Dalam dunia pemasaran, fitur, keunggulan dan manfaat sebuah produk harus bisa disampaikan dengan baik di sebuah iklan. Penyampaian tersebut bisa berupa gambar produk yang besar, tulisan-tulisan yang memuat detail keunggulan serta narasi yang lengkap dan menarik. Namun di era digital, cara seperti itu dirasa sudah tidak terlalu efektif karena para pembuat konten iklan diharuskan menciptakan karya desain grafis yang menarik perhatian dengan hanya sebaris slogan/tagline diikuti dengan tautas situs web atau sosial media untuk mendorong penjualan saat itu juga.
Saat ini banyak perusahaan-perusahaan yang mengalami gap generasi dimana para pimpinan-pimpinannya masih menggunakan cara-cara konvensional sedangkan target segmentasi konsumen mereka ditujukkan ke kelompok milenial. Banyak studi yang menunjukkan bahwa setiap pelanggan adalah unik, dan dengan dukungan teknologi, pemasaran akhirnya bersifat personal (one-to-one) yang didukung oleh kustomisasi dan personalisasi pada level individu.
Di masa depan nantinya, para pemasar akan melayani tiap-tiap segmen yang unik tersebut dengan seperangkat prefensi dan perilaku yang unik pula. Akan tetapi, tentu bermanfaat jika kita melihat seluruh arah evolusi pemasaran dengan melihat pasar arus utama yang akan dilayani perusahaan-perusahaan dimasa mendatang. Memahami pergeseran demografis pasar secara kolektif adalah cara yang paling fundamental untuk memprediksi arah pemasaran.
Dalam konteks ini, kelompok generasi adalah salah satu cara yang paling sering dilakukan sebagai alat untuk menyusun dan menganalisis kembali segmentasi pasar. Meskipun usia konsumen saat ini amat sangat beragam karena perbedaan generasi tadi, mereka berbagi pengalaman sosiokultural yang sama dan lebih besar kemungkinanya memiliki seperangkat nilai, sikap, dan perilaku yang sama. Saat ini, lima kelompok generasi hidup Bersama: Baby Boomers, Generasi X, Generasi Y, Generasi Z, dan Generasi Alpha.
Generasi Z: Warga Digital Pertama
Saat ini, pemasaran cenderung fokus untuk menargetkan Generasi Z sebagai standar perilaku berbelanja. Sebagai keturunan Generasi X, Generasi Z yang juga dikenal sebagai Centennial. Artinya generasi Z adalah kelompok orang yang lahir antara 1997 dan 2009. Banyak warga Generasi Z menyaksikan perjuangan finansial orangtua dan kaka mereka, dan karenanya mereka lebih sadar finansial daripada Generasi Y. mereka cenderung menabung dan memandang stabilitas ekonomi sebagai factor penting dalam pilihan karier mereka.
Lahir ketika Internet sudah menjadi arus utama, mereka dianggap sebagai generasi digital pertama. Karena tidak memiliki pengalaman hidup tanpa Internet, mereka memandang teknologi digital sebagai bagian dari hidup sehari-hari yang sangat penting. Mereka selalu terhubung dengan Internet melalui perangkat digital untuk belajar, berburu berita, berbelanja, dan berjejaring di media social. Mereka menikmati konten secara terus-menerus melalui beberapa layer, meskipun sedang Bersama orang lain. Akibatnya, mereka tidak melihat batasan antara dunia online dan offline.
Dengan dukungan media social, Generasi Z merekam kehidupan sehari-hari mereka dalam bentuk foto dan video. Namun, tidak seperti Generasi Y yang lebih idealistis, Generasi Z bersifat pragmatis. Bertolak belakang dengan Generasi Y yang suka memajang foto diri yang telah dipoles dan difilter demi citra pribadi, Generasi Z lebih suka menampilkan versi diri mereka yang autentik dan apa adanya. Oleh karena itu, Generasi Z membenci mereka yang menampilkan citra produk yang direkayasa dan muluk-muluk.
Karena kesediaan berbagi informasi pribadi relatif lebih tinggi daripada generasi yang lebih tua, Generasi Z ingin agar mereka mampu menyampaikan konten, penawaran, dan pengalaman pelanggan ysng dipersonalisasi. Contoh digital Marketing pada Generasi Z adalah bahwa Generasi Z mengharapkan merek dapat memberi mereka kemampuan untuk mengontrol dan menyesuaikan cara mereka menggunakan produk dan jasa. Kerena besarnya volume konten yang ditargetkan kepada mereka, Generasi Z benar-benar menghargai kenyamanan personalisasi dan kostomisasi.
Sebagaimana Generasi Y, Generasi Z sangat peduli terhadap perubahan sosial dan kelestarian lingkungan. Karena mereka pragmatis, Generasi Z lebih percaya diri dengan peran mereka dalam mendorong perubahan melalui keputusan sehari-hari. Mereka lebih menyukai merek yang mengutamakan pemecahan masalah sosial dan lingkungan. Mereka percaya bahwa merek yang menjadi pilihan mereka dapat memaksa keberlanjutan. Generasi Z juga bersemangat dalam hal membuat perbedaan melalui kerja sukarela dan berharap pemberi kerja menyediakan platform yang memungkinkan aktifitas tersebut.
Generasi Z juga menghendaki keterlibatan terus-menerus di sepanjang relasi dengan merek. Mereka mengharapkan merek membangkitkan semangat sebagai mana halnya perangkat ponsel dan permainan (game). Jadi, mereka berharap perusahaan-perusahaan selalu memperbarui penawaran mereka. Mereka menginginkan perusahaan memberikan pengalaman pelanggan interaktif yang baru di setiap titik sentuh. Kegagalan dalam memenuhi harapan tersebut mengakibatkan rendahnya loyalitas terhadap merek. Perusahaan-perusahaan yang menargetkan Generasi Z harus mengelola siklus hidup produk yang semakin dipersingkat.
Hari ini, Generasi Z sudah melebihi jumlah Generasi Y sebagai generasi terbesar secara global. Pada 2025, mereka akan menjadi bagian terbesar dari angkatan kerja dan karenanya menjadi pasar yang paling signifikan untuk produk dan jasa. (Dikuti dan Dikembangkan Dari Buku Marketing 5.0).





