AI Bisa Membuat Tugas Anak Lebih Cepat, Tapi Apakah Mereka Benar-Benar Belajar?

Kehadiran artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara siswa mengerjakan tugas sekolah. Dalam hitungan detik, AI dapat membantu mencari ide, menjelaskan konsep yang sulit, merangkum materi, memperbaiki tulisan, bahkan memberikan contoh jawaban. Bagi siswa yang memiliki banyak tugas dan waktu terbatas, kemampuan tersebut tentu terasa sangat membantu.

Namun, kemudahan itu menghadirkan pertanyaan penting: apakah penggunaan AI membuat anak lebih cepat memahami pelajaran, atau hanya lebih cepat menyelesaikan tugas?

Jawabannya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut digunakan. AI dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat, tetapi juga bisa membuat proses belajar menjadi dangkal jika siswa hanya menyalin jawaban tanpa memahami isinya.

AI Membantu Siswa Menyelesaikan Tugas Lebih Cepat

Salah satu alasan AI semakin banyak digunakan dalam pendidikan adalah kemampuannya mempercepat pekerjaan. Siswa tidak harus memulai semuanya dari halaman kosong. Mereka dapat meminta AI menjelaskan sebuah konsep, memberikan kerangka tulisan, atau membantu menemukan kesalahan dalam pekerjaan yang sudah dibuat.

Beberapa penggunaan AI yang relatif bermanfaat untuk proses belajar antara lain:

  • meminta penjelasan materi menggunakan bahasa yang lebih sederhana;
  • mencari contoh soal untuk latihan;
  • meminta pertanyaan latihan sebelum ujian;
  • memeriksa struktur tulisan;
  • mencari alternatif cara menyelesaikan suatu persoalan;
  • melakukan simulasi tanya jawab untuk memahami materi.

Pada posisi tersebut, AI berfungsi seperti alat bantu belajar. Siswa tetap perlu berpikir, memeriksa informasi, dan menyusun jawaban berdasarkan pemahamannya sendiri.

Cepat Selesai Belum Tentu Berarti Paham

Masalah muncul ketika kecepatan menjadi satu-satunya tujuan. Siswa dapat memasukkan pertanyaan ke AI, menyalin jawaban, lalu mengumpulkannya tanpa benar-benar membaca atau memahami hasilnya.

Tugas memang selesai, tetapi proses kognitif yang seharusnya terjadi selama mengerjakan tugas bisa berkurang.

Misalnya, seorang siswa mendapatkan tugas membuat esai tentang perubahan iklim. Jika ia meminta AI membuat seluruh esai lalu langsung menyalinnya, ia mungkin mendapatkan tulisan yang terlihat rapi. Namun, ketika guru bertanya mengenai alasan di balik argumen yang ditulis, siswa tersebut belum tentu mampu menjelaskannya.

Situasi tersebut menunjukkan perbedaan antara menyelesaikan tugas dan belajar dari tugas.

Risiko Ketergantungan pada AI dalam Pendidikan

Penggunaan AI tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan beberapa persoalan. Salah satunya adalah ketergantungan. Jika setiap kesulitan langsung diserahkan kepada AI, siswa memiliki lebih sedikit kesempatan untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara mandiri.

Ada pula risiko informasi yang keliru. AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi tidak selalu benar. Siswa tetap perlu membandingkan informasi dengan buku, sumber akademik, materi guru, atau sumber terpercaya lainnya.

Kemampuan berikut justru semakin penting di tengah perkembangan AI:

  • berpikir kritis, untuk menilai apakah jawaban AI masuk akal;
  • literasi digital, untuk memahami cara menggunakan teknologi secara bertanggung jawab;
  • kemampuan menulis, agar siswa mampu menyampaikan gagasannya sendiri;
  • kemampuan memecahkan masalah, bukan sekadar menemukan jawaban;
  • integritas akademik, termasuk memahami batas penggunaan AI dalam tugas sekolah.

Bagaimana AI Bisa Dipakai agar Anak Tetap Belajar?

