
Dalam penulisan skripsi atau laporan akademik di Ma’soem University (MU), mahasiswa sering kali menemukan sebuah pernyataan menarik dalam sebuah buku, namun pernyataan tersebut sebenarnya merupakan kutipan dari penulis lain. Kondisi inilah yang disebut dengan Kutipan yang Dikutip Kembali atau penggunaan Sumber Sekunder.
Meskipun diperbolehkan, teknik ini harus digunakan secara bijak dan minimalis. Mengutip sumber sekunder adalah solusi terakhir jika kamu benar-benar tidak bisa menemukan dokumen asli (sumber primer). Di lingkungan akademik MU, hal ini berkaitan erat dengan karakter Amanah (kejujuran dalam mencantumkan asal-usul ide) dan Disiplin (ketelitian dalam menelusuri literatur).
Mengapa Harus Berhati-hati dengan Sumber Sekunder?
Bayangkan seperti sebuah pesan berantai; semakin banyak orang yang menyampaikan kembali sebuah pernyataan, semakin besar risiko maknanya bergeser. Dalam penelitian ilmiah, mengutip kembali berarti kamu mempercayai interpretasi penulis kedua terhadap penulis pertama.
Dosen di Fakultas Komputer maupun Ekonomi MU biasanya menyarankan mahasiswa untuk sebisa mungkin mencari Sumber Primer agar data yang disajikan tetap murni dan akurat sesuai konteks aslinya.
- Risiko Misinterpretasi: Penulis kedua mungkin saja salah memahami maksud penulis asli.
- Kredibilitas Laporan: Terlalu banyak sumber sekunder menunjukkan bahwa mahasiswa kurang melakukan eksplorasi literatur secara mendalam.
- Masalah Sitasi: Kesalahan penulisan nama atau tahun dari sumber asli yang sering terjadi pada buku-buku teks.
- Kehilangan Konteks: Pernyataan yang dikutip kembali seringkali sudah dipotong sesuai kebutuhan penulis kedua.
- Kualitas Referensi: Jurnal internasional bereputasi sangat jarang menerima sitasi dari sumber sekunder.
Trik Penulisan Sitasi yang ‘Legal’ ala Ma’soem University
Jika kamu terpaksa menggunakan sumber sekunder (misalnya karena buku aslinya terbitan tahun 1950 dan sulit ditemukan), kamu wajib menggunakan format sitasi yang jelas agar pembaca tahu siapa penulis aslinya dan di buku mana kamu membacanya.
Biasanya, standar yang digunakan di MU adalah gaya APA (American Psychological Association). Berikut adalah cara penulisannya agar tetap legal dan profesional:
- Dalam Paragraf: Sebutkan penulis asli terlebih dahulu, diikuti dengan keterangan “seperti dikutip dalam” (as cited in).
- Contoh: Sugiyono (2015, seperti dikutip dalam Alwan, 2026) menyatakan bahwa metode kuantitatif adalah…
- Fokus pada Sumber Primer: Nama penulis pertama tetap muncul di awal kalimat untuk menghargai penemu ide aslinya.
- Identitas Sumber Sekunder: Sebutkan nama penulis buku yang sedang kamu pegang beserta tahunnya.
- Hanya Mencantumkan Penulis Kedua: Dalam kalimat, kamu tidak perlu mencantumkan tahun penulis pertama jika tidak diketahui, cukup tahun buku yang kamu baca.
- Penggunaan Kata Hubung: Gunakan frasa “dalam” atau “dalam kutipan” untuk mempertegas bahwa kamu tidak membaca sumber aslinya secara langsung.
Pengaturan di Daftar Pustaka (Hanya Satu Sumber!)
Salah satu kesalahan umum mahasiswa adalah mencantumkan kedua penulis tersebut di daftar pustaka. Ini adalah kesalahan logika dokumen. Karena kamu hanya membaca buku penulis kedua, maka hanya penulis kedua yang wajib masuk ke Daftar Pustaka.
Mengapa demikian? Karena Daftar Pustaka adalah daftar dokumen yang benar-benar ada di atas meja kerjamu atau yang file digitalnya kamu miliki. Mencantumkan penulis pertama (yang tidak kamu baca) dianggap sebagai tindakan yang tidak jujur secara administratif.
- Entri Tunggal: Masukkan data lengkap buku/jurnal yang kamu baca (sumber sekunder).
- Ketelitian Data: Pastikan judul buku, penerbit, dan tahun sumber sekunder sudah sesuai agar dosen pembimbing mudah melakukan verifikasi.
- Sinkronisasi Zotero/Mendeley: Saat menggunakan aplikasi referensi, cukup masukkan data sumber sekunder dan modifikasi sitasi di Word secara manual untuk menambahkan keterangan “seperti dikutip dalam”.
- Pengecekan Manual: Selalu kroscek apakah nama penulis pertama yang kamu tulis di bab pembahasan sudah benar ejaannya sesuai dengan yang tertulis di buku sumber sekunder.
Langkah ‘Sat-Set’ Mencari Sumber Primer
Sebelum menyerah pada sumber sekunder, coba lakukan langkah cepat ini untuk menemukan sumber aslinya:
- Cek Daftar Pustaka Penulis Kedua: Lihat referensi yang mereka gunakan, cari judul aslinya.
- Gunakan Google Scholar: Masukkan potongan kalimat kutipan tersebut di Google Scholar untuk mencari dokumen aslinya secara digital.
- Akses Portal SamurAI: Manfaatkan fasilitas perpustakaan digital Ma’soem University untuk mencari e-book atau jurnal terkait.
- LibGen atau ResearchGate: Cari ketersediaan dokumen lama yang mungkin sudah diarsipkan secara digital oleh peneliti lain.
- Tanya AI Tutor: Gunakan AI untuk membantu mencari judul buku atau jurnal asli berdasarkan potongan kutipan yang kamu miliki, namun tetap lakukan validasi manual.
Dengan memahami cara mengutip sumber sekunder secara legal, laporanmu akan memiliki dasar teori yang kokoh dan mencerminkan karakter mahasiswa yang disiplin dalam mengikuti kaidah penulisan ilmiah internasional.





