Praktik konseling tak cukup hanya dipelajari lewat teori. Di jurusan Bimbingan Konseling (BK), mahasiswa perlu mengalami langsung bagaimana rasanya mendengarkan, memahami, dan membangun komunikasi empatik.
Seperti yang tampak dalam salah satu sesi simulasi konseling di Ma’soem University, seorang mahasiswa BK tengah menjalani latihan sebagai konselor, dengan rekan sekelasnya berperan sebagai klien. Dalam suasana tenang dan fokus, mereka berdialog secara intensif—latihan ini adalah bagian dari pembelajaran inti di jurusan BK.
Simulasi konseling bukan hanya latihan berbicara atau mendengar, tapi juga melatih sensitivitas emosional, bahasa tubuh, pilihan kata, serta etika profesional dalam dunia konseling.
Dosen pembimbing di Ma’soem University menjelaskan bahwa latihan seperti ini penting untuk membentuk kesiapan mahasiswa saat terjun langsung ke lapangan, baik di sekolah, komunitas, dunia kerja, maupun layanan digital.
“Melalui simulasi, mahasiswa belajar bahwa menjadi konselor bukan sekadar memberi nasihat, tapi mendampingi dengan empati, memahami tanpa menghakimi, dan memandu dengan pendekatan yang tepat,” ujar salah satu dosen BK.
Selain praktik di kelas, mahasiswa BK juga mengikuti program asisten laboratorium konseling, pengabdian masyarakat, serta pelatihan konseling digital untuk melengkapi pengalaman mereka secara menyeluruh.
Dengan pendekatan pembelajaran yang humanis dan terstruktur, Ma’soem University mendorong mahasiswa BK untuk siap menjadi konselor yang bukan hanya kompeten secara teori, tapi juga tangguh secara mental dan empatik dalam praktik.





