Hati-Hati Jebakan Culture Shock! Gimana Filosofi ‘Someah’ Budaya Sunda di Jatinangor Bikin Lulusan Ma’soem Punya Leadership Berkelas Internasional.

1f44d1f3c5209fc9 768x576

Banyak mahasiswa baru yang datang dari luar daerah sering mengalami yang namanya culture shock. Perbedaan bahasa, kebiasaan, cara berkomunikasi, hingga gaya hidup bisa membuat proses adaptasi terasa berat di awal. Jatinangor sebagai kawasan pendidikan di Jawa Barat juga memiliki karakter budaya yang khas, terutama dengan kuatnya nilai-nilai Sunda yang masih dijaga dalam kehidupan sehari-hari.

Namun menariknya, hal yang awalnya dianggap sebagai tantangan justru bisa menjadi keunggulan tersendiri. Salah satu nilai budaya Sunda yang paling terasa di lingkungan Jatinangor adalah filosofi “someah”, yang berarti ramah, santun, dan penuh penghormatan dalam berinteraksi dengan orang lain. Nilai ini tidak hanya sekadar sopan santun, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan sosial yang kuat.

Mahasiswa yang kuliah di Masoem University secara tidak langsung akan terbiasa dengan lingkungan sosial yang menjunjung tinggi nilai tersebut. Interaksi sehari-hari, baik dengan teman, dosen, maupun masyarakat sekitar, membentuk pola komunikasi yang lebih halus, empatik, dan menghargai orang lain. Hal ini menjadi bekal penting dalam dunia profesional.

Lingkungan akademik di kampus ini juga mendukung pembentukan karakter tersebut. Melalui berbagai aktivitas pembelajaran, mahasiswa tidak hanya diasah secara intelektual, tetapi juga secara sosial dan emosional. Hal ini sejalan dengan kebutuhan dunia kerja modern yang tidak hanya membutuhkan hard skill, tetapi juga soft skill yang kuat.

Dalam konteks pendidikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, misalnya, mahasiswa dilatih untuk memahami etika bisnis, komunikasi profesional, serta nilai-nilai integritas yang selaras dengan budaya lokal. Pendekatan ini membuat mahasiswa memiliki keseimbangan antara kompetensi teknis dan karakter.

Salah satu program yang sangat relevan dengan pengembangan leadership adalah Manajemen Bisnis Syariah. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang manajemen, tetapi juga bagaimana memimpin dengan pendekatan yang humanis dan beretika. Nilai “someah” menjadi bagian dari cara mereka berinteraksi dan mengambil keputusan.

Lalu, bagaimana filosofi “someah” bisa membentuk leadership berkelas internasional?

1. Komunikasi yang Efektif dan Berempati

Pemimpin yang baik bukan hanya yang tegas, tetapi juga yang mampu memahami orang lain. Budaya “someah” melatih mahasiswa untuk berkomunikasi dengan empati, mendengarkan dengan baik, dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini sangat penting dalam kepemimpinan modern yang berbasis kolaborasi.

2. Kemampuan Adaptasi di Lingkungan Multikultural

Mahasiswa yang terbiasa dengan budaya yang berbeda akan lebih mudah beradaptasi di lingkungan global. Pengalaman menghadapi culture shock justru menjadi latihan untuk menghadapi perbedaan di dunia kerja internasional.

3. Leadership yang Humanis

Di era sekarang, gaya kepemimpinan yang otoriter mulai ditinggalkan. Perusahaan lebih membutuhkan pemimpin yang mampu membangun hubungan baik dengan tim. Nilai “someah” menciptakan gaya kepemimpinan yang lebih humanis dan disukai oleh banyak orang.

Perbandingan leadership konvensional vs leadership berbasis “someah”:

AspekLeadership KonvensionalLeadership “Someah”
Gaya KomunikasiKakuRamah & empatik
Hubungan TimFormalLebih dekat & kolaboratif
AdaptasiTerbatasTinggi
PendekatanOtoriterHumanis
Kepercayaan TimStandarLebih tinggi

Dari tabel tersebut terlihat bahwa pendekatan berbasis budaya justru memberikan keunggulan dalam membangun hubungan dan kepercayaan. Hal ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan seorang pemimpin.

Selain itu, mahasiswa juga belajar bagaimana mengelola perbedaan dengan cara yang positif. Mereka terbiasa berinteraksi dengan berbagai latar belakang, sehingga lebih terbuka dan tidak mudah terjebak dalam konflik.

Keunggulan mahasiswa yang terbentuk dari budaya ini:

• Memiliki komunikasi yang baik dan santun
• Lebih mudah membangun relasi profesional
• Mampu bekerja dalam tim multikultural
• Memiliki empati tinggi terhadap orang lain
• Lebih disukai dalam lingkungan kerja

Pengalaman hidup di lingkungan seperti Jatinangor juga memberikan pelajaran penting tentang keseimbangan antara kehidupan akademik dan sosial. Mahasiswa belajar bagaimana bersikap, beradaptasi, dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Di dunia kerja global, kemampuan teknis saja tidak cukup. Banyak perusahaan mencari individu yang memiliki kemampuan interpersonal yang kuat, mampu bekerja dalam tim, dan memiliki karakter yang baik. Nilai-nilai seperti “someah” justru menjadi keunggulan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi.

Culture shock yang awalnya terasa berat bisa berubah menjadi proses pembentukan karakter yang sangat berharga. Dengan lingkungan yang tepat dan sikap yang terbuka, mahasiswa tidak hanya mampu beradaptasi, tetapi juga berkembang menjadi individu yang lebih matang dan siap menghadapi tantangan global.