Bc1786ae8c25fafb

Mengenal Rate Card Bagi Influencer

Ketika mengarungi media sosial, seringkali kita menemukan sosok influencer di media sosial yang mempromosikan produk, atau istilah kekiniannya adalah endorse. Hal ini mungkin terlihat menguntungkan bagi pihak brand karena mereka tidak perlu capai-capai untuk promosi produknya sendiri. Namun jangan salah, dibalik semua itu ada biaya yang mesti dikeluarkan. Semua biaya yang dikeluarkan menyesuaikan oleh tarif yang telah dipatok oleh si influencer sendiri dalam bentuk rate card. Apa itu rate card?

Istilah rate card mulai dikenal luas seiring banyaknya sosok influencer yang memiliki pengaruh yang besar (ditandai oleh jumlah followers yang tinggi) untuk mempromosikan produk-produk suatu brand. Mengutip dari Marketing Terms, rate card adalah dokumen yang merinci harga untuk berbagai opsi penempatan iklan. Sederhananya, pihak brand akan disodorkan beberapa opsi jasa endorse dari influencer yang bisa dipilih menyesuaikan target dan budget mereka.

Baik itu influencer perorangan ataupun tim influencer besar, adanya rate card membuat mereka menjadi terlihat lebih profesional. Hanya saja bagi influencer besar, biasanya mereka telah memiliki divisi khusus untuk menangani perihal kerjasama dengan brand dan mengetahui posisi mereka di pasaran. Walaupun rate card menampilkan tarif iklan, namun tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan negoisasi tarif.

Tarif dalam rate card dapat berbeda-beda tergantung media apa yang dipilih dan tipe konten apa yang ingin digunakan. Contohnya bagi influencer yang fokusnya di Instagram, terdapat 4 tipe konten yang bisa dipilih seperti posting di feed, Instagram Story, Instagram Live, atau IGTV. Pihak influencer akan menjelaskan rinci keunggulan dari tiap konten yang ada dan bagaimana idealnya konten yang perlu dibuat. 

Dari sini mungkin mulai muncul pertanyaan, apa pertimbangan yang perlu diambil oleh influencer dalam membuat rate card? Secara umum, semakin tinggi jumlah followers nya, semakin tinggi pula tarif yang dapat dipasang. Namun itu saja belum cukup untuk ‘menjual’ di mata brand. Ada beberapa pertimbangan yang perlu diamati sebelum membuat rate card yaitu:

Cost per Action (CPA)

CPA adalah biaya yang harus dibayarkan oleh pihak pengiklan dengan ketentuan mereka hanya akan membayar jika ada konsumen yang melakukan action/tindakan. Bentuk action ini dapat berupa subscribe, download, mengisi kuesioner, ataupun membeli produknya.

Cost per View (CPV)

CPV saat ini menjadi patokan bagi para influencer untuk menentukan rate iklan atau standar harga iklan dengan mengamati jumlah orang yang melihat iklan. Terlebih seluruh platform media sosial memiliki fasilitas untuk melihat rata-rata viewer per postingan, sehingga memudahkan bagi para influencer menentukan tarif iklan mereka.

Uniqueness

Masing-masing influencer memiliki keunikannya tersendiri. Kalau dirasa keunikannya tidak dapat ditiru oleh orang lain, maka sah-sah saja mematok tarif yang lebih tinggi.

Niche

Niche cukup penting untuk mengenali segmen apa yang dimiliki oleh para influencer. Contohnya seperti influencer bidang otomatif, gadget, kuliner dan lain sebagainya yang tentunya diikuti oleh followers dengan hobi yang sama. Pihak brand tinggal menyesuaikan mana influencer yang cocok untuk meng-endorse produk mereka.

Personal Brand Value

Ternyata status orang yang menjadi influencer bisa menjadi pertimbangan bagi pihak brand. Bayangkan sebuah 2 pilihan influencer dengan followers yang sama tetapi salah satunya adalah selebriti terkenal yang sering tampil di siaran TV. Maka dapat dipastikan pilihan akan jatuh pada artis tersebut walaupun memiliki tarif yang lebih mahal namun sebanding dengan engagement yang bakal didapatkan.

Itulah berbagai penjelasan mengenai rate card bagi influencer. Terjun menjadi influencer adalah satu hal, tetapi menjadi influencer profesional yang dicari oleh para brand menggunakan rate card. Dokumen ini mampu menjembatani antara kebutuhan brand dan juga influencer.

Tertarik dengan cara influencer menentukan tarif rate card? Untuk mendalami hal tersebut, ilmu digital marketing menjadi hal wajib yang perlu kalian kuasai. Ma’soem University pun tak luput untuk memberikan mata kuliah digital marketing bagi mahasiswa di program studi Manajemen Bisnis Syariah S1.

Program studi Manajemen Bisnis Syariah ini cocok untuk kalian yang punya semangat untuk membangun bisnis dan punya perhatian tentang kehalalan sebuah bisnis, dan digital marketing dapat menjadi sarana yang tepat untuk mengembangkan bisnis. Tidak perlu khawatir soal biaya kuliah, karena biaya kuliah yang ekonomis dan beragam beasiswa bisa didapatkan. Tunggu apalagi, mari berkuliah di Ma’soem University!