1de520a5cada8520

Bimbingan Konseling Untuk Karyawan, Seperti Apa?

Di tengah pesatnya perkembangan dunia kerja, iklim kerja menjadi semakin kompleks dan penuh tantangan. Hal ini tentu dapat mempengaruhi kondisi fisik maupun psikis para karyawan, misalnya cepat letih hingga stress. Yang terakhir ini sebaiknya tidak dipandang remeh oleh perusahaan, karena kualitas pekerjaan dipengaruhi oleh kondisi fisik dan emosional dari pihak karyawan. Untuk itu pihak perusahaan perlu menyediakan seorang konselor untuk menyediakan bimbingan konseling bagi karyawan.

Konseling sendiri merupakan upaya bantuan dengan cara tatap muka atau empat mata antara konselor dan klien yang sedang mengalami suatu masalah hingga berujung pada kembali menjadi pribadi yang sehat lagi. Dalam konteks dunia kerja, terdapat jenis konseling industri yang menangani masalah yang dimiliki seorang karyawan agar mampu mengatasi masalahnya secara lebih baik.

Masalah yang dihadapi bisa bermacam-macam, misalnya beban kerja yang tinggi, tekanan dari atasan, iklim bekerja yang kurang nyaman ataupun politik kantor yang rumit. Semua jenis masalah yang dihadapi bila tidak dikontrol dengan baik maka ditakutkan menghalangi para karyawan untuk fokus pada kepuasan kebutuhan yang lebih tinggi. Ini merujuk pada Hierarki Kebutuhan Maslow yang terdiri dari 5 tingkatan kebutuhan dasar, mulai dari kebutuhan fisiologis hingga kebutuhan aktualisasi diri. Teorinya adalah individu akan berusah meningkatkan kepuasan kebutuhan di atasnya, namun bila tidak terpenuhi maka ia akan fokus kembali pada kebutuhan di bawahnya.

Artinya, menjaga kualitas dalam pemenuhan kebutuhan tersebut tidak selamanya berjalan dengan baik. Konteks dalam dunia kerja adalah kondisi fisik dan psikis karyawan bisa terkuras habis. Disinilah peran konseling industri hadir untuk membantu proses ‘penyembuhan’ diri para karyawan agar bisa kembali mencapai kebutuhan yang lebih tinggi. Jenis konseling ini secara garis besar ingin memperbaiki kesehatan mental karyawan. Para karyawan yang mendapatkan bantuan dari konseling diharapkan dapat kembali fokus untuk mengembangkan potensi dan kompetisinya secara optimal di tempat kerja, disamping juga mampu mengentaskan permasalahan yang dialami saat kerja.

Untuk menciptakan kondisi kerja yang ideal bagi para karyawannya tersebut, pemilik perusahan dapat menghadirkan konselor dalam lingkungan kerjanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutarto (2010) dalam bukunya “Psikologi Industri dan Organisasi“ , dimana beliau menyatakan alasan pemilik perusahaan mengadakan konseling di organisasi terdiri dari tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sebagai fasilitas kesejahteraan, sebagai sarana untuk mendukung klien menghadapi perubahan situasi kerja. Dan sebagai alat untuk mengatasi stress.

Pelaksanaan konseling industri, terdapat beberapa pendekatan yang dapat digunakan tergantung masalah yang sedang dihadapi oleh klien (dalam hal ini karyawan), yaitu:

  • Directive Counseling: Pendekatan ini berfokus pada proses mendengarkan masalah individu, membuat kesepakatan bersama untuk si klien dan memotivasinya agar mau melakukannya. Fungsi konseling advice (nasihat) menjadi salah satu fungsi yang bakal sering digunakan oleh konselor. Konselor pun harus menjadi pendengar yang baik jika ingin memahami masalah karyawan sehingga keluh kesah karyawan dapat tercurahkan dengan baik.
  • Non-directive Counseling: Pendekatan ini berkebalikan dengan pendektan directive counseling, dimana pendekatan non-directive counseling berfokus pada karyawan itu sendiri. Konselor akan mendorong karyawan untuk bisa mencurahkan segala perasaannya. Tidak ada unsur pemberian nasihat, konselor hanya mencoba mengurai segala unek-unek yang sedang dirasakan oleh karyawan, baik pemikiran negatif maupun pemikiran positif. Dengan ini, karyawan akan mengetahui apa yang sebenarnya dihadapi dan dapat memilih solusi yang cocok digunakan.
  • Cooperative Counseling: Pendekatan yang terakhir ini adalah gabungan dua tipe sebelumnya, dimana bentuk konseling dapat dimulai dengan tipe non-directive counseling kemudian pada pertengahan sesi diganti menjadi tipe directive counseling. Hadirnya pendekatan ini untuk menciptakan kerjasama saling menguntungkan antara konselor dan karyawan dalam menerapkan diskusi kedua sisi dalam masalah.

Tidak dipungkiri hadirnya bimbingan konseling bagi karyawan mampu membangun rasa nyaman dalam bekerja, dimana konselor akan membantu persoalan psikis karyawan. Apabila ini dibiarkan maka performa kerja perusahaan dapat terganggu. Tertarik lebih dalam mengenai dunia konseling yang dapat membantu sisi psikis seseorang? Ma’soem University memiliki jurusan Bimbingan dan Konseling S1 untuk menjawab kebutuhan industri kerja dalam bidang konseling. Lulusan jurusan ini dapat menjadi tenaga pendidik profesional, tenaga pengembangan SDM, konsultan pendidikan maupun entrepreneur pada bidang tersebut.