69% Mahasiswa Ingin Jadi Pengusaha, Tapi Kenapa Lulusannya Tetap Cari Kerja?

Dr. Asep Totoh,SE.,MM

Sebanyak 69,1% generasi muda Indonesia mengaku ingin menjadi pengusaha. Angka ini terdengar menjanjikan. Tapi realitasnya justru memukul: mayoritas lulusan perguruan tinggi masih sibuk melamar kerja, bahkan rela menunggu berbulan-bulan demi satu panggilan interview.
Di sinilah ironi itu muncul. Minat tinggi, tapi keberanian nol.
Pertanyaannya sederhana:siapa yang salah?
Kampus Bicara Wirausaha, Tapi Tidak Mencetaknya.


Setiap mahasiswa hampir pasti pernah duduk di kelas kewirausahaan. Mereka belajar membuat proposal bisnis, menghitung modal, bahkan mempresentasikan ide startup yang tampak meyakinkan.
Masalahnya, semua itu berhenti di kelas.
Begitu lulus, pola lama kembali: kirim CV, ikut job fair, berharap jadi karyawan. Ilmu kewirausahaan yang dipelajari bertahun-tahun? Tidak pernah benar-benar dipakai. Ini bukan kebetulan. Ini sistem.
Kampus masih sibuk bicara “job creator”, tapi praktiknya tetap mencetak “job seeker”.

61

Ilusi Pendidikan Kewirausahaan
Ada satu kesalahan besar yang terus diulang: kita mengira kewirausahaan bisa diajarkan dalam 2–3 SKS.
Padahal, menjadi pengusaha bukan soal teori. Ini soal mental. Soal keberanian ambil risiko. Soal siap gagal dan bangkit lagi.
Dan itu tidak bisa diajarkan lewat slide presentasi. Hasilnya terlihat jelas: banyak lulusan paham konsep bisnis, tapi tidak pernah benar-benar berbisnis. Mereka tahu cara menghitung untung-rugi, tapi tidak berani mengambil risiko rugi.
Data Tidak Pernah Bohong
Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 3,3% wirausahawan dari total populasi. Untuk menjadi negara maju, minimal butuh 4%. Artinya, kita masih kekurangan ratusan ribu pengusaha baru.
Di sisi lain, UMKM memang mendominasi ekonomi menyumbang lebih dari 60% PDB dan menyerap hampir seluruh tenaga kerja. Tapi mayoritas masih berada di level kecil dan sulit berkembang.
Masalahnya bukan kurang peluang. Masalahnya: tidak cukup orang yang siap mengambil peluang.


Banyak lulusan sebenarnya punya ide. Punya kemampuan. Bahkan punya akses teknologi. Tapi mereka tidak punya satu hal penting: keberanian.
Kenapa?
Karena sejak kuliah, mereka tidak pernah benar-benar dilatih menghadapi risiko. Mereka belajar dalam sistem yang aman:

  • ada nilai
  • ada dosen
  • ada panduan
    Tidak ada konsekuensi nyata jika gagal.
    Akibatnya, ketika masuk dunia nyata yang penuh ketidakpastian, mereka memilih jalan paling aman: jadi karyawan.

Kampus Terlalu Nyaman, Mahasiswa Jadi Takut
Kampus hari ini terlalu nyaman. Semua serba terstruktur, semua serba aman. Bahkan kegagalan pun sering “dibungkus” agar tidak terasa menyakitkan. Padahal dunia usaha tidak seperti itu.
Di dunia nyata:
tidak ada remedial kalau gagal
tidak ada nilai untuk usaha setengah jadi
dan tidak ada jaminan sukses
Kalau mahasiswa tidak pernah merasakan itu sejak kuliah, maka wajar jika mereka kaget saat lulus.
Dan ketika harus memilih antara risiko atau keamanan, mereka akan memilih aman.
Saatnya Berhenti Berpura-pura
Kalau kampus serius ingin mencetak pengusaha, maka harus berhenti setengah-setengah.
Bukan cukup dengan:
mata kuliah kewirausahaan
seminar motivasi atau lomba bisnis plan
Itu semua hanya kosmetik.
Yang dibutuhkan adalah pengalaman nyata: mahasiswa harus benar-benar menjalankan bisnis, menghadapi risiko, dan merasakan gagal.
Tanpa itu, kewirausahaan hanya akan jadi teori yang indah tapi kosong.

Masalahnya Bukan Mahasiswa
Kita sering menyalahkan mahasiswa karena tidak berani berwirausaha.
Tapi mungkin masalahnya bukan di mereka.
Mungkin yang belum berani berubah justru kampusnya.
Selama pendidikan masih didesain untuk mencetak pencari kerja, maka jangan heran jika hasilnya tetap sama:lulusan baru, CV baru, antrean baru di dunia kerja.

Dan mimpi jadi pengusaha?
Tetap tinggal mimpi.