Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan istilah “Artificial Intelligence” telah mengubah banyak hal. Dalam dunia pendidikan misalnya, contoh Artificial Intelligence (AI) seperti chat GPT sering dipakai untuk membantu memberikan gagasan dalam membuat sebuah karya tulis ilmiah. Selain itu, AI juga telah banyak membantu menyelesaikan beberapa tugas-tugas tertentu dalam dunia pekerjaan. Para ahli memberikan sebuah proyeksi dan gambaran tingkat otomasi di dunia kerja dimana terdapat perubahan peran manusia dengan mesin antara tahun 2020 dan 2025. Pada tahun 2020 perbandingan peran manusia dengan mesin sebesar 67% : 33%, sedangkan di tahun 2025 diprediksi berubah menjadi 53% : 47%. Melihat perbandingan tersebut tentu bisa kita simpulkan beberapa tahun kemudian, kecerdasan buatan akan mampu menyelesaikan setengah dari total pekerjaan yang ada.
Pengcheng Shi dari Rochester Institute of Technology menyebutkan suatu saat nanti robot artificial intelligence akan banyak menggantikan pekerja kerah Putih (tenaga profesional terdidik),bahkan untuk beberapa kasus AI bisa diangkat sebagai CEO. Mungkin tidak sedikit dari kita yang berpikir bahwa AI hanya membantu tugas administratif, riset dan analitis tetapi takkan bisa menggantikan fungsi leadership dalam organisasi. Namun pada faktanya NetDragon sebagai salah satu perusahaan game asal Cina berani melakukan gebrakan dengan mengangkat bot artificial intelligence menjadi CEO di perusahaannya. Mereka yakin AI yang mereka angkat ini diklaim mampu mengambil keputusan yang jauh lebih cepat dan efisien dan hal tesebut membuat harga saham perusahaan pun meningkat.
Dengan kondisi AI yang mendominasi dunia pekerjaan tentu muncul banyak kekhawatiran dari orang tua mengenai masa depan karir anak-anak mereka. Peranan Al telah menyentuh lapisan ragam profesi bahkan sudah bisa melakukan analisis tertentu seperti membaca hasil radiologi, review dokumen legal, membacakan berita, menulis naskah, memilih saham dan lain-lain. Adapun beberapa dampak dari munculnya artificial intelligence adalah sejumlah profesi bertumbuh, muncul profesi baru, mengubah peran & cara kerja profesi tertentu sehingga sejumlah profesi menjadi tidak relevan. Untuk kasus yang cukup ekstrim bahkan memprediksi bahwa di tahun 2030 akan ada 400 juta pekerja di dunia yang bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Tidak heran banyak oran tua saat ini yang bertanya “Anak Kita Nanti Kerja Apa?”
Kehadiran Artificial Intelligence atau AI sebenaranya bukan semata-mata untuk membuat kita sebagai orang tua menjadi panik dan menyerah. Orang tua justru harus mampu menjadikan AI sebagai peluang, bukan ancaman. Terdapat beberapa tips dalam mendidik dan mempersiapkan anak untuk bisa beradaptasi dan sukses di era AI. Pertama-tama kita bisa mengajak anak-anak kita berdiskusi mengenai minat mereka dan potensi profesi di masa yang akan datang, serta bagaimana Al bisa mempengaruhi profesi tersebut. Selain itu anak juga bisa bisa kita latih dalam memaksimalkan beberapa kemampuan yang “hanya dimiliki oleh manusia” seperti membangun relasi & empati, menjadi pendengar yang baik, manajemen konflik, goal setting dan lain-lain. Adapun beberapa “skill” yang bisa kita bangun sejak dini kepada anak-anak kita seperti kreatifitas, komunikasi, ilmu komputer & matematika, rasa percaya diri, literasi & mengatur keuangan sampai membiasakan berdagang untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan.