Kuncinya bukan melarang AI sepenuhnya, tetapi mengubah cara penggunaannya. Orang tua dan guru dapat mengarahkan anak agar AI digunakan sebagai pendamping proses berpikir, bukan sebagai pengganti proses tersebut.

Sebagai contoh, daripada meminta AI membuat jawaban lengkap, siswa dapat meminta penjelasan mengenai konsep yang belum dipahami. Setelah itu, siswa mencoba menjawab sendiri dan menggunakan AI untuk mendapatkan umpan balik.

Metode lain yang dapat dilakukan adalah meminta AI memberikan pertanyaan tanpa langsung memberikan jawabannya. Siswa kemudian menjawab berdasarkan pemahamannya sendiri sebelum membandingkan hasilnya.

Pendekatan tersebut membuat teknologi tetap membantu tanpa menghilangkan kesempatan anak untuk berpikir.

Peran Guru Tetap Penting di Era AI

Teknologi tidak menghilangkan kebutuhan terhadap guru. Justru ketika informasi semakin mudah diperoleh, peran guru dalam membimbing proses berpikir menjadi semakin penting.

Guru dapat mengubah bentuk tugas agar tidak hanya menilai hasil akhir. Presentasi, diskusi, proyek, refleksi pribadi, dan pertanyaan lanjutan dapat membantu melihat apakah siswa benar-benar memahami materi.

Misalnya, setelah siswa mengumpulkan esai, guru dapat meminta mereka menjelaskan alasan memilih argumen tertentu. Cara tersebut membuat siswa tidak cukup hanya menghasilkan teks, tetapi juga harus memahami isi pekerjaannya.

Pendekatan pendidikan seperti ini juga relevan bagi calon pendidik yang nantinya menghadapi siswa di tengah perkembangan teknologi. Di Ma’soem University, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Informasi resmi FKIP Ma’soem University menunjukkan bahwa kedua program tersebut diarahkan pada pengembangan kompetensi pendidikan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan.

Bagi calon guru maupun konselor pendidikan, pemahaman mengenai perubahan perilaku belajar akibat teknologi menjadi bagian yang relevan untuk dipertimbangkan. Guru bukan hanya perlu memahami materi pelajaran, tetapi juga perlu mengetahui bagaimana membimbing siswa agar teknologi digunakan secara bertanggung jawab.

Orang Tua Bisa Membantu Membentuk Kebiasaan yang Sehat

Di rumah, orang tua dapat membuat aturan sederhana mengenai penggunaan AI. Anak misalnya diminta mencoba mengerjakan soal terlebih dahulu sebelum meminta bantuan AI. Jika menggunakan AI, mereka juga dapat diminta menjelaskan kembali jawaban yang diperoleh menggunakan kata-kata sendiri.

Kebiasaan tersebut membantu orang tua melihat apakah AI benar-benar digunakan untuk belajar atau sekadar menyelesaikan pekerjaan.

Tidak kalah penting, orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai alasan mengapa suatu jawaban dianggap benar. Percakapan semacam ini mendorong anak untuk tidak menerima informasi secara mentah.

Pendidikan Perlu Beradaptasi, Bukan Sekadar Melarang AI

AI kemungkinan akan terus menjadi bagian dari kehidupan akademik dan profesional. Karena itu, kemampuan menggunakan AI secara bijak akan menjadi salah satu bentuk literasi yang penting bagi generasi pelajar.

Tantangannya adalah memastikan teknologi memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Anak tetap perlu mengalami proses mencoba, salah, memperbaiki, bertanya, membaca, menulis, dan menyimpulkan.

Ketika AI digunakan untuk memberikan petunjuk, umpan balik, atau penjelasan tambahan, teknologi dapat memperkaya pengalaman belajar. Sebaliknya, jika AI hanya digunakan untuk menghasilkan jawaban siap kumpul, kecepatan mengerjakan tugas bisa meningkat tanpa diikuti peningkatan pemahaman.

Karena itu, ukuran keberhasilan penggunaan AI dalam pendidikan seharusnya bukan hanya berapa cepat tugas selesai, tetapi juga seberapa jauh siswa memahami apa yang mereka kerjakan.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com