AI, Sekolah Rakyat, dan Ketimpangan Pendidikan: Tantangan Pendidikan Indonesia Saat Ini

Pendidikan Indonesia sedang berada di tengah perubahan besar. Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru dalam proses belajar, sementara pemerintah menghadirkan Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin. Dua perkembangan tersebut menunjukkan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas pembelajaran, tetapi juga pemerataan kesempatan belajar.

Di satu sisi, sekolah dituntut mampu beradaptasi terhadap teknologi. Di sisi lain, masih ada peserta didik yang menghadapi hambatan ekonomi, geografis, maupun sosial untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kondisi tersebut membuat isu AI, Sekolah Rakyat, dan ketimpangan pendidikan menjadi bagian penting dari arah pendidikan Indonesia saat ini.

AI Mengubah Cara Belajar di Sekolah

Kecerdasan artifisial mulai memiliki posisi yang semakin penting dalam dunia pendidikan. Teknologi AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, memberikan alternatif aktivitas pembelajaran, menyesuaikan materi berdasarkan kebutuhan peserta didik, hingga membantu proses evaluasi.

Pemerintah juga mulai memberikan perhatian lebih serius terhadap pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan. Pada Maret 2026, pemerintah menetapkan pedoman pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta kecerdasan artifisial pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pedoman tersebut menekankan penggunaan teknologi secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi hanya dipandang sebagai teknologi untuk masa depan. Sekolah perlu mulai mempersiapkan peserta didik agar mampu menggunakan teknologi secara kritis, bukan sekadar mengandalkan hasil yang diberikan oleh mesin.

Tantangannya adalah kesiapan setiap sekolah belum tentu sama. Sekolah di perkotaan yang memiliki akses internet, perangkat digital, serta guru yang terbiasa menggunakan teknologi dapat bergerak lebih cepat. Sebaliknya, keterbatasan infrastruktur dan kompetensi digital masih dapat menjadi penghambat di sejumlah wilayah.

Sekolah Rakyat dan Upaya Memperluas Akses Pendidikan

Persoalan ketimpangan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya melalui teknologi. Anak-anak dari keluarga miskin masih membutuhkan akses terhadap sekolah yang berkualitas, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan kebutuhan dasar.

Sekolah Rakyat hadir sebagai salah satu kebijakan pemerintah untuk menjangkau kelompok tersebut. Berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 7 Tahun 2025, Sekolah Rakyat merupakan satuan pendidikan berbasis asrama dan pendidikan karakter yang menyelenggarakan pendidikan formal pada jenjang dasar dan/atau menengah bagi peserta didik dari keluarga miskin ekstrem, miskin, dan/atau rentan.

Program ini dirancang bukan untuk menggantikan sekolah yang sudah ada, melainkan melengkapi sistem pendidikan dan memperluas akses bagi anak yang belum memperoleh kesempatan belajar secara memadai. Penentuan sasaran juga menggunakan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) agar intervensi lebih tepat sasaran.

Konsep Sekolah Rakyat juga tidak hanya berorientasi pada kegiatan belajar di ruang kelas. Model asrama memungkinkan peserta didik memperoleh lingkungan pendidikan yang lebih terintegrasi, termasuk dukungan kebutuhan sehari-hari dan pembentukan karakter. Pemerintah sejak awal menempatkan program ini sebagai salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan.

Ketimpangan Pendidikan Bukan Hanya Soal Fasilitas

Ketimpangan pendidikan sering kali terlihat dari perbedaan fasilitas sekolah, akses internet, kualitas sarana, atau ketersediaan perangkat digital. Namun, persoalannya lebih luas.

Kualitas guru, dukungan keluarga, kondisi sosial ekonomi, lingkungan tempat tinggal, serta kemampuan sekolah memahami kebutuhan peserta didik turut memengaruhi pengalaman belajar. Karena itu, memberikan perangkat teknologi saja belum tentu menghasilkan pemerataan kualitas pendidikan.

Hal yang sama berlaku pada penerapan AI. Jika teknologi hanya tersedia di sebagian sekolah, kesenjangan kemampuan digital justru dapat semakin lebar. Peserta didik yang sudah memiliki akses terhadap perangkat dan sumber belajar digital akan memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan mereka yang belum memiliki fasilitas serupa.

