609d72d162f43be9

Pangsa Pasar dan Kemampuan Kompetensi Perusahaan

Dewasa ini telah banyak bahan pustaka yang dapat lebih mejelaskan proses analisis SWOT. Berbagai pustaka tersebut menawarkan model-model dan teknik analisis strategi yang dapat digunakan untuk menganalisis posisi perusahaan terhadap lingkungannya. Dalam hal ini model-model tersebut juga banyak digunakan perusahaan untuk memahami sebuah pangsa pasar. Beberapa teknik khusus yang sering digunakan dalam analisis strategi adalah:

  • Analisis portofolio, untuk menetapkan posisi produk perusahaan di pasar.
  • Analisis lima kekuatan (five forces analysis), untuk menentukan posisi persaingan perusahaan.
  • Analisis rantai nilai (value chain analysis).
  • Analisis kompetensi inti (core competence analysis).

Analisis portofolio yang dikembangkan oleh Boston Consulting Group (BCG), merupakan suatu model yang dapat digunakan untuk menguji pangsa pasar dari suatu produk dalam hubungannya dengan laju pertumbuhan pada pasar produk tersebut. Secara sederhana pangsa pasar adalah jumlah presentase yang menunjukkan seberapa besar kemampuan dan keberhasilan sebuah perusahaan dalam melakukan penjualan dibandingkan dengan persusahaan pesaingnya.

Model analisis porofolio dari BCG tersebut didasarkan pada asumsi kurva pengalaman (experience curve) yang membenarkan bahwa perusahaan-perusahaan yang telah ada dalam suatu pasar khusus (suatu jenis produk) dalam jangka waktu relatif lama telah belajar dari pengalaman mereka cara menghasilkan dan cara memasarkan produk secara lebih efisien dan efektif. Mereka mungkin membangun suatu tingkat pangsa pasar yang tinggi serta dengan skala ekonomi tertentu dan pengalaman mereka dapat mencapai biaya per-unit yang relatif rendah. Oleh karenanya, matrik tersebut cenderung menghubungkan pangsa pasar tinggi dengan kemampuan menghasilkan arus tunai positif yang tinggi. Matriks tersebut dapat dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :

  1. Cash Cows, memiliki pangsa pasar tinggi dalam suatu pasar yang jenuh. Pada masa lalu boleh jadi posisi produk adalah stars, tetapi saat ini pasar telah jenuh. Produk tersebut menempati posisi memimpin pasar (market leader) dan saat ini memiliki keinginan kecil untuk menginvestasi meningkatkan kapasitas produksi atau upaya pemasaran. Produk ini akan menjadi penghasil uang tunai dan dapat berkontribusi (menyusui) lini produk lain untuk mencari star di masa mendatang.
  2. Stars, memiliki pangsa pasar tinggi dalam suatu pasar yang sedang tumbuh. Akan tetapi pengeluaran jadi cukup beasar untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kampanye periklanan. Kondisi ini dapat menggerus uang tunai kalau tidak direncanakan dengan baik. Produk stars, mungkin menjadi “Cash Cows” di masa mendatang.
  3. Question Mark, juga menghadapi pasar yang sedang tumbuh tetapi memiliki pangsa pasar rendah. Kondisi ini terjadi pada produk yang berbeda pada tahap awal dalam siklus hidupnya, membutuhkan jumlah dana yang besar dalam usaha meningkatkan pangsa pasar. Akan tetapi, pengembalian dari pengeluaran tersebut masih belum jelas (tanda tanya).
  4. Dogs, memperoleh pangsa pasar rendah dalam pasar yang telah jenuh. Arus tunai dapat berkemas untuk mendanai biaya overhead dan manajemen, disamping untuk menghasilkan produk. Hal ini terjadi karena tidak seimbang antara pengeluaran dengan pendapatan perusahaan.

Posisi dogs sering dikaitkan dengan suatu “eliminasi yang cepat”, akan tetapi menurut Johnson dan Schools” (1997) di dalam Lunning et al., (2002), perlu di pertimbangkan dengan hati-hati apakah produk tersebut perlu sebagai variai produk atau memang harus dihilangkan karena tidak ada manfaatnya untuk mengembangkan pangsa pasar perusahaan secara keseluruhan. Mungkin ini pertimbangan dari PT Indofood Sukses Makmur mempertahankan Sarimi dan Sakura sampai sekarang, meskipun pangsa pasar pada tahun 2007 relatif kecil yaitu masing-masing 0.9% dan 0.1%