Pendekatan ini menekankan bahwa perkembagan dapat terjadi semua titik sepanjang rentang kehidupan, dari mulai lahir sampai meninggal. Hal ini merupakan penegasan penting, karena pandangan tradisional tentang perkembangan manusia menekankan pada kematangan dan pertumbuhan Selma masa bayi, anak-anak, dan masa remaja, jusa stabilitas pada masa remaja dan kemunduran pada masa tua. Pandangan rentang kehidupan berupaya mendeksripsikan, menjelaskan, dan mengoptimalkan perubahan intraindividual dalam perilaku dan perbedaan interindividual dalam perilaku dan perbedaan interindividual dalam perubahan sepanjang rentang kehidupan.
Pendekatan rentang kehidupan memfokuskan pada tiga tugas, yaitu :
Deksripsi
Perkembagan seorang individu harus diperhatikan. Kita harus mampu menggambarkan bagaimana seorang individu berubah.
Eksplanasi
Perkembangan seorang individu harus mampu dijelaskan. Kita harus mampu memperlihatkan bagaimana peristiwa terdahulu dan sekarang berpengaruh terhadap perilaku.
Optimasi
Bila perkembangan sudah dideskripsikan dan dijelaskan, ini harus dioptimalkan. Harus dilakukan pencegahan terjadinya perkembangan yang tidak sehat.
Perubahan intraindividual mengacu pada perubahan dalam diri. Perbedaan interindividual mengacu kepada perbedaan antara individu pada titik waktu tertentu. Ahli perkembangan sepanjang reantang kehdiupan menempatkan perhatian, khususnya pada pokok-pokok persoalan yang bersifat khusus. Para ahli ini pada awalnya melihat “Perubahan bersifat multiarah”. Hal ini dapat dibuktikan melalui “psikologi tradisional” dan “perspektif perkembangan tentang perubahan” yang didasarkan pada “konsep biologi tentang perkembangan”.
Perubahan-perubahan dalam diri individu, dalam tingkah lakunya bisa jadi mengambil bentuk yang berbeda (seperti digambarkanoleh garis A-E). Dengan demikian terjadi perbedaan dalam tingkah laku antara individu, akibat adanya perubahan di dalam diri individu.
Harris (1957) mengemukakan contoh mengenai pendekatan perkembangan tradisional, perkembangan dilihat sebagai satu kesatuan arah, tidak dapat diubah, mengarah pada tujuan, dan karakteristik-karakteristik universal digunakan atau diberlakukan untuk kematangan biologis pada semua organisme. Perkembangan akhirnya berhenti segera setelah seseorang mencpai kedewasaan (Freud, 1949) kemudian diikuti oleh stabilitas dan akhirnya mengalami kemunduran pada usia-usia lanjut (Hall, 1922).
Perspektif perkembangan sepanjang rentang kehidupan, menurut definisi tentang perkembangan yang didasarkan pada sifat biologis bersifat terlalu sempit. Perkembangan terjadi pada semua penjuru atau titik di sepanjang rentang kehidupan dapat dilihat dari pola-pola ganda mengenai perubahan yang membedakannya dalam hubungan dengan permulaan, arah, dan akhir dari suatu perkembangan.
Sebagi contoh spesifik mengenai sifat “multiarah” dapat dipertimbangkan hasil kerja Horn’s (1970-1978) pada bidang intelegensi. Horn’s membedakan antara dua tipe intelegensi yang terbukti bebeda dalam pola-pola perkembangannya selama usia dewasa. Pada satu sisi, kadar refleks-refleks intelegensi direalisasikan oleh seorang individu untuk memperoloeh pengetahuan dan keahlian mengenai kebudayaan. Pada sisi yang lain, kadar refleks-refleks intelegensi berubah-ubah dan dapat dilihat dari perolehan seorang individu untuk mencapai kualitas berpikir secara mandiri atau (indeks) dari keadaan yang memperkecil suatu peran tentang perkembangan intelegensi. Konsep perkembangan multiarah berbeda secara mencolok dari pandangan-pandangan tradisional dimana hal itu memberi kesan potensial terhadap perubahan selama usia dewasa dan usia tua.
Dari perspektif perkembangan sepanjang rentang kehidupan, maka perkembangan itu dilihat sebagai pola-pola ganda yang meliputi perubahan terhadap tingkah laku ayng berbeda dan individu-individu yang berbeda pula dan pada kurun waktu yang berbeda. Satu hasil dari setiap proses perkembangan yang bersifat multiarah ialah seperti perubahan-perubahan didalam diri individu menjadi makin bertambah berbeda, sehingga orang menjadi lebih individualistis.
Pandangan tradisioanl tentang perkembangan, mempunyai penekanan pada individu yang berubah dalam dunia. Keadaan ini terjadi karena mereka mengalami kegagalan untuk mengakui bahwa perkembangan individu tersebut terjadi di dalam konteks historis yang berubah. Pendekatan sepanjang rentang kehidupan menekankan pada pandangan dinamis dan interaktif mengai hubungan antara individu dan alam (Lerner & Spanier, 1978a).
Maltes, Reesc, dan Lipsitt (1980) menentukan tiga pola pengaruh utama yang mempengaruhi hubungan interaksi dinamis antara individu dan lingkungan sebagi berikut : (1) normative, pengaruh kelompok usia; (2) normative, pengaruh kelompok historis; (3) normative, pengaruh kelompok kehidupan. Normatif, pengaruh kelompok usia terdiri atas faktor penentu dalam contoh ini: peristiwa-peristiwa kematangan (perubahan dalam tinggi badan, fungsi system indoktrin, dan fungsi sitem pusat takut/gelisah), dan peristiwa-peristiwa sosialisasi (perkawinan/pernikahan, kelahiran anak, dan pengunduran diri). Normatif, pengaruh kelompok historis terdiri atas faktor-faktor penentu biologis dan lingkungan berkorelasi dengan historis waktu.





