Menjadi seorang pengusaha / seorang entrepreneur yang usahanya sudah berada di titik “mature” / mapan tentu saja merupakan impian banyak orang. Tingginya tingkat permintaan / demand di pasaran menjadi salah satu bukti bahwa produk / jasa yang kita tawarkan mampu memuaskan para konsumen. Namun pada momen tertentu para pengusaha harus memikirkan sebuah ide untuk mencegah brand produknya tidak mengalami “decline” atau penurunan karena faktor kejenuhan di masyarakat.
Peluncuran produk baru merupakan salah satu strategi yang bisa diambil oleh seorang pengusaha. Faktor kunci pada peluncuran produk baru adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar. Peranan " field intelligence" sangat penting sebelum suatu perusahaan mengembangkan produk baru dan meluncurkannya ke pasar. Akan tetapi, meskipun "field intelligence" dan pengembangan produk sudah dilakukan dengan baik, uji akhir dari suatu produk baru hanya dapat dilakukan dengan baik, uji akhir dari produk baru hanya dapat dilakukan di pasar.
Sebelum produksi diterapkan dalam jumlah besar dan didistribusikan secara nasional, banyak perusahaan pangan melakukan " uji pasar”. Dalam suatu uji pasar, produk dijual dalam jumlah terbatas untuk maksud:
- Mengukur kinerja potensi penjualan untuk memutuskan apakah akan diteruskan dengan pemasaran skala penuh atau tidak.
- Mengidentifikasi kelemahan produk.
- Mengidentifikasi kelemahan program pemasaran (nama produk, kemasan, harga dan iklan).
Melaksanakan uji pasar relatif cukup mahal dan langkah ini umumnya dilakukan hanya setelah uji pendahuluan tidak menunjukkan bahwa produk memiliki kemungkinan menjadi pemenang di pasar. Sama halnya dengan pengumpulan informasi lapangan (field intelligence) sebelum mengawali proses pengembangan produk, sangat penting bahwa sebuah tim yang anggotanya berasal dari bagian-bagian pemasaran pengembangan produk dan produksi memutuskan pertanyaan apa yang perlu dijawab pada saat uji pasar tersebut. Setelah ada kesepakatan, maka departemen pemasaran mengumpulkan informasi dari pasar dengan memaksimalkan penggunaan kuesioner, telpon, diskusi kelompok fokus, dan teknik riset pemasaran lainnya.
Keputusan apakah perlu melakukan uji pasar memerlukan suatu perbandingan antara biaya dan resiko. Biaya meliputi tidak saja pengeluaran untuk pengumpulan data tetapi juga pendapatan yang hilang karena menunda pemasaran dengan skala penuh. Resiko utama adalah memperkenalkan suatu produk baru, tetapi gagal. Meskipun riset pemasaran dilakukan sebelum mengembangkan produk baru, ada kalanya beberapa kelemahan tidak terlihat sampai produk berada pada lingkungan pasar. Beberapa contoh kelemahan produk baru yang terlihat setelah ada di pasar antara lain adalah sebagai berikut:
- Coklat yang terlalu cepat meleleh pada suhu kamar sehingga mengotori tangan dan muka anak-anak yang memakannya (pada uji sensori di industri, digunakan panelis orang dewasa).
- Produk yang dikemas dalam karton lipat, banyak yang terbuka karena tidak cukup lem untuk merekat.
- Minuman kaleng ternyata sulit dibuka oleh konsumen.
- Air mineral kemasan gelas, banyak yang bocor dalam transportasi karena penutupan (sealing) kurang kuat.
Perusahaan harus hati-hati karena kondisi di atas dapat menyebabkan kehilangan pasar jika ada pesaing yang mampu memanfaatkannya. Pelaksanaan uji pasar dapat membantu untuk mencegah terjadinya "bencana-bencana" tersebut di atas. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai dunia bisnis dan pemasaran kususnya di bidang pengolahan pangan / produk makanan, tentu kita harus belajar dari lembaga pendidikan yang membuka prodi terkait hal tersebut, salah satunya prodi Agribisnis. Universitas Masoem adalah salah satu Universitas yang membuka prodi Agribisnis di Bandung yang memiliki struktur kurikulum sesuai kebutuhan industri dan tren bisnis kuliner saat ini. Bahkan para mahasiswanya bisa memilih konsentrasi jurusan di tahun pertama kuliah . Adapun konsentrasi yang bisa dipilih antara lain produk kopi, coklat, susu, sirup, produk fermentasi, kue kering, urban farming dan lain-lain.





