuk antisipasi guna menghalau penyebaran Covid-19 di masyarakat. Memang harus diakuji jika secara tradisi budaya mudik amat baik, namun di tengah pademi covid-19 seperti saat  ini maka masyarakat diminta memahami bahwa larangan mudik tak lebih bertujuan demi kebaikan.

Definisi mudik secara kultural merupakan simbol untuk kembali ke jati diri manusia yang suci atau fitri. Terdapat pula di dalamnya kegiatan bersilaturahmi ke rumah saudara dan tetangga untuk saling memohon maaf. Ada pula yang mengatakan bahwa Mudik ini berkaitan dengan keperluan silaturahmi ataupun menjalin komunikasi. Sekaligus memperdalam kesalehan sosial. Karena melalui mudik seseorang akan menyeimbangkan hubungannya dengan Tuhan dan sesama manusia

Perayaan hari raya Idul Fitri memang identik dengan budaya silaturahmi yang sudah lama turun-temurun dilaksanakan tiap tahun. Walakin, ketika masa pandemi covid-19 belum berakhir sampai dengan saat ini niscaya kita harus bisa menyesuaikan diri tanpa menguragi makna yang sesungguhnya.

Senyatanya ramadhan di era industri 4.0, terlebih di saat pandemi Covid-19 telah membatasi interaksi antar manusia di seluruh dunia dalam semua aktivitasnya, maka hal ini menjadikan umat Islam harus mencari alternatif termasuk dalam silaturahmi mudik.

Jika melihat data Satgas Penangganan Covid-19 jika libur idul fitri 2020 telah mengakibatkan kenaikan rata-rata jumlah kasus harian 68-93 persen dengan penambahan kasus harian 413.559 serta jumlah kasus mingguan berkisar 2.889-3.917.

Arinya belajar dari pengalaman tersebut, maka tren kenaikan atau lonjakan kasus positif hampir semua terjadi usai beberapa libur panjang karena salah satunya adalah karena tingginya mobilitas masyarakat.

Tentunya perayaan dan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H dan Mohon maaf lahir dan batin dalam lebaran kali ini pun menjadi kembali berbeda, namun mudik dengan silaturahmi virtual pun tidak akan mengurangi keseruan berhari raya.

Di era teknologi digital kini banyak aplikasi yang memungkinkan bersilturahmi bisa dengan melakukan video call dengan banyak orang. Baik itu menggunakan Zoom, Google Hangouts, atau WhatsApp yang dikabarkan tengah mempersiapkan fitur video call hingga 50 orang.

Berbagi rejeki di hari raya pun menjadi momen yang ditunggu-tunggu sanak saudara kita, tentunya dengan kondisi saat ini momen bagi-bagi amplop atau uang bisa kita lakukan dengan transper atau dompet digital.

Sebuah keniscayaan jika dengan adanya virus Covid-19, kita menjadi sulit untuk mudik karena memang ada bahaya. Di dalam agama pun kita disuruh menghindari bahaya, sebagaimana diriwayatkan ari Abu Sa’id, Sa’ad bin Sinan al-Khudri RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Tidak boleh melakukan perbuatan yang bisa membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain." (HR Ibnu Majah, No 2340 dan 2341).

Alhasil, jika semua masyarakat bisa disiplin berpegang teguh kepada hadits di atas beserta kaidah-kaidah yang diambil darinya maka  secara pelan tetapi pasti rantai penyebaran virus corona ini bisa diputus.

Kuncinya adalah kedisiplinan, kebiasaan dan kebutuhan protokol kesehatan 4M. Bagaimana masyarakat kita saat ini untuk selalu bisa disiplin, memiliki kebiasaan dan kebutuhan untuk selalu mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak dan mengurangi mobilitas.

Dengan tidak menyalah artikan jika mudik adalah perkara tidak baik, mudik itu perkara baik  dan sudah menjadi sebuah budaya, kultur, tradisi budaya kita. Silturahmi dan bertemu dengan orang tua sesuatu yang baik dan sebuah keharusan. Namun, jangan sampai kecintaan kita dan rasa sayang kita  kepada orang tua, kakek nenek, saudara-saudara dikampung justru dengan cara kehadiran kita menyebarkan virus kepada keluarga tercinta kita.

Teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih memungkinkan seseorang untuk mudik secara virtual. Ada banyak platform media sosial (medsos) dan aplikasi pengiriman pesan yang menawarkan layanan untuk bertatap muka secara daring.

Pandemi Covid-19 tengah menguji proses silaturahmi yang di dalamnya mencakup solidaritas atau kepedulian terhadap sesama. Dan silaturahmi di era pandemi pun masih tetap bisa dilakukan tanpa harus bertatap muka dengan orang lain, teknologi membuat siapa pun bisa melakukan komunikasi dan berbagi dengan prinsip protokol kesehatan.