Perkembangan teknologi digital dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda. Akses informasi yang cepat dan tanpa batas membuat individu dapat mengetahui berbagai aktivitas, tren, dan pencapaian orang lain hanya melalui layar ponsel. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena psikologis yang semakin sering terjadi, yaitu Fear of Missing Out (FOMO).
FOMO merupakan kondisi psikologis yang ditandai dengan rasa takut, cemas, atau
khawatir ketika seseorang merasa tertinggal dari informasi, pengalaman, atau aktivitas yang sedang terjadi di lingkungan sosialnya. Fenomena ini semakin meningkat seiring dengan tingginya penggunaan media sosial di kalangan generasi muda. Data menunjukkan bahwa sekitar 79,5% masyarakat Indonesia telah menggunakan media sosial pada tahun 2024, dengan mayoritas pengguna berasal dari generasi milenial dan generasi Z.
Kondisi ini menjadikan generasi muda sebagai kelompok yang paling rentan mengalami FOMO. Paparan konten yang terus-menerus, seperti unggahan liburan, pencapaian, atau gaya hidup orang lain, memicu perasaan tertinggal dan mendorong individu untuk selalu mengikuti tren. Oleh karena itu, FOMO mulai dianggap sebagai “penyakit baru” yang memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga kesehatan mental anak muda di era digital.
Fenomena FOMO tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama intensitas penggunaan media sosial. Generasi Z sebagai pengguna aktif media sosial cenderung lebih sering terpapar konten yang menampilkan kehidupan orang lain secara ideal. Hal ini memicu perbandingan sosial yang tidak sehat, di mana individu membandingkan kehidupannya dengan orang lain yang terlihat lebih sukses atau bahagia.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa FOMO sering muncul ketika seseorang melihat unggahan tentang aktivitas menarik, pencapaian, atau pengalaman orang lain, sehingga timbul dorongan untuk selalu mengikuti perkembangan tersebut agar tidak merasa tertinggal . Selain
itu, fitur-fitur interaktif pada platform seperti TikTok dan Instagram juga mempercepat penyebaran tren, sehingga tekanan sosial untuk ikut serta menjadi semakin besar. Dari sisi psikologis, FOMO memiliki hubungan erat dengan kebutuhan akan pengakuan sosial. Generasi muda cenderung ingin diterima dalam kelompok sosialnya, sehingga mereka berusaha untuk selalu mengikuti tren yang sedang viral. Penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini dapat memicu berbagai emosi negatif seperti kecemasan, iri hati, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.
Lebih jauh lagi, FOMO juga berdampak pada kesehatan mental. Studi terbaru mengungkapkan bahwa FOMO berkaitan dengan meningkatnya tingkat stres, kecemasan, bahkan depresi akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Individu yang mengalami FOMO cenderung sulit untuk berhenti memeriksa media sosial karena takut melewatkan informasi terbaru. Kebiasaan ini dapat mengganggu waktu istirahat, konsentrasi, serta kualitas hidup secara keseluruhan.
Selain dampak psikologis, FOMO juga memengaruhi perilaku konsumtif. Generasi muda sering kali terdorong untuk membeli produk atau mengikuti tren tertentu hanya karena ingin dianggap “tidak ketinggalan zaman”. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa media sosial dan tren digital memiliki pengaruh signifikan terhadap pola konsumsi generasi Z. Akibatnya, keputusan pembelian tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada tekanan sosial.
Faktor lain yang memengaruhi FOMO adalah rendahnya self-esteem atau kepercayaan diri. Individu dengan tingkat kepercayaan diri yang rendah cenderung lebih mudah merasa tertinggal dan membutuhkan validasi dari orang lain. Sebaliknya, semakin tinggi self-esteem seseorang, maka tingkat FOMO yang dialami cenderung lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi psikologis internal juga berperan penting dalam munculnya FOMO.
Fenomena FOMO juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial, terutama teman sebaya. Tekanan untuk mengikuti gaya hidup tertentu sering kali datang dari lingkungan pertemanan, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Dalam beberapa kasus, individu merasa “wajib” untuk ikut serta dalam suatu tren agar tetap diterima dalam kelompoknya.
Meskipun demikian, FOMO tidak selalu berdampak negatif. Dalam beberapa situasi, FOMO dapat menjadi motivasi untuk mencoba hal baru atau meningkatkan produktivitas. Namun, jika tidak dikendalikan, dampak negatifnya jauh lebih dominan, terutama dalam hal kesehatan mental dan kesejahteraan individu.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengendalian diri dalam menggunakan media sosial. Salah satu konsep yang mulai diperkenalkan sebagai alternatif adalah Joy of
Missing Out (JOMO), yaitu kemampuan untuk menikmati momen tanpa merasa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain. Dengan menerapkan pola pikir ini, individu dapat lebih fokus pada kehidupan nyata dan mengurangi tekanan sosial dari dunia digital
Kesimpulan
FOMO merupakan fenomena psikologis yang semakin berkembang di kalangan anak muda seiring dengan pesatnya penggunaan media sosial. Kondisi ini ditandai dengan rasa takut tertinggal dari informasi, tren, atau aktivitas sosial yang terjadi di lingkungan sekitar. Generasi Z menjadi kelompok yang paling rentan mengalami FOMO karena tingginya intensitas interaksi dengan media digital.
FOMO dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penggunaan media sosial yang berlebihan, kebutuhan akan pengakuan sosial, rendahnya kepercayaan diri, serta tekanan dari lingkungan sekitar. Dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek psikologis, tetapi juga memengaruhi perilaku sehari-hari, seperti meningkatnya kecemasan, stres, hingga perilaku konsumtif.
Meskipun dalam beberapa kondisi FOMO dapat memberikan motivasi, secara umum fenomena ini lebih banyak membawa dampak negatif jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk memiliki kesadaran dalam menggunakan media sosial serta mampu mengontrol diri agar tidak terjebak dalam tekanan sosial yang tidak sehat.
Dengan memahami fenomena FOMO secara lebih mendalam, diharapkan individu dapat lebih bijak dalam menjalani kehidupan di era digital, sehingga mampu menjaga keseimbangan antara dunia maya dan dunia nyata.





