Tidak dapat kita pungkiri, bahwa keberadaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) dalam produk makanan dapat diibaratkan sebagi “pedang bermata dua”. Pertanyaannya: Apakah Bahan Tambahan Makanan Aman? Penggunaan BTP dengan tepat dan benar dipastikan akan memberi manfaat positif bagi pengadaan produk pangan, sebaiknya apabila digunakan dengan cara yang kurang tepat dapat memicu kecurangan atau membahayakan Kesehatan bagi manusia. Namun, mungkinkah kita bisa menghindari BTP dalam produk pangan pada masa kini? Benarkah, bahwa bahaya BTP lebih besar daripada keberadaan ingredien lain dalam pangan atau bahaya lain yang mungkin terjadi selama proses pengolahan lain?
Dewasa ini bukan hanya pengaruh gaya hidup modern dan tuntunan kemajuan teknologi saja yang membuat manusia tampaknya tidak bisa lepas dari pengguanaan BTP dalam pengolahan dan penyediaan produk pengannya, tetapi juga bahan yang berbeda di setiap belahan dunia, ledakan jumlah produk di tempat-tempat tertentu, bencana alam, terbatasnya kemampuan teknologi penyangga dalam menyediakan bahan pangan segar setiap saat, dan tuntunan nilai praktis dalam proses pendistribusian ke tempat terpencil telah menjadi tantangan untuk mempertahankan bahan-bahan pangan dalam waktu relative lama. Suka tidak suka kita masih harus tergantung pada bantuan fungsional BTP. Mana yang lebih baik bagi Kesehatan, mengonsumsi produk pangan “tengik” (troksidasi lanjut) atau produk pangan yang menggunakan BTP antioksidan dengan tepat, seperti halnya vitamin E atau C yang memiliki fungsi ganda?
Etika dan Dosis BTP
Tidak dapat disangkal bahwa keberadaan BTP juga membuka peluang adanya praktik kecurangan dalam dunia pangan. Sering terjadi penggunaan BTP yang dapat memperbaiki penampilan suatu produk, ternyata digunakan untuk memanipulasi berbagi produk pangan yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi. Beragam kasus praktik penggunaan BTP yang selayaknya tidak terjadi, tetapi pada kenyataanya masih kerapkali terjadi. Tidak dapat dipungkari bahwa ada kaitan motif ekonomi dibalik kondisi itu.
Fakta menunjukan bahwa ketidakpahaman akan sifat dan karakteristik BTP pun bisa menyebabkan kesalahan dalam penggunaan BTP, misalnya penggunaan dalam jumlah yang berlebihan, penggunaan BTP yang keliru atau senyawa yang bukan tergolong BTP walaupum memiliki kemampuan BTP pemakaian yang berlebihan dan senyawa bukan BTP, jelas akan menyebabkan bagi Kesehatan kita.
Menyoroti permasalahan utama dalam penggunaan BTP, mungkin lebih terletak pada masalah etika dan dosis. Selama BTP yang digunakan masih sesuai dengan spesifikasi dan karakteristik kegunaanya serta dengan takaran dosis yang benar seharusnya tidak banyak persoalan yang akan ditimbulkan.





