820cd21cd1838ce7

Mahasiswa BK Bisa Bikin Konten Edukatif? Ini Cara Bangun Branding sebagai Konselor Muda

Siapa bilang mahasiswa Bimbingan Konseling (BK) cuma bisa praktik konseling di ruang tertutup? Di era digital seperti sekarang, mahasiswa BK justru punya peluang besar untuk menyebarkan edukasi pengembangan diri lewat media sosial.

Di Ma’soem University, tren ini mulai tumbuh. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya pandai praktik, tapi juga berani tampil sebagai edukator publik yang menyampaikan informasi seputar kesehatan mental, karakter, komunikasi, hingga motivasi belajar melalui konten digital.

Beberapa bentuk konten yang bisa dibuat oleh mahasiswa BK, antara lain:

  • Infografis Instagram: topik ringan seperti cara mengelola stres, tips atasi overthinking, atau cara jadi pendengar yang baik

  • Video pendek TikTok atau Reels: edukasi 60 detik seputar self-healing, komunikasi asertif, atau perbedaan konseling dan curhat

  • Podcast atau voice note: bahas isu remaja, parenting, atau relasi sosial dengan bahasa yang santai tapi mendalam

  • Thread edukatif di X (Twitter): penjelasan topik-topik psikologis yang sering disalahpahami publik

Konten-konten seperti ini bukan hanya bermanfaat untuk masyarakat, tapi juga membentuk personal branding mahasiswa sebagai calon konselor profesional. Semakin banyak orang mengenal konten edukatifnya, semakin terbuka pula peluang karier maupun kerja sama kolaboratif.

Dosen di jurusan BK Ma’soem University menyebut, mahasiswa sekarang perlu punya “jejak digital yang positif” dan menunjukkan kompetensinya dengan cara yang relevan dengan gaya hidup generasi muda.

Kampus juga mendukung pengembangan ini dengan menyediakan pelatihan konten edukatif, kolaborasi dengan komunitas, hingga simulasi komunikasi digital yang etis dan tepat sasaran.

Dengan pendekatan seperti ini, mahasiswa BK tak hanya siap sebagai praktisi lapangan, tapi juga sebagai figur publik edukatif yang mampu menjangkau audiens lebih luas—baik secara offline maupun online.