A0cdc537e4bbbdf2

Computational Thinking untuk Meningkatkan Litersai Finansial

Literasi finansial atau keuangan adalah pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang mempengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan dalam rangka mencapai kesejahteraan.  Saat ini literasi finansial mulai diedukasikan di berbagai satuan pendidikan. Tujuannya supaya masyarakat Indonesia bisa mencapai kesejahteraan secara masif. Literasi finansial bukan hanya diperlukan oleh para pekerja atau orang-orang yang sudah melewati fase belajar di sekolah dan perguruan tinggi, melainkan oleh seluruh individu sedini mungkin.

Literasi finansial membuat kita mengerti tentang bahasa keuangan seputar budgeting, pengelolaan utang, asuransi, investasi, passive income, dan lain sebagainya. Jika kita mengerti tentang istilah-istilah dalam keuangan tersebut maka kita akan lebih mudah dalam memperoleh keamanan dan kenyamanan dalam keuangan.

Sebelum membahas tentang teknis dalam mengelola keuangan, maka pertama-tama kita harus setting up the mindset. Beberapa contoh mindset yang bisa menghambat kita dalam mengelola keuangan di antaranya:

“apa yang mau dikelola kalau gaji masih pas-pasan?”

“uang kan tidak dibawa mati”

“uang bikin orang jadi jahat”

“hidup makin mahal, nggak mungkin saya mampu jadi kaya”

Contoh mindset di atas dapat mematahkan sikap bijak dalam mengelola keuangan. Uang itu bersifat netral, tidak peduli berapa pun jumlahnya maka cukup tidaknya uang tersebut tergantung kepada sikap orang yang mengelolanya. Negative money beliefs biasanya akan membuat kita menjadi tidak peduli dengan pengelolaan dalam keuangan.

Beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam mengelola uang, di antaranya: overspending dalam belanja, meminjamkan uang kepada teman / keluarga tetapi tidak pernah dikembalikan, tidak memprioritaskan menabung dan investasi.

Pendekatan computational thinking dijalankan untuk meningkatkan literasi finansial individu. Computational thinking ini berkaitan dengan pemecahan masalah secara efektif, efisien, dan optimal. Di dalam computational thinking terdapat empat komponen penting yaitu:

1. Decomposition / Penguraian yaitu proses mengarahkan untuk memecahkan masalah yang tadinya komplek menjadi masalah yang lebih simpel dan mudah dihadapi.

2. Pattern Recognition / Memahami pola yaitu menganalisa pola

3. Algorythm Design / Desain Algoritma yaitu membuat langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah yang sudah diurai pada proses sebelumnya serta membuat perencanaan yang matang

4. Abstraction / Abstraksi yaitu memilah dan membuat skala prioritas serta membedakan mana hal penting dan yang tidak penting.

Computational thinking mengajarkan kita memanfaatkan modal dan kondisi apa adanya dengan pengelolaan yang optimal. pengelolaan yang optimal dapat dilakukan jika seseorang mampu untuk membuat skala prioritas dalam menetapkan budget keuangan, membedakan antara keinginan dan kebutuhan dalam hidup, membuat perencanaan keuangan dari langkah satu ke langkah berikutnya, menghindari sikap menghutang yang bersifat konsumtif, serta memiliki target untuk menabung.

Teknik selanjutnya untuk mengelola personal finance terhimpun dalam piramida keuangan. Piramida keuangan ini bersifat hirarkis atau bertingkat dan bertahap artinya dalam mengelola keuangan maka seseorang perlu memperhatikan tahap demi tahap yang harus diprioritaskan, yaitu sebagai berikut :

  1. Cash Flow – dana darurat + pengelolaan utang
  2. Risk Management – asuransi
  3. Investasi – tujuan keuangan
  4. Passive Income – dana pensiun
  5. Estate Planning – waris + hibah