40cb712af879663e

Bukan Sekadar Ingin Membantu, Mahasiswa BK Harus Paham Etika Sejak Awal

Empati saja tidak cukup untuk jadi konselor. Di balik percakapan yang hangat dan penuh perhatian, konselor harus memegang teguh kode etik profesi. Inilah yang mulai ditanamkan sejak awal kepada mahasiswa jurusan Bimbingan Konseling (BK), termasuk di Ma’soem University.

Etika konseling mencakup bagaimana seorang konselor menjaga kerahasiaan, menghormati privasi klien, menghindari konflik kepentingan, serta menjaga batas profesional dengan klien. Mahasiswa BK diperkenalkan dengan berbagai prinsip dasar sejak semester awal, mulai dari:

  • Confidentiality: menjaga informasi pribadi klien

  • Non-judgmental attitude: tidak menghakimi atau memaksakan nilai pribadi

  • Professional boundaries: memahami batas hubungan konselor dan klien

  • Informed consent: klien harus tahu hak dan proses yang akan dijalani

  • Self-awareness: konselor harus sadar akan bias dan emosinya sendiri

Dosen BK di Ma’soem University menyebut bahwa kesalahan kecil dalam etika bisa berdampak besar pada kepercayaan klien. Karena itu, mahasiswa dibekali simulasi kasus, studi etik, dan praktik refleksi untuk memahami bagaimana etika ini diterapkan dalam dinamika nyata.

Etika juga menjadi kunci membedakan antara konseling profesional dan sekadar “curhat biasa.” Dalam ruang konseling, ada tanggung jawab hukum, moral, dan sosial yang harus dijaga.

Selain mata kuliah khusus, Ma’soem University juga memberikan pelatihan langsung lewat praktikum di laboratorium konseling serta pengawasan langsung dari dosen pembimbing. Mahasiswa dilatih menghadapi berbagai situasi kompleks, termasuk saat menemui klien yang emosional, sensitif, atau penuh tekanan.

Dengan memahami etika sejak dini, mahasiswa BK dipersiapkan menjadi konselor yang bukan hanya peduli, tapi juga profesional. Hal ini penting agar mereka dapat dipercaya oleh klien dan diakui oleh dunia kerja di masa depan.