Tahun 2024 ini, Bandung menjadi tuan rumah bagi Workshop Internasional “Integrated Study on Urban Agriculture as Heritage” (INSUAH), acara yang menyatukan para ahli dari lima negara: Jerman, Jepang, Brazil, Kuba, dan Indonesia. Bertempat di Museum Kota Bandung, para peserta berkumpul untuk menjelajahi tema yang menarik: "Bandung Urban Agriculture Heritage From The Local Perspectives".
Salah satu sorotan dari acara tersebut adalah paparan yang disampaikan oleh Wakil Rektor III Ma’soem University, M. Ryzki Wiryawan, S.Ip., M.T. Beliau membahas perkembangan pertanian di Bandung mulai dari masa kolonial hingga saat ini. Dengan menggali sejarah, peserta workshop memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana pertanian perkotaan telah berkembang seiring waktu.
"Pesatnya pertumbuhan perkotaan telah menarik minat baru terhadap pertanian di dalam kota. Kesadaran akan pentingnya pangan lokal semakin meningkat di kalangan masyarakat. Namun demikian, sebagian besar metode pertanian perkotaan yang digunakan saat ini masih sangat komersial dan minim akan indikator warisan budaya, yang pada gilirannya mengancam keberlanjutan pertanian di masa depan.
"Sistem pertanian perkotaan yang berbasis pada warisan budaya memiliki banyak keunggulan. Selain efisiensi penggunaan lahan, sistem ini juga memberikan manfaat ekonomi, sosial budaya, kesehatan, energi, dan lingkungan yang berkelanjutan. Bandung, seperti banyak wilayah Asia lainnya yang pernah dijajah, telah mengalami perubahan besar dalam pola produksi pertaniannya.
"Peningkatan urbanisasi telah mengakibatkan penurunan dalam budidaya sayuran pasar sub-tropis serta pengetahuan pertanian tradisional yang terkait. Bahkan, "kebun rumah" yang dahulu merupakan elemen kunci dalam sistem pangan di Bandung, kini mulai kehilangan fungsinya karena perubahan gaya hidup perkotaan," ungkap Ryzki dalam kegiatan tersebut.
INSUAH, yang diinisiasi oleh kelima negara pesertanya, bertujuan untuk menghubungkan penelitian tentang pertanian perkotaan dengan konsep warisan budaya. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan baru dan strategi baru tentang bagaimana mempertahankan pembangunan kota sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Studi ini akan menjadi tonggak penting dalam mengungkap relevansi global dari pertanian perkotaan sebagai bagian dari warisan budaya.
Kegiatan workshop INSUAH dilaksanakan setiap tahun di berbagai negara. Dimulai di Nurmberg, Jerman pada tahun 2022, kemudian dilanjutkan di Tokyo, Jepang pada tahun 2023, dan pada tahun 2024 ini, giliran Bandung, Indonesia untuk menjadi tuan rumah. Dengan demikian, Bandung memiliki kesempatan unik untuk berbagi pengetahuan lokalnya tentang pertanian perkotaan dan untuk belajar dari pengalaman negara-negara lain dalam memelihara warisan pertanian di tengah arus urbanisasi yang terus berkembang.
Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Ma'soem University karena salah satu sivitasnya bisa turut mewakili Indonesia, khususunya universitas, dalam perkembangan pertanian dalam konteks internasional. Semoga ini dapat menjdi pelecut semangat setiap peserta didik di Ma'soem University untuk selalu mengembangkan dan mengasah skill mereka dalam menjalani jenjang pendidikan tinggi di Ma'soem University.





