Di dunia ekonomi internasional, ada satu istilah yang kelihatannya “berat” tapi sebenarnya penting banget buat dipahami, yaitu neraca pembayaran. Singkatnya, neraca pembayaran itu adalah catatan semua transaksi ekonomi antara suatu negara dengan negara lain dalam periode tertentu. Dari sini, kita bisa tahu apakah suatu negara lagi “untung”, “boncos”, atau stabil dalam hubungan ekonominya dengan dunia luar.
Berikut Ini Ada Jenis-Jenis Neraca Pembayaran
1. Neraca Pembayaran Surplus
Neraca pembayaran disebut surplus ketika pemasukan devisa dari luar negeri lebih besar daripada pengeluaran, yang biasanya terjadi karena ekspor tinggi atau banyak investasi asing masuk, dan dampaknya bisa bikin nilai tukar mata uang menguat seperti yang pernah dialami Indonesia saat harga komoditas seperti batu bara dan CPO naik, sehingga ekspor melonjak dan cadangan devisa ikut meningkat.
2. Neraca Pembayaran Defisit
Sebaliknya, neraca pembayaran defisit terjadi ketika pengeluaran ke luar negeri lebih besar daripada pemasukan, yang bisa disebabkan oleh tingginya impor atau pembayaran utang luar negeri, dan akibatnya nilai tukar mata uang bisa melemah seperti kasus Indonesia tahun 2018 ketika impor migas meningkat tajam sehingga rupiah tertekan dan pemerintah harus mengambil kebijakan penyesuaian suku bunga.
3. Neraca Pembayaran Seimbang
Neraca pembayaran seimbang terjadi ketika jumlah pemasukan dan pengeluaran sama, kondisi ini sebenarnya ideal karena menunjukkan stabilitas ekonomi, tapi dalam praktiknya jarang terjadi karena dinamika perdagangan dan investasi global selalu berubah-ubah, sehingga biasanya hanya terjadi dalam kondisi tertentu atau secara teoritis saja.
Faktor yang Mempengaruhi Neraca Pembayaran
1. Nilai Tukar Mata Uang
Nilai tukar punya pengaruh besar karena kalau mata uang suatu negara melemah maka ekspor jadi lebih murah dan menarik bagi negara lain sehingga ekspor meningkat, tapi di sisi lain impor jadi lebih mahal seperti yang pernah terjadi di Indonesia saat rupiah melemah sehingga harga barang impor seperti elektronik dan bahan bakar naik dan mempengaruhi neraca pembayaran.
2. Ekspor dan Impor
Ekspor dan impor adalah faktor paling langsung karena ketika ekspor lebih besar dari impor maka devisa bertambah dan neraca pembayaran membaik, tapi kalau impor lebih tinggi seperti saat Indonesia banyak mengimpor minyak dan bahan baku industri maka devisa keluar lebih besar dan berpotensi menyebabkan defisit.
3. Investasi Asing
Investasi asing juga berperan penting karena masuknya modal dari luar negeri bisa meningkatkan devisa dan memperbaiki neraca pembayaran, seperti investasi besar di sektor nikel Indonesia yang menarik investor dari China dan Korea Selatan, sehingga selain meningkatkan lapangan kerja juga memperkuat posisi ekonomi Indonesia di pasar global.
4. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah bisa jadi penentu arah neraca pembayaran karena dengan kebijakan tertentu seperti pembatasan impor atau peningkatan ekspor, pemerintah bisa mengontrol arus devisa, contohnya kebijakan larangan ekspor bahan mentah nikel yang bertujuan meningkatkan nilai tambah ekspor sehingga penerimaan negara dari luar negeri jadi lebih besar.
5. Kondisi Ekonomi Global
Kondisi ekonomi dunia juga punya dampak besar karena ketika ekonomi global tumbuh maka permintaan terhadap barang ekspor meningkat, tapi ketika terjadi krisis seperti pandemi COVID-19 maka permintaan turun drastis sehingga ekspor Indonesia ikut menurun dan mempengaruhi neraca pembayaran secara keseluruhan.
Penutup
Jadi, neraca pembayaran itu bukan sekadar angka surplus atau defisit, tapi lebih ke gambaran besar tentang bagaimana suatu negara “bermain” di ekonomi global, dan kalau dilihat dari berbagai faktor seperti nilai tukar, ekspor-impor, investasi, sampai kondisi global, kita bisa ngerti kenapa ekonomi suatu negara bisa stabil, naik, atau justru tertekan.




