Perkembangan Teknologi Informasi telah merubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Hampir di setiap kegiatan manusia saat ini nampaknya membutuhkan “bantuan” dari teknologi informasi agar memudahkan banyak hal, tak terkecuali dalam dunia hiburan digital atau yang dalam kasus ini adalah Game. Demam game online yang sudah cukup lama dirasakan oleh banyak orang, khususnya remaja membuat industri game bertransformasi menjadi salah satu cabang olahraga resmi yang bergengsi. Istilah “E-Sport” sendiri saat ini menjadi salah satu istilah yang sudah tidak asing lagi khususnya bagi mereka yang menyukai game dan mengikuti perkembangan-perkembangan atlet yang terlibat di dalamnya.
Di Indonesia sendiri cukup banyak perhelatan lomba E-Sport itu sendiri. Beberapa jenis Game yang dipertandingkan seperti Mobile Legend, Dota, PUBG dan masih banyak lainnya saat ini tidak pernah sepi peminat. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga elektronik / game saat ini menjadi salah satu industri yang cukup besar. Tidak heran banyak sponsor yang berani menggolangkan dana untuk pihak penyelenggara pertandingan E-Sport.
Di pihak pemain (gamers) sendiri, dunia E-Sport sebenarnya bisa menjadi salah satu profesi menjanjikan. Dalam ajang resmi, hadiah untuk pemenang bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun hal tersebut bukan tanpa rintangan. Tidak sedikit orang tua atau pihak lembaga penididkan, baik sekolah maupun perguruan tinggi yang menganggap bahwa bermain Game tidak membawa manfaat yang jelas. Bahkan beberapa diantaranya mengganggap game menjadi salah satu penyebab utama sifat individualistis masyarakat zaman sekarang dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan khususnya kesehatan mata.
Melihat fenomena tersebut, lembaga pendidikan harus cermat dan bijaksana dalam membuat sebuah kebijakan. Kita tidak bisa serta merta menyamaratakan peserta didik yang hobi bermain game memiliki prestasi akademik yang buruk. Tidak sedikit para atlet E-Sport yang memiliki prestasi mumpuni baik dalam hal akademik maupun non akademik. Salah satu lembaga pendidikan yang men-support peserta didiknya untuk bisa meraih prestasi non akademik, khususnya E-Sport Adalah Universitas Masoem.
Universitas Masoem sebagai salah satu kampus swasta di Bandung ini membebaskan para mahasiswanya untuk bermain game di lab komputer selama lab tersebut tidak sedang dipakai praktikum. Bahkan lab bahasa yang dilengkapi ruangan kedap suara serta perangkat sound system, monitor dan spek PC yang mumpuni pun tidak jarang dijadikan tempat event E-Sport tahunan. Melihat antusiasme yang tinggi dari mahasiswa yang hobi bermain Game, akhirnya pihak kampus Universtias Masoem mengizinkan para mahasiswanya untuk membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) game dengan beberapa point perjanjian serta komitmen.
Para mahasiswa yang tergabung dalam UKM game tersebut diberikan kebebasan menggunakan lab untuk bermain Game selama bisa menjaga kebersihan dan ketertiban serta bisa berkomitmen untuk menjaga nilai IPK tetap tinggi. Dukungan penuh dari pihak kampus membuat mahasiswa tersebut berhasil menyabet gelar Juara 1 dalam ajang E-SPort yang diselenggarakan oleh kampus IKMI Cirebon. Hal ini tentu saja patut disyukuri karena bisa menjadi ajang pembuktian bahwa remaja yang hobi bermain Game tetap bisa mengharumkan nama kampus melalui prestasi non akademik.





