Oleh : Dr. Asep Totoh,SE.,MM
Di tengah perubahan ekonomi yang semakin cepat, perguruan tinggi dihadapkan pada pertanyaan mendasar: apakah mereka masih relevan?
Data ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan sinyal yang patut dicermati. Pada 2025, jumlah pengangguran mencapai sekitar 7,46 juta orang. Lebih dari satu juta di antaranya merupakan lulusan perguruan tinggi. Bahkan, proporsi pengangguran dari kelompok terdidik menunjukkan kecenderungan meningkat dalam satu dekade terakhir.
Fenomena ini menghadirkan paradoks. Pendidikan tinggi yang selama ini diyakini sebagai jalan mobilitas sosial, tidak selalu menjamin akses terhadap pekerjaan.
Dalam konteks ini, persoalan utama bukan hanya kualitas lulusan, tetapi juga relevansi sistem pendidikan itu sendiri.

Selama ini, banyak perguruan tinggi masih beroperasi dalam paradigma lama: mengajar, menguji, dan meluluskan. Sementara itu, dunia kerja telah berubah jauh lebih cepat—menuntut kreativitas, adaptabilitas, dan kemampuan menciptakan nilai.
Transformasi menuju entrepreneurial university menjadi salah satu respons atas perubahan tersebut. Dalam model ini, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga inovasi, usaha, dan lapangan kerja.
Namun, perubahan ini tidak cukup diwujudkan melalui penambahan mata kuliah kewirausahaan. Tanpa ekosistem yang mendukung, konsep ini berisiko menjadi sekadar slogan.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak penelitian masih berhenti pada publikasi, belum terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa mempelajari kewirausahaan, tetapi belum tentu memiliki akses terhadap pengalaman nyata, jejaring, atau pendampingan.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar. Lebih dari 30 juta UMKM menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Namun, rasio wirausaha masih relatif rendah, sekitar 3 persen dari total angkatan kerja. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan wirausaha yang kuat dan berkelanjutan masih sangat besar.
Strategis PTS
Di sinilah perguruan tinggi seharusnya memainkan peran strategis.
Bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS), kondisi ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang. Di tengah persaingan dengan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), PTS memiliki fleksibilitas untuk berinovasi lebih cepat.
Namun, pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan diperlukan, melainkan sejauh mana keberanian untuk melakukannya.
Transformasi menuju entrepreneurial university menuntut perubahan menyeluruh. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator dan mentor. Mahasiswa tidak lagi diposisikan sebagai penerima ilmu, tetapi sebagai pencipta nilai.
Lebih jauh, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah lulusan atau publikasi ilmiah, tetapi juga dari kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja.
Perubahan ini memang tidak mudah. Namun, tanpa langkah tersebut, perguruan tinggi berisiko kehilangan relevansinya.
Pada akhirnya, kampus tidak hanya dituntut untuk mengajarkan masa lalu, tetapi juga untuk mempersiapkan masa depan.
“Dan masa depan itu tidak menunggu.