Pemerintah telah memperluas pelatihan pembelajaran mendalam, coding, dan AI bagi guru melalui Ruang GTK pada Aplikasi Rumah Pendidikan. Program tersebut dirancang agar guru dari berbagai daerah dapat meningkatkan kompetensi tanpa harus meninggalkan sekolah untuk mengikuti pelatihan secara langsung.

Guru Tetap Menjadi Faktor Penting

Kemajuan AI tidak menghilangkan kebutuhan terhadap guru. Justru ketika teknologi semakin mudah menghasilkan informasi, peran guru dalam membimbing cara berpikir peserta didik menjadi semakin penting.

Guru perlu membantu siswa membedakan informasi yang benar dan keliru, memahami etika penggunaan AI, serta menggunakan teknologi sebagai alat belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Kemampuan komunikasi, empati, pengelolaan kelas, dan pemahaman terhadap kondisi siswa juga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh sistem AI.

Kebutuhan tersebut semakin relevan dalam konteks Sekolah Rakyat. Peserta didik yang berasal dari latar belakang ekonomi rentan membutuhkan pendekatan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada nilai akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial, psikologis, dan potensi individu.

Perguruan Tinggi Perlu Menyiapkan Tenaga Pendidikan yang Adaptif

Perubahan pendidikan juga menempatkan perguruan tinggi pada posisi penting. Kampus yang memiliki program pendidikan dapat berkontribusi menyiapkan calon guru dan tenaga kependidikan agar mampu menghadapi perkembangan teknologi sekaligus memahami persoalan sosial di sekolah.

Salah satu pilihan pendidikan tinggi swasta yang relevan dalam bidang tersebut adalah Ma’soem University. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Informasi resmi fakultas menyebutkan bahwa kedua program tersebut menjadi fokus utama FKIP.

Program Studi BK memiliki relevansi kuat terhadap kebutuhan pendidikan yang semakin kompleks. Konselor sekolah tidak hanya berhadapan dengan persoalan akademik, tetapi juga perkembangan pribadi, sosial, dan arah karier peserta didik. Kompetensi seperti ini penting ketika sekolah berhadapan dengan siswa dari latar belakang dan kebutuhan yang beragam.

Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berperan dalam menyiapkan calon pendidik yang memiliki kompetensi bahasa sekaligus kemampuan pedagogis. Penguasaan bahasa asing juga dapat menjadi modal bagi peserta didik untuk mengakses sumber pengetahuan global, termasuk perkembangan teknologi dan riset pendidikan.

Tantangan Pendidikan Indonesia ke Depan

Penggunaan AI dan pengembangan Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa pemerataan pendidikan membutuhkan lebih dari satu pendekatan. Teknologi dapat memperluas sumber belajar, tetapi harus ditopang akses internet dan perangkat yang memadai. Sekolah Rakyat dapat membuka kesempatan pendidikan bagi kelompok rentan, tetapi kualitas guru, fasilitas, serta keberlanjutan program tetap menjadi perhatian.

Beberapa hal yang menjadi tantangan penting antara lain:

  • pemerataan akses internet dan perangkat digital;
  • peningkatan kompetensi guru dalam memanfaatkan AI;
  • perlindungan data dan keamanan peserta didik;
  • literasi digital agar siswa tidak bergantung secara berlebihan pada AI;
  • pemerataan kualitas tenaga pendidik;
  • dukungan psikologis dan sosial bagi peserta didik;
  • ketepatan sasaran program pendidikan bagi keluarga miskin dan rentan.

Pada akhirnya, transformasi pendidikan perlu memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak hanya dinikmati oleh siswa yang sudah memiliki akses terbaik. AI seharusnya menjadi alat untuk memperkecil kesenjangan, sedangkan program seperti Sekolah Rakyat perlu menjadi bagian dari upaya memperluas kesempatan belajar. Keduanya membutuhkan guru yang kompeten, institusi pendidikan yang adaptif, serta kebijakan yang konsisten agar peningkatan kualitas pendidikan dapat dirasakan lebih merata.

Informasi Ma’soem University

Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com