67ecc8f9719c1e0c

Kamar Pribadi dan Kebutuhan Anak Akan Privasi

Memiliki ruang pribadi adalah hal penting bagi anak yang baru akan memasuki usia remaja. Pada fase ini, kamar tidurnya menjadi wilayah kekuasaannya dimana tempat tersebut menjadi tempat untuk mengekspresikan diri tanpa banyak gangguan. Meskipun di diizinkan memasang poster artis favoritnya serta memilih warna kamarnya sendiri, biasanya yang menjadi masalah adalah kerapihan dan kebersihan kamar dan hal ini bisa mencetuskan konflik. Bisa saja dia tipe anak yang rapi atau tipe yang pada waktu-waktu tertentu membiarkan kamarnya kacau-balau untuk kemudian merapikannya kembali.

Namun yang yang perlu diperhatikan adalah jangan pernah mengabaikan jika ketidakbersihan tadi sudah dalah tahap parah dan bisa beresiko memberikan dampak negatif pada kesehatan seperti meninggalkan makanan basi, baju-baju kotor dan lain-lain. Cobalah bernegosiasi dengan anak anda untuk menjaga kebersihan lantai, membawa barang-barang pecah belah ke luar sekali sehari dan menaruh pakaian kotor di tempat cucian. Mungkin anda bisa membuat kesepakatan untuk memberi reward khusus jika ia bisa menjaga kamarnya tetap bersih. Untuk menjaga privasinya, anda diperkenankan mengecek kamarnya hanya seminggu sekali, namun berikan peringatan sebelumnya.

Hasrat privasi yang kuat akan mempengaruhi perilaku anak anda di rumah. Ia lebih sadar akan tubuhnya sehingga ingin berpakaian atau membersihkan diri tanpa gangguan. Ia juga akan memerlukan waktu sendirian untuk memikirkan hal-hal yang sifatnya pribadi dan mungkin menulis dalam diary rahasianya atau bisa saja mengunggahnya di sosial media. Menghargai privasi orang di rumah akan mudah dicapai dengan bantuan kunci kamar mandi serta tanda yang dipasang di pintu kamar tidur.

Anak anda yang dulu tidak memiliki masalah dengan melihat orang tuanya tidak berbusana, sekarang akan merasa malu dibuatnya. Ini merupakan akibat dari kesadaran yang semakin besar tentang fungsi-fungsi seksual dan reproduksi tubuh serta perkembangan tubuhnya sendiri. Selain itu rasa malu itu juga bisa dibangun dengan menanamkan nilai-nilai agama serta norma sosial sejak dini.