5e6345d981763bf5

Kampus Peduli Mental Mahasiswa, Saatnya Pendidikan Tak Hanya Fokus pada Nilai

Potret mahasiswa yang menunduk lelah, menumpuk tugas di hadapan, dan ekspresi cemas menjelang ujian kini bukan hal asing di dunia kampus. Realitas ini mengingatkan bahwa beban akademik tidak hanya berdampak pada hasil studi, tetapi juga pada kesehatan mental mahasiswa.

Kondisi ini mendorong munculnya gerakan “Kampus Peduli Mental Mahasiswa” di berbagai institusi pendidikan tinggi. Kampus diharapkan tidak lagi hanya berperan sebagai ruang transfer ilmu, tapi juga sebagai tempat yang aman dan suportif secara emosional bagi mahasiswa.

Mahasiswa masa kini menghadapi tekanan ganda: tuntutan akademik, persaingan kerja, dan perubahan sosial yang serba cepat. Jika tidak ditangani secara holistik, tekanan ini bisa berdampak pada kesehatan mental seperti stres berat, kelelahan emosional, bahkan burnout.

Menanggapi isu ini, beberapa kampus mulai menyediakan layanan dukungan seperti ruang konseling, pendampingan psikologis, pelatihan manajemen stres, hingga program pengembangan diri non-akademik.

Salah satu contoh praktik baik dapat dilihat di Ma’soem University, yang menyediakan fasilitas seperti ruang konseling, layanan hipnoterapi edukatif, seminar kesehatan mental, dan konsultasi karier. Upaya ini bertujuan menciptakan lingkungan kampus yang peduli terhadap kesejahteraan psikologis mahasiswa, terutama di masa-masa penuh tekanan seperti menjelang ujian atau tugas akhir.

“Ketika mahasiswa merasa didengar dan didukung, mereka bukan hanya lebih sehat, tapi juga lebih produktif dan berkembang,” ujar salah satu dosen pembimbing.

Semangat kampus berdampak tidak hanya tercermin dari capaian akademik, tetapi juga dari bagaimana kampus mampu menjaga, merawat, dan menguatkan mentalitas mahasiswa dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan dan kehidupan.

Karena pada akhirnya, mental yang sehat adalah fondasi utama dari pendidikan yang berkualitas.