Bdf672293cdb70e0

Bentuk Struktur Protein

Protein yang ada dalam tubuh manusia memiliki fungsi dan manfaatnya tersendiri. Zat yang sangat diperlukan untuk tubuh ini pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan sifat fisik digunakan dalam lipoprotein plasma, yaitu berdasarkan sifatnya dalam medan listrik dan adanya pengaruh gravitasi, sebagi alfa-1, alfa-2, beta, atau gamma lipoprotein. Di samping itu lipoprotein sering diklasifikasikan berdasarkan densitasnya, yaitu sebagi kilomikron (densitas=0.94 g/ml); VLDL (very low density lipoprotein, D=0.94-1.006 g/ml), LDL (low densi-ty, D=1.006-1.063 g/ml), HDL (high density lipoprotein, D=1.063-1.21 g/ml), serta VHDL (very high density lipopro-tein, D=>1.21 g/ml).

Berdasarkan stukturnya, protein dapat digolongkan menjadi beberapa bentuk, yaitu stuktur primer, sekunder, dan kuartener.

Struktur primer. Struktur primer digambarkan sebagi struktur  asam amino di dalam protein. Susunan tersebut merupakan serangkaian asam amino yang khas, yang akan menentukan sifat dasar dari berbagi protein, dan secara umum akan menentukan struktur sekunder dan tersier. Apabila protein mengandung banyak asam amino yang mempunyai gugus hidrofobik, maka kelarutannya dalam air kurang baik dibandingkan dengan protein yang mengandung asam amino dengan gugus hidrofilik.

Struktur sekunder. Dapat dibayangkan, apabila suatu protein hanya tersusun oleh struktur primer, maka molekul protein akan merupakan suatu bentuk yang panjang dan tipis, yang memungkinkan terjadinya banyak sekali reaksi dengan senyawa lain. Akan tetapi tidak demikian kenyataannya, struktur protein biasanya merupakan suatu bentuk 3 dimensi dengan cabang-cabang rantai polipeptida yang tersusun saling berdekatan, yang kemudian dikenal sebagai struktur skunder. Adapun contoh bahan yang mempunyai struktur skunder adalah bentuk alfa-heliks yang dapat pada wool, bentuk lipatan pada sutera, serta bentuk heliks pada kologen.

Struktur tersier. Sebagian besar rantai cabang pada polipeptida tersusun oleh bentuk tersier, yang terdiri dari susunan beberapa struktur sekunder. Biasanya bentuk struktur sekunder tersebut dihubungkan oleh ikatan hodrogen, ikatan garam, interaksi hidrofobik, serta ikatan disulfida,. Ikatan disulfida adalah ikatan yang terkuat dalam mempertahankan struktur tersier protein.

Struktur kuartener. Berbeda dengan struktur primer, sekuder dan tersier yang melibatkan satu rantai polipeptida, maka strukturkuartener melibatkan beberapa rantai polipep-tida dalam bentuk suatu protein. Ikatan-ikatan yang terlibat dalam pembentukan protein sama dengan ikatan ikatan yang terdapat pada struktur tersier.