0b03c2009ce3b414

Bagaimana Mahasiswa BK Melatih Kepekaan Emosional dalam Konseling?

Di balik profesi konselor, ada satu kemampuan yang tidak bisa diajarkan hanya lewat buku: kepekaan emosional. Di jurusan Bimbingan Konseling (BK), khususnya di Ma’soem University, mahasiswa tak hanya belajar teori dan teknik konseling, tetapi juga dilatih untuk peka terhadap ekspresi, suasana hati, dan bahasa tubuh klien.

Konselor yang baik harus bisa menangkap makna di balik kata-kata, menyadari perubahan emosi dalam percakapan, hingga memahami apa yang tidak diucapkan oleh klien. Untuk itulah, mahasiswa BK mengikuti serangkaian pelatihan dan simulasi untuk membentuk kepekaan ini.

Beberapa bentuk pelatihan yang dilakukan antara lain:

  • Simulasi konseling perorangan dan kelompok, di mana mahasiswa berlatih menangani kasus ringan dengan pendekatan empatik

  • Observasi ekspresi nonverbal, melatih kemampuan membaca gestur, nada suara, dan raut wajah

  • Diskusi reflektif, di mana mahasiswa diminta mengevaluasi emosi pribadi saat melakukan praktik konseling

  • Role play kasus nyata, agar mahasiswa bisa mengembangkan respons empatik sesuai situasi klien

Dosen pengampu mata kuliah Praktik Konseling di Ma’soem University menyampaikan bahwa, “Mahasiswa dilatih untuk tidak buru-buru menilai. Tapi hadir, mendengarkan secara penuh, dan memahami latar belakang emosi dari setiap klien.”

Selain itu, mahasiswa BK juga belajar mengelola emosinya sendiri. Seorang konselor harus stabil secara emosi agar bisa menjadi pendamping yang bijak dan tidak terbawa dalam permasalahan klien.

Program asisten laboratorium konseling di Ma’soem University memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh bersama. Di ruang itu pula, mereka belajar bahwa empati adalah inti dari profesi ini.

Dengan pelatihan yang konsisten dan pembimbingan yang kuat, mahasiswa BK di Ma’soem University siap menjadi konselor muda yang tidak hanya cerdas secara teori, tapi juga peka secara emosional dan kuat secara mental.