Alasan di Balik Standar Higienitas dan Aturan Ketat Penggunaan Jas Laboratorium bagi Mahasiswa Pangan

Bagi mahasiswa baru di Jurusan Teknologi Pangan, memasuki laboratorium sering kali terasa seperti memasuki ruang operasi rumah sakit. Ada sederet protokol ketat yang harus dipatuhi: mulai dari kewajiban mengenakan jas laboratorium yang bersih, larangan menggunakan perhiasan, hingga keharusan mencuci tangan dengan standar tertentu. Aturan ini bukan sekadar formalitas akademik atau upaya untuk terlihat profesional, melainkan bentuk implementasi nyata dari prinsip keamanan pangan yang sangat krusial.

Di Universitas Ma’soem, kedisiplinan di laboratorium adalah bagian dari pembentukan karakter. Mahasiswa dididik untuk memahami bahwa dalam industri pangan, kesalahan kecil dalam prosedur higienitas dapat berdampak fatal bagi kesehatan konsumen luas. Berikut adalah alasan mendalam di balik ketatnya standar tersebut.

1. Jas Laboratorium sebagai Baris Pertahanan Pertama

Jas laboratorium berwarna putih bukan sekadar seragam identitas. Fungsi utamanya adalah sebagai alat pelindung diri (APD) yang bersifat dua arah:

  • Melindungi Mahasiswa: Laboratorium pangan sering kali melibatkan bahan kimia analisis (seperti asam kuat pada uji protein) atau pemanas suhu tinggi. Jas laboratorium berbahan katun tebal melindungi kulit dan pakaian sehari-hari dari percikan zat berbahaya.
  • Melindungi Sampel Pangan: Pakaian yang kita kenakan dari luar rumah membawa debu, serat kain, dan mikroorganisme yang tak kasat mata. Dengan mengenakan jas laboratorium yang hanya digunakan di dalam ruangan, mahasiswa meminimalisir risiko kontaminasi silang dari lingkungan luar ke sampel produk pangan yang sedang diteliti.

2. Larangan Perhiasan dan Aksesori: Keamanan Mikrobiologis dan Fisik

Mungkin terdengar sepele, namun larangan mengenakan cincin, jam tangan, atau anting saat praktikum memiliki alasan ilmiah yang kuat. Perhiasan merupakan tempat bersembunyi yang ideal bagi bakteri dan kotoran yang sulit dijangkau saat mencuci tangan.

Selain itu, dalam industri pangan dikenal istilah Physical Hazard (Bahaya Fisik). Sekrup kecil dari jam tangan atau batu cincin yang terlepas dapat jatuh ke dalam adonan atau produk olahan. Dalam skala industri, hal ini dapat menyebabkan penarikan produk massal (product recall) yang merugikan perusahaan secara finansial dan merusak reputasi merek.

3. Protokol Higienitas Tangan dan Penutup Kepala

Tangan adalah vektor utama penyebaran kontaminasi. Mahasiswa pangan diajarkan teknik mencuci tangan yang benar sesuai standar industri, bukan sekadar membasuh dengan air. Penggunaan penutup kepala (hairnet) juga wajib karena rambut manusia merupakan sumber kontaminasi fisik dan biologi yang paling sering ditemukan dalam makanan.

Di laboratorium Universitas Ma’soem, kebiasaan ini ditanamkan agar mahasiswa memiliki “insting higienitas”. Harapannya, saat mereka lulus dan bekerja di perusahaan besar seperti PT Indofood atau Nestle, mereka sudah terbiasa dengan standar Good Manufacturing Practices (GMP) yang jauh lebih ketat.


4. Menghindari Kontaminasi Silang antar Sampel

Laboratorium pangan sering kali menguji berbagai jenis bahan, mulai dari bahan mentah hingga produk jadi. Aturan ketat mengenai penggunaan alat yang berbeda untuk setiap sampel bertujuan mencegah kontaminasi silang, terutama terkait alergen. Sebagai contoh, sisa residu kacang pada alat yang tidak dicuci bersih dapat membahayakan konsumen yang memiliki alergi parah jika alat tersebut digunakan kembali untuk mengolah produk lain.

5. Pembentukan Karakter “Pinter dan Bageur” di Laboratorium

Standar tinggi di laboratorium sangat selaras dengan filosofi “Pinter dan Bageur” yang diusung oleh Universitas Ma’soem.

  • Pinter (Cerdas): Mahasiswa harus cerdas dalam memahami prosedur teknis dan alasan ilmiah di balik setiap aturan higienitas.
  • Bageur (Berperilaku Baik/Integritas): Mematuhi aturan laboratorium saat tidak diawasi adalah bentuk integritas. Seorang calon ahli pangan harus memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan produk yang tidak hiegenis lolos ke tangan konsumen. Karakter jujur dan disiplin inilah yang membuat lulusan Ma’soem sangat dihargai di dunia kerja.

Ketatnya aturan di laboratorium Teknologi Pangan adalah simulasi nyata dari dunia kerja industri pangan yang sebenarnya. Jas laboratorium, penutup kepala, dan protokol sanitasi adalah simbol dari tanggung jawab seorang teknolog pangan dalam menjamin kesehatan publik.

Bagi mahasiswa, mematuhi aturan ini adalah langkah awal untuk menjadi profesional yang kompeten. Dengan menjunjung tinggi standar higienitas sejak masa kuliah di Universitas Ma’soem, Anda sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari industri global yang mengutamakan keselamatan dan kualitas di atas segalanya.